Sunday, 13 Syawwal 1440 / 16 June 2019

Sunday, 13 Syawwal 1440 / 16 June 2019

Resonansi

Berbahasa tanpa Tanggung Jawab

Sabtu 02 Mar 2013 07:00 WIB

Red: M Irwan Ariefyanto

Asma Nadia

Asma Nadia

Foto: Republika/Daan

REPUBLIKA.CO.ID,oleh: Asma Nadia

Di layar televisi, seorang bayi terbaring kritis dengan bagian kepala diperban. Ada keterangan teks “Korban Peluru Nyasar” berdampingan dengan gambar bayi yang terluka tersebut.

Saat itu, karena posisi televisi agak jauh, dari gambar visual saya hanya bisa menangkap informasi, sebutir peluru nyasar menyebabkan seorang bayi menjadi korban. Namun, hingga akhir berita tidak ada keterangan lebih detail siapa pelakunya. Penjahatkah? Aparatkah?

Tiba-tiba saja hati saya tersentak menyadari betapa “berbahayanya” tradisi pemakaian bahasa kita, yang terbiasa menghilangkan subjek pelaku, nyaris untuk semua kejadian. Ketika terjadi banjir, berita yang muncul adalah “Jakarta Kebanjiran”. Hanya ada peristiwa, tidak ada yang dituntut untuk bertanggung jawab.

Jika kita menerima sebuah surat lewat pos, yang sebenarnya ditujukan untuk orang lain, maka penjelasan yang terdengar adalah “salah kirim”. Tidak jelas siapa yang salah. Dan, seperti sebuah kejadian yang lumrah, kita akan menerima begitu saja penjelasan tersebut.

Dalam kasus lain, saat menghadiri seminar dan mendapati suara loudspeaker yang kadang muncul kadang hilang, maka MC atau moderator dengan serta merta berujar, “Maaf ada kesalahan teknis!”

Apakah benar kesalahan teknis? Siapa itu teknis, mengapa benda mati yang disalahkan?

Padahal, hilang atau tidak jelasnya suara dalam seminar terjadi karena salah pihak teknisi atau panitia yang menangani sound system. Artinya, jika mau dirunut maka dengan mudah akan ditemukan siapa yang seharusnya bertanggung jawab.

Penghilangan subjek dalam berbahasa ini secara tidak sadar membuat anak bangsa terbiasa lepas dari tanggung jawab. Dengan mudah menyampaikan suatu peristiwa buruk tanpa menganggap penting untuk memikirkan siapa yang bertanggung jawab.

Berbeda jika MC atau moderator dalam seminar di mana terjadi gangguan sound system menjelaskan, “Mohon maaf karena ada kesalahan teknis atau panitia bagian sound system maka suara menjadi tidak nyaman didengar.” Tentu saja di waktu mendatang sang teknisi dan panitia akan bekerja lebih keras.

Jika berita-berita tentang banjir setiap tahun ditulis “Pemerintah Gagal Lagi Mengatasi Banjir”, mungkin pemerintah akan lebih termotivasi untuk berubah karena gerah diberitakan secara gencar lewat media cetak/elektronik, yang jelas-jelas menyebutkan siapa yang seharusnya bertanggung jawab terhadap banjir yang terus terjadi.

Dalam bahasa Inggris, ketika seseorang mengalami patah kaki, kalimat yang disampaikannya, “I broke my leg”. Ada nuansa sayalah yang sedikit banyak bertanggung jawab terhadap patah kaki tersebut. Berbeda dengan ungkapan dalam bahasa Indonesia yang biasa kita pilih, yang hanya menyebutkan, “Kaki saya patah.”

Menyadari pemakaian bahasa yang kurang bijak dan bertanggung jawab ini, seorang sahabat baik membiasakan berbicara dengan subjek yang jelas dalam lingkungan keluarga maupun usaha kecil yang tengah mereka bangun.

Jika terjadi kesalahan pengiriman barang di kantor maka karyawan tidak akan mengatakan, “Pak/Bu ada salah kirim”, tetapi menggunakan kalimat, “Mohon maaf, Pak/Bu saya salah kirim.”

Jika ada karyawan yang terlambat, kalimat yang biasanya diucapkan “Maaf macet” diubah menjadi “Maaf saya salah mengantisipasi waktu terkait macet.” Termasuk, keseharian keluarga kecil mereka.

Penyebutan subjek dalam peristiwa melatih anak-anak belajar bertanggung jawab juga tidak sungkan meminta maaf. Tidak terkecuali untuk orang tua yang secara de facto memiliki peran untuk mengatur. Selain itu, membiasakan setiap anggota keluarga untuk menilai segala sesuatu dengan menyeluruh dan bukan hanya melihat sebagian kecil dari sebuah peristiwa. Sebab, pemilihan penggunaan kata-kata dalam berbahasa menunjukkan kualitas kepribadian seseorang. Sikap berani, tanggung jawab, dan kebesaran hati. Juga kejernihan menghadirkan satu peristiwa secara utuh.

Waktunya adalah untuk mengajak diri dan keluarga serta siapa saja lebih berani bertanggung jawab. Hijrah dari tradisi berlindung di balik sederet kata-kata tanpa subjek, membuat kita alih-alih maju, malah merasa aman untuk berjalan di tempat.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA