Selasa, 18 Sya'ban 1440 / 23 April 2019

Selasa, 18 Sya'ban 1440 / 23 April 2019

Performa Debat Gaya Apresiasi Prabowo

Senin 18 Feb 2019 13:29 WIB

Red: Sammy Abdullah

Abdullah Sammy

Abdullah Sammy

Foto: Republika/Daan Yahya
Debat bukan sarana untuk melontarkan pujian

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Abdullah Sammy*

Mengecewakan. Penilaian ini jamak diberikan pada calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto saat debat calon presiden yang digelar Ahad (18/2). Penilaian ini berdasarkan sejumlah sisi yang ditunjukkan Prabowo dalam debat berdurasi sekitar 90 menit itu.

Sebagai calon penantang, Prabowo boleh dikata gagal menunjukkan sisi kritisnya. Sebaliknya, Prabowo malah memberi stampel apresiasi bagi sejumlah program yang dipamerkan oleh sang pejawat, Jokowi.

Saya mencatat, Prabowo memberi enam kali kata apresiasi bagi Jokowi. Tiga kali kata apresiasi di bidang lingkungan, dua kali menyangkut isu infrastruktur, dan sekali tentang energi.

Prabowo lantas menjelaskan bahwa dirinya secara jujur mengakui keberhasilan dan itikad baik pemerintah, tapi juga mengkritisi jika ada kebijakan yang keliru. Sekilas, ucapan itu mencitrakan Prabowo yang kalem dan jauh dari kesan garang.

Namun pernyataan Prabowo itu malah tak sesuai dengan substansi sebuah perdebatan. Jika dipakai analogi sepak bola, Prabowo mencetak gol bunuh diri ke gawang sendiri.

Apa yang dilakukan Prabowo mengingatkan pada sebuah peristiwa yang terjadi pada debat presiden Amerika 1960 yang mempertemukan Jhon F Kennedy dengan Richard Nixon. Usai Kennedy menyampaikan kata pembukanya, Nixon menyampaikan apresiasi dan kata setuju pada pernyataan Kennedy. 

"I subscribe completely to the spirit that Senator Kennedy has expressed tonight. (Saya menyetujui sepenuhnya semangat yang diekspresikan senator Kennedy),” ujar Nixon.

Kata itulah yang dinilai jadi blunder Nixon. Pemilih menganggap Nixon yang secara usia lebih matang dan dicitrakan sebagai tokoh berpengalaman, malah larut dalam ide sang lawan yang awalnya dianggap masih hijau untuk maju ke kursi presiden.

Dengan konteks yang hampir sama, Prabowo malah mematahkan citranya sendiri sebagai penantang yang menawarkan ide baru. Dengan kata apresiasinya itu Prabowo tak memberikan alasan kepada pemilih untuk memilihnya.

Hakikat Perdebatan bukanlah untuk memberi apresiasi. Forum perdebatan adalah forum untuk mengadu solusi.

Kalau mau memberi apresiasi, forumnya bukan di situ. Ini bukan acara temu penggemar. Berdebat adalah saling mengadu pandangan yang berbeda untuk dicari mana solusi terbaik bagi bangsa.

Orkes setuju yang dimainkan Prabowo malah membuat kita de javu pada suasana politik di Orde Baru. Uniknya karakter Prabowo ini berbanding terbalik dengan apa yang ditunjukkan di luar forum debat.

Di luar forum, Prabowo malah terlihat garang. Dalam sejumlah kesempatan di hadapan pendukungnya, Prabowo tak segan mengkritik dan menyindir Jokowi. Tapi saat bertemu di forum debat resmi, gestur itu berubah jadi layu.

Di sisi lain, Jokowi malah terlihat menampilkan gaya agresif saat berdebat. Jokowi tak segan untuk mengkritik pribadi Prabowo yang berbicara soal lahan untuk rakyat kecil, namun justru memiliki lahan yang luas di Kalimantan dan Aceh.

Sekalipun personal, serangan Jokowi itu terbukti efektif untuk menunjukkan inkonsistensi Prabowo dalam berucap dan bertindak. Walhasil, debat semalam jadi mengesankan sosok Prabowo yang inkonsisten, tidak kritis, dan minim solusi.

Sisi ketidakkonsistenan Prabowo terlihat dari gesturnya yang jauh berbeda saat di luar dan di dalam forum debat. Di luar forum mengkritisi, tapi di dalam forum malah memuji.

Prabowo juga minim perspektif dan solusi. Padahal selama ini Prabowo senantiasa menunjukkan citranya yang menguasai banyak sumber literasi yang menjadi landasan seorang pemimpin yang kaya perspektif.

Sebaliknya Jokowi kerap diserang lawannya sebagai sosok yang hanya gemar membaca komik Doraemon. Tapi yang terbukti dalam forum debat itu malah sebaliknya.

Ucapan Prabowo begitu kering refrensi dan data bagi seorang yang dicitrakan gemar membaca. Bahkan Prabowo sempat tidak yakin tentang apa yang dimaksud tentang unicorn. Bagi orang yang gemar membaca referensi literasi masa kini, agak mustahil asing dengan istilah tersebut.

Jokowi yang dikritik hanya gemar baca komik, malah lebih ciamik. Walau tak semua data yang disajikan akurat, namun Jokowi dengan dia berhasil menunjukkan dirinya paham kondisi. Malam itu Jokowi mampu menunjukkan bahwa dia lebih siap dan banyak membaca ketimbang Prabowo.

Prabowo juga menunjukkan karakter yang tidak kritis. Padahal kekritisan adalah salah satu tolok ukur kapasitas kepemimpinan. Saat pemimpin tidak kritis, maka risiko 'dikerjai' anak buah menjadi bayarannya. Sisi tidak kritisnya Prabowo itu bisa dilihat pada kasus Ratna Sarumpaet. Saat debat pun, data yang tidak akurat yang disajikan Jokowi soal kebakaran hutan saja malah dipuji Prabowo.

Sisi yang paling fatal dalam perdebatan semalam adalah kegagalan Prabowo menujukkan garis difrensiasi yang tegas pada Jokowi. Difrensiasi yang ditunjukkan Prabowo hanya normatif lewat kata-kata yang datar. 

Padahal dalam sejarah politik, perubahan hanya bisa hadir saat seseorang penantang bisa mengkritik dan menawarkan difrensiasi yang tegas dengan sang status quo. Saat penantang gagal memberi difrensiasi yang tegas, maka perubahan menjadi sebuah hal yang mustahil. Sebab apa yang perlu diganti jika penantangnya tak menawarkan solusi berbeda?

Kalau kita nilai secara fair penampiilan Prabowo semalam jauh lebih buruk dibanding debat pertama. Sebaliknya, performa Jokowi jauh lebih baik.

Kalau kondisi ini ditelaah secara lebih sederhana terlihat bahwa Prabowo jadi lebih buruk tanpa kehadiran Sandiaga Uno. Sedangkan, Jokowi malah lebih baik saat tampil tanpa Maruf Amin.

Kondisi di atas nyatanya juga mencerminkan kecenderungan elektoral pasangan 01 dan 02. Sebab sejatinya, sisi elektoral 01 dan 02 malah naik dan turun ketika dipasangkan dengan wapres mereka masing-masing.

Karenanya, jadi lazim jika pasangan 02 lebih menonjolkan sosok Sandi ketimbang Prabowo. Sebaliknya, pasangan 01 menonjolkan sosok Jokowi sendiri.

Apapun itu, harus diakui bahwa debat sesi kedua ini dimenangkan secara cukup meyakinkan oleh Jokowi. Masih ada tiga kali sesi debat yang akan digelar KPU. Namun jika Prabowo kembali menunjukkan kualitas performa debat yang sama, rasanya forum ini hanya buang-buang uang dan waktu saja. 

Lebih baik KPU mengganti judul debat dengan tajuk 'acara ramah tamah capres 02 kepada 01'.

* Penulis adalah redaktur Republika

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA