Sunday, 19 Zulhijjah 1441 / 09 August 2020

Sunday, 19 Zulhijjah 1441 / 09 August 2020

Mari Puasa dari Bohong

Selasa 24 Jul 2012 01:39 WIB

Red: M Irwan Ariefyanto

Ikhwanul Kiram Mashuri

Ikhwanul Kiram Mashuri

Foto: Republika/Daan

REPUBLIKA.CO.ID,Bisakah kita selama sebulan penuh Ramadhan untuk tidak berbohong, selain tidak makan dan minum? Bisakah para politikus kita selama bulan Ramadhan ini jujur, sejujur-jujurnya bahwa mereka terjun di dunia politik—baik sebagai eksekutif, legislatif, ataupun yudikatif — adalah untuk mengabdi dan melayani masyarakat? Bukan untuk kepentingan memperkaya diri sendiri, keluarga, dan para kolega? Dapatkah para birokrat kita jujur, sejujur-jujurnya kepada diri sendiri bahwa me reka adalah para pelayan masyarakat?

Bisakah kita jujur pada diri sendiri bahwa persoalan bangsa dan negara ini sangat banyak, karena itu membutuhkan pemimpin-pemimpin yang berkualitas? Dapatkah para pejabat kita jujur bahwa mereka tidak mampu menangani kemacetan, kekeringan, kebakaran, dan menangani harga harga kebutuhan pokok sehari hari yang terus merangkak kemudian menyengsarakan rakyat?

Bisakah para pejabat kita jujur untuk hanya memberi nafkah kepada keluarga, anak anak, dan istri/suami, hanya dengan gaji? Tidak memberi makan dan minum serta kesejahteraan lainnya kepada anggota keluarga dari uang haram? Dapatkah para anggota legislatif kita membuat undang undang benar-benar untuk kepentingan rakyat, dan bukan kepentingan diri sendiri ataupun kelompok? Manusia dilahirkan ke dunia memang banyak kemauan dan keinginan. Keinginan untuk berkuasa. Keinginan menumpuk kekayaan.

Keinginan terhadap jabatan dan kehormatan. Dan, keinginan-keinginan lainnya. Ya, keinginan dan kemauan. Keinginan dan kemauan memang diperlukan. Tanpa keinginan dan kemauan, apa jadinya kehidupan ini. Namun, keinginan dan kemauan ini jangan sampai jatuh menjadi syahwat atau rakus. Yaitu keinginan dan kemauan yang berlebihan. Syahwat dan rakus inilah yang justru merusak kehidupan. Yang berkuasa ingin melanggengkan kekuasaannya.

Kalau bisa hingga meninggal dunia pun dalam keadaan tetap berkuasa, meskipun ia sebenarnya tak mampu menyejahterakan rakyat. Yang lagi menjabat ingin memperpanjang jabatannya, walaupun jabatannya bukan untuk melayani masyarakat. Yang kaya ingin terus menumpuk kekayaan. Kalau bisa diturunkan ke anak-cucu hingga keturunan ketujuh, meskipun kekayaan itu harus diperoleh dengan cara-cara haram.

Lalu, apa jadinya kehidupan ini bila diisi oleh mereka yang rakus dan mempunyai syahwat seperti itu? Indonesia yang merupakan negara subur makmur gemah ripah lohjinawi, namun rakyatnya banyak yang miskin juga lantaran para pimpinannya tidak jujur. Alias sering berbohong. Mereka sangat rakus. Rakyat hanya untuk atas nama, tapi sejatinya atas nama kepentingan diri sendiri, keluarga, dan kelompok.

Kepentingan syahwat kekuasaan, syahwat menumpuk kekayaan, dan atas nama syahwat untuk memperoleh dan melanggengkan jabatan. Rakyat hanya dijadikan objek dan bukan subjek. Dunia penuh ketegangan juga lantaran syahwat seperti itu. Di Suriah, rezim Presiden Bashar al-Assad rela membunuh ribuan rakyatnya hanya untuk melanggengkan kekuasaannya. Bangsa Palestina tidak kunjung merdeka lantaran dijadikan komoditas politik oleh para pemimpin dunia.

Juga karena pemimpin Palestina sendiri dikuasai egonya sendiri, yang kemudian mempersulit untuk bersatu. Di Mesir, kepentingan para kelompok lebih menonjol daripada kepentingan nasional. Umat Islam Rohingya, Myanmar, yang minoritas menjadi bulan-bulanan kekerasan suku dan agama mayoritas karena pemimpin dunia Islam tidak memiliki solidaritas kemanusiaan.

Intinya, dunia Islam, termasuk Indonesia, rakyatnya menjadi miskin, tertinggal, bodoh, dan kurang berpendidikan lantaran para pemimpinnya yang tidak becus. Para pemimpinnya telah dirasuki syahwat kepentingan dirinya sendiri, dan bukan kepentingan rakyat. Sekali lagi rakyat hanya dijadikan atas nama. Karena itulah syahwat harus dikendalikan. Keinginan yang berlebihan harus dibatasi. Baik keinginan terhadap kekuasaan, keinginan terhadap jabatan, maupun keinginan untuk menumpuk harta benda atau kekayaan. Ambisi boleh, tapi jangan sampai menjadi ambisius.

Itulah barangkali mengapa Allah SWT menjadikan satu bulan Ramadhan sebagai bulan puasa. Hanya satu bulan di antara 12 bulan/setahun. Puasa bukan hanya tidak makan dan minum. Namun juga puasa untuk tidak berbohong. Baik bohong pada diri sendiri, keluarga, tetangga, maupun bangsa dan negara. Puasa untuk mengendalikan diri agar tidak melakukan perbuatan tercela. Atau dengan kalimat yang sederhana, bisakah kita hidup selama sebulan dalam setahun tanpa membohongi dan menipu diri sendiri dan orang lain?

Hikmah puasa, antara lain, agar kita bisa melepaskan diri dari segala rakus serta syahwat hewani dan bukan hanya menahan lapar dan haus. Selamat menjalankan ibadah puasa. Kullu sanah wa antum bi khoirin!

sumber : resonansi
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA