Jumat, 12 Jumadil Awwal 1440 / 18 Januari 2019

Jumat, 12 Jumadil Awwal 1440 / 18 Januari 2019

Kala Sepak Bola Asia Kembali Berpesta tanpa Indonesia

Selasa 08 Jan 2019 05:51 WIB

Red: Endro Yuwanto

endro yuwanto

endro yuwanto

Sepak bola Indonesia saat ini pun masih berkutat dengan banyaknya skandal.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Endro Yuwanto *)

Piala Asia 1996, Uni Emirat Arab (UEA). Timnas Indonesia besutan Danurwindo berada di Grup A bersama tuan rumah UEA, Kuwait, dan Korea Selatan (Korsel). Sekilas terlihat itu grup 'neraka'. Tentu sangat sulit bagi Indonesia untuk melaju dari fase grup para raksasa Asia itu.

Tapi Piala Asia 1996 justru menjadi salah satu kenangan terindah bagi pecinta sepak bola di Tanah Air. Ini tak lain berkat aksi Widodo C Putro yang berada di usia emas pesepak bola, 26 tahun.

Indonesia menghadapi Kuwait di laga perdana di Abu Dhabi. Sekitar 20 menit pertama laga berlangsung, skor kacamata pecah melalui gol spektakuler Widodo. Striker mungil itu sebenarnya berada di posisi sulit karena bola lambung hasil umpan silang Ronny Wabia dari sisi kanan lapangan jatuh di belakang Widodo. Dengan insting mencetak golnya yang tinggi dan naluri yang jelas sudah terasah, Widodo membalikkan badan membelakangi gawang dan menyambar bola dengan tendangan salto.

Bola meluncur deras dan tak mampu dijangkau kiper Kuwait. Gol spektakuler itu disambut lompatan kegembiraan suporter Indonesia dan juga diapresiasi para suporter lawan. Gol salto Widodo pun membangkitkan kepercayaan diri karena Indonesia sempat unggul 2-0 dari gol tambahan Ronny, sebelum akhirnya Kuwait membalasnya hingga skor berakhir 2-2.

Pada akhirnya Indonesia memang gagal melaju ke fase selanjutnya karena kalah 2-4 dari Korsel dan 0-2 dari UEA. Namun, gol Widodo tetap dikenang sebagai gol terbaik Piala Asia 1996. Kala itu, kiprah Indonesia di level Asia pun kembali terlihat gagah.

Sekitar 23 tahun berlalu, Piala Asia kembali digelar di negara yang sama, UEA, pada 5 Januari hingga 1 Februari 2019. Tentu tak ada lagi nama Widodo yang sudah lama menggantungkan sepatu dan beralih profesi menjadi pelatih profesional. Sebuah keniscayaan.

Tapi tak hanya Widodo, timnas Indonesia pun tak lagi ikut ambil bagian dalam pesta sepak bola terbesar se-Asia. Absennya skuat Garuda di Piala Asia kali ini tak lain lantaran karut-marutnya pengelolaan sepak bola Indonesia. Ini seakan berdampak panjang dan permanen.

Absennya timnas Indonesia di Piala Asia 2019 akibat kesalahan empat tahun silam. Tepatnya pada 2015 ketika PSSI kisruh dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Kemenpora membekukan PSSI. Pembekuan oleh pemerintah membuat FIFA menanggalkan status keanggotaan Indonesia termasuk di federasi regional. FIFA menganggap pembekuan PSSI adalah intervensi pemerintah yang diharamkan menurut Statuta FIFA.

Akibatnya, Indonesia dilarang mengikuti semua kegiatan sepak bola yang menjadi kalender FIFA. Pembekuan 2015 ternyata berdampak panjang. Pada 2016, timnas Indonesia tak bisa ikut kualifikasi Piala Asia 2019 lantaran sanksi FIFA. Tak ikut kualifikasi memastikan tim Merah Putih absen di Piala Asia.

Piala Asia 2019 kali ini diikuti 24 negara. Ada tiga negara Asia Tenggara yang lolos, yakni Thailand, Filipina, dan juara Piala AFF 2018, Vietnam. Sementara sepak bola dari negara tetangga sudah menampakkan tajinya di kawasan, sepak bola Indonesia seperti masih berkubang dalam karut-marut federasi dan kompetisi sendiri.

Sepak bola Indonesia saat ini pun masih berkutat dengan banyaknya skandal dan aksi tak terpuji kompetisi dalam negeri. Pembentukan Satgas Antimafia Sepak Bola Bola oleh Polri menunjukkan kualitas buruk sepak bola di dalam negeri. Makin kentara dengan tertangkapnya para terduga mafia yang berasal dari anggota kepengurusan di PSSI.

Padahal, timnas Indonesia sempat rutin tampil di Piala Asia pada tahun 1996 sampai 2007. Urutannya, 1996, 2000, 2004, dan 2007. Namun, sayangnya dalam tiga edisi terakhir tim Merah-Putih sudah tidak pernah lolos lagi.

Dua edisi sebelumnya yakni 2011 dan 2015, Indonesia tidak lolos. Pada kualifikasi Piala Asia 2011, Indonesia kalah bersaing dengan Australia dan Kuwait. Sementara di kualifikasi Piala Asia 2015, skuat Garuda kalah bersaing dengan Cina, Arab Saudi, dan Irak.

Terakhir kali skuat Garuda tampil di Piala Asia 2007 saat empat negara Asia Tenggara; Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam, menjadi tuan rumah. Namun rangkaian partisipasi Indonesia di gelaran Piala Asia itu pun tak mampu menghasilkan prestasi. Hanya sekadar numpang lewat. Jika di level Asia, timnas Indonesia memang tak pernah mampu bersaing, di Asia Tenggara pun skuat Garuda sebenarnya masih tampak loyo.

Selepas pembekuan PSSI pada 2016, timnas Indonesia hanya berhasil meraih peringkat kedua di Piala AFF 2016. Tak pernah sekali pun Indonesia juara di Piala AFF. Harapan untuk pertama kali meraih gelar paling bergengsi di Asia Tenggara pun kandas saat Piala AFF 2018. Bahkan lebih buruk karena tak lolos fase grup.

Setelah kegagalan lolos di tiga edisi Piala Asia terakhir, sudah sepatutnya PSSI dan segenap stakeholder untuk segera berbenah. Babak kualifikasi Piala Asia 2023 sekaligus Piala Dunia 2022 akan dimulai pada September tahun ini.

Timnas Indonesia harus menyiapkan diri dengan sangat serius agar ke depan bisa kembali gagah bersaing di level Asia. Jangan sampai sepak bola Indonesia di Piala Asia hanya selalu dikenang lewat gol salto Widodo. Tak ada yang lain.

*) Jurnalis Republika.co.id

 

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES