Tuesday, 14 Sya'ban 1441 / 07 April 2020

Tuesday, 14 Sya'ban 1441 / 07 April 2020

Heboh Mukena Syahrini: Merayakan Hari Raya dengan Belanja

Selasa 04 Jun 2019 01:04 WIB

Red: Joko Sadewo

Nur Aini

Nur Aini

Foto: dok. Republika
Merayakan Hari Raya dengan Belanja tidak hanya dilakukan kelas menengah.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Nur Aini*

Menjelang Hari Raya Idul Fitri, penyanyi Syahrini menjual mukena dengan harga Rp 3,5 juta per potong. Harga yang mahal untuk sepotong mukena bila dibandingkan dengan yang biasa dijual di Pasar Tanah Abang, Jakarta. Dengan label eksklusif dan berlapis emas, mukena Syahrini laku 5.000 potong dalam sekejap. Jika sebelumnya Syahrini heboh dengan penampilan, kini penjualan mukenanya pun menghebohkan.

Penjualan mukena Syahrini yang laris manis itu tentu tidak lepas dengan kebiasaan belanja menjelang Lebaran masyarakat Indonesia. Semakin Ramadhan mendekati Lebaran, masyarakat menyemut di pusat perbelanjaan. Pengusaha menawarkan diskon hingga tengah malam demi mengumpulkan lebih banyak cuan. Fenomena itu juga sampai di sosial media. Penawaran baju Lebaran bermunculan di Instagram. Netizen rebutan untuk mendapatkan baju Lebaran idaman.

Sebelum nyinyir soal Lebaran jadi momen pemborosan dan makna Idul Fitri terdegradasi, ada baiknya melihat siapa yang memiliki kebiasaan merayakan hari raya dengan belanja. Siapa yang mau dan mampu membeli mukena Syahrini Rp 3,5 juta per potong? Dari harganya, mudah sekali menebak mereka yang mau dan mampu membeli berasal dari kelompok kelas ekonomi menengah ke atas. Fenomena membeli mukena mahal hanya untuk gengsi sebagai upaya mendapat konfirmasi sebagai kelas menengah baru (sering juga dipakai istilah: kelas menengah ngehe) adalah gambaran irasional dalam ekonomi. Mereka ingin mendapatkan kepuasan diri dengan konsumsi. Ada juga yang membeli karena ingin berpenampilan layaknya Syahrini dengan berharap bisa mewakili representasi diri.

Konsumsi yang irasional ini disadari oleh para pelaku ekonomi. Sebagian memilih menarik pembeli dengan iming-iming diskon. Sebagian yang lain memilih melabeli produknya ekslusif, tanpa diskon dengan harga fantastis. Strategi penjualan itu mestilah ditambah dengan momentum, yaitu menjelang Lebaran, saat kelas pekerja menengah mendapatkan tambahan pendapatan dari tunjangan hari raya. Satu hal lagi yang akan membuat strategi itu manjur, sasar pasar perempuan.

Perempuan adalah sasaran empuk untuk praktik tipu daya pasar. Hal yang selama ini kemudian menjadi bahan stigmatisasi terhadap perempuan: matre dan senang belanja. Padahal, seperti yang disampaikan pemikir, Simone de Beauvoir, perempuan dibentuk sedemikian rupa sehingga seperti tuduhan: matre dan senang belanja.

Apakah hanya kelas menengah yang berbelanja menjelang hari raya? Tentu tidak, hampir seluruh kelas masyarakat kalau ada uang, berbelanja menjelang hari raya. Hanya saja, fenomenanya berbeda. Lebaran bagi kelas masyarakat pinggiran yang kerap terpinggirkan adalah momen paling dinantikan. Mereka yang bekerja dengan gaji tak lebih dari UMR bisa berharap mendapatkan THR sebagai tambahan pendapatan. Jika selama ini gaji hanya bisa menutup kebutuhan sehari-hari, THR adalah harapan untuk menyambung silaturahim dan bisa membeli baju baru setahun sekali.

Bagi kelas pinggiran, mukena Syahrini tidak akan mampu dibeli. Mereka akan lebih memilih berbelanja untuk tiket transportasi yang semakin tinggi yang nyaris tak terbeli. Mereka juga akan membeli roti, bekal silaturahim saat pulang kampung nanti. Jika masih ada sisa, mereka akan membeli baju baru, hal yang bisa jadi mereka lakukan setahun sekali. Sekali saja saat Lebaran. Momen Lebaran dengan belanja bagi mereka adalah suka cita. Membeli baju baru bukan hal yang bisa mereka lakukan sehari-hari, tapi hanya setahun sekali. Baju yang mereka beli bukan mukena Syahrini.

Setelah merayakan hari raya dengan belanja, kelas menengah baru maupun kelas pinggiran akan menjalani hari-hari biasa lagi. Mereka akan kembali bekerja untuk mendapatkan tambahan pendapatan demi bertahan setahun ke depan. Sementara, Syahrini dan pelaku ekonomi lainnya, tinggal menikmati untung tinggi, tidak repot dengan kebutuhan hidup sehari-hari, dan menyiapkan strategi jualan untuk Lebaran lagi.
 
*) Penulis adalah redaktur republika.co.id

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA