Saturday, 15 Sya'ban 1440 / 20 April 2019

Saturday, 15 Sya'ban 1440 / 20 April 2019

Seleksi PTN dan Kegugupan Siswa Melanjutkan Masa Depan

Sabtu 16 Feb 2019 01:07 WIB

Red: Joko Sadewo

Ujian SNMPTN (ilustrasi)

Ujian SNMPTN (ilustrasi)

Foto: Republika/Prayogi
Orang tua bisa memposisikan diri sebagai teman.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Ratna Puspita*

Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi memutuskan mengundur waktu penutupan pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2019. Pendaftaran yang seharusnya ditutup pada Kamis, 14 Februari 2019, hari ini diundur hingga Ahad, 17 Februari 2019.

SNMPTN merupakan jalur seleksi masuk perguruan tinggi negeri tanpa tes tertulis. Jalur SNMPTN ini juga sering dikenal dengan sebutan jalur undangan.

Kuota yang diberikan untuk jalur SNMPTN pada 2019 adalah 20 persen dari total kuota per universitas. Adanya kuota ini membuat akreditasi sekolah juga menjadi bahan pertimbangan. Untuk bisa mengikuti ujian SNMPTN, siswa harus mendaftar ke panitia SNMPTN melalui sekolah, yang biasanya dilakukan oleh guru BK.

Seleksi ini memperhitungkan nilai rapor atau prestasi selama sekolah termasuk yang non-akademik sebagai nilai tes ujian masuk. Karena itu, sekolah kemungkinan besar akan mengusulkan siswa yang memiliki nilai akademik tertinggi. Minimal, berada di peringkat tiga teratas.

Karena itu, bisa dibayangkan siswa-siswa yang sudah mendapatkan kesempatan untuk mendaftar mungkin dilanda kepanikan ketika pendaftaran SNMPTN sempat mengalami kendala. Jika menilik unggahan di media sosial maka ada banyak keluhan siswa lantaran laman SNMPTN sulit diakses.

LTMPT beralasan server menjadi berat karena ratusan ribu siswa menyelesaikan pendaftaran serentak. LTMPT pun menjanjikan penambahan server agar masalah itu teratasi. Solusi lainnya, waktu pendaftaran diundur.

Kepanikan tidak hanya melanda siswa-siswa yang mendaftar, tetapi juga mereka yang tidak dianggap eligible untuk mendaftar seleksi PTN lewat jalur tanpa ujian tertulis alias undangan ini. Sebagian dari mereka menjadi cemas dengan masa depannya yang sebenarnya memang penuh ketidakpastian.

Siswa yang tidak didaftarkan untuk mengikuti SNMPTN bisa mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Sisi terangnya, SBMPTN tidak memperhitungkan akreditasi sekolah dan prestasi siswa. Sisi gelapnya, ada tes tertulis yang menuntut kemampuan dan usaha dalam mengerjakan ujian.

Jalur terakhir yang tersedia, yakni jalur mandiri. Misalnya, Universitas Indonesia memiliki jalur seleksi mandiri bernama Seleksi Masuk Universitas Indonesia (SIMAK UI). Seleksi mandiri ini berbeda di setiap PTN. Ada yang mengharuskan ujian tertulis, ada yang berdasarkan hasil SBMPTN.

Dengan kondisi tersebut, selain ketegangan soal masa depan setelah lulus SMA, bisa jadi ada dua ketegangan yang dialami oleh siswa. Pertama, ketegangan harus menghadapi ujian tertulis. Kedua, ketegangan harus menghadapi persaingan dengan ribuan orang lain.

Ketegangan-ketegangan lain yang mungkin muncul tentu bervariasi tergantung pada latar belakang si siswa. Siswa bisa saja tegang lantaran orang tuanya sudah mencurahkan segara materi untuk membuatnya ikut les macam-macam demi meningkatkan pengetahuannya.

Siswa bisa saja tegang lantaran tekanan orang-orang terdekat yang sukses masuk PTN. Siswa bisa saja tegang lantaran ucapan-ucapan guru yang membuat motivasi hilang. Yang juga sangat mungkin membuat siswa semakin tegang adalah media sosial.

Media sosial adalah cara berkomunikasi masa kini. Remaja kerap bertukar pesan lewat media sosial mulai dari media sosial berjaringan seperti Instagram dan Twitter hingga media sosial berbasis percakapan seperti Whatsapp dan Line.

Media sosial menawarkan ruang ‘pelarian’ bagi remaja. Direktur Laboratorium Penelitian Psikoterapi dan Emosi di Pusat Anxiety dan Disorder Terkait di Universitas Boston, Amerika Serikat, Stefan G Hofmann, menjelaskan komunikasi termediasi komputer menawarkan beberapa fitur utama yang mungkin menarik bagi individu.

Fitur utama itu seperti komunikasi berbasis teks dengan sinyal suara dan visual yang minim. “Anonimitas, dan asinkronisitas seperti tidak ada kebutuhan mendesak untuk merespons,” kata Hoffman dilansir Psychology Today pada 13 Februari 2019.

Di sisi lain, media sosial juga dapat memperburuk tekanan yang dirasakan oleh siswa untuk medapatkan pencapaian tertentu. Sebab, di media sosial, remaja akan mudah mendapatkan contoh-contoh sukses dibandingkan menerima kegagalan. Akibatnya, hal itu akan membuat mereka untuk membandingkan diri mereka dengan contoh sukses tersebut.

Lalu, apa yang bisa dilakukan orang dewasa dalam hal ini? Saya mencoba menempatkan diri saya pada posisi mereka. Tentu akan lebih menyenangkan jika orang tua bisa menjadi teman dalam kondisi ini. Teman yang bisa mendengarkan keluh-kesah di sekolah. Teman yang akan mengapreasiasi apa yang sudah dilakukan oleh para siswa. Termasuk, hal yang juga krusial adalah mengendurkan tekanan dan keharusan lolos PTN.

Saya juga membayangkan bahwa siswa tidak ingin guru di sekolah mengumumkan nilainya di hadapan kelas. Sebab, jelek atau bagus, nilai adalah privasi yang tidak perlu diumbar oleh orang lain, kecuali siswa mengizinkan. Saya juga berharap guru lebih memilih kata-kata yang tidak menurunkan kepercayaan diri ketika berbicara kenyataan.

*) Penulis adalah redaktur republika.co.id

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA