Tuesday, 18 Sya'ban 1440 / 23 April 2019

Tuesday, 18 Sya'ban 1440 / 23 April 2019

Liverpool Vs MU, Seru Luar Dalam

Sabtu 15 Dec 2018 08:46 WIB

Red: Joko Sadewo

Israr Itah

Israr Itah

Foto: Republika/Kurnia Fakhrini
Sejarah seteru ekonomi, sosial, politik Kota Manchester dan Liverpool

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Israr Itah*

Pecinta sepak bola, khususnya Liga Primer Inggris, akan disuguhkan laga sengit pada akhir pekan ini. Pemuncak klasemen Liverpool akan menjamu Manchester United (MU) di Stadion Anfield, Ahad (16/12).

Pelatih tersukses di MU Alex Ferguson melabeli pertemuan ini sebagai Clasico Inggris. Sebab, selain adu taktik antarpelatih dan pertarungan teknik para pemain kedua tim, selalu ada emosi yang hadir. Emosi ini tak hanya muncul sepanjang 90 menit di lapangan, melainkan juga sudah hadir semenjak konferensi pers dan berbuntut selepas laga. Terlebih dengan adanya Jose Mourinho sebagai pembesut MU saat ini.

Seperti seluruh laga klasik di liga-liga besar dunia yang berawal dari persaingan ekonomi, sosial, politik, ataupun budaya asal kedua klub yang berseteru, demikian pula rivalitas Liverpool vs MU. Persaingan berawal dari ketidakpuasan Kota Manchester atas tarif tinggi bagi jalur distribusi produk-produk industri mereka yang keluar melalui pelabuhan Liverpool. Manchester membangun kanal sendiri untuk mendistribusikan langsung hasil industri kotanya ke seluruh dunia pada 1894.

Ini ternyata membuat perekenomian di Kota Liverpool menurun. Penduduk Liverpool menuding langkah Kota Manchester itu membuat mereka terpuruk. Kebencian pun muncul dan merambah ke ranah sepak bola, walaupun dalam perjalannya relasi kedua tim ini tak melulu soal rivalitas.

Pada 1915, pemain kedua tim mengatur hasil pertandingan agar United tidak terdegradasi. Empat pemain Liverpool dan tiga dari MU dihukum larangan bermain seumur hidup. Kemudian pada akhir 1958, Liverpool menawarkan peminjaman pemain kepada United setelah delapan bintangnya tewas dalam kecelakaan pesawat di Muenchen.

Tapi persaingan keduanya kemudian menjadi pelik saat akhir 1970-an ultras kedua tim berseteru. Puncaknya, fan Liverpool menembakkan gas air mata kepada para pemain MU sebelum pertandingan di Anfield pada 1986.

Pendukung Liverpool mengejek MU dengan menyanyikan tragedi jatuhnya pesawat di Muenchen. Fan Iblis Merah membalasnya dengan chant tentang Tragedi Hillsborough pada 1989 yang merenggut nyawa puluhan pendukung Liverpool.

Saat Liverpool mereguk kesuksesan di pentas Eropa dan kompetisi domestik pada 1970-an sampai akhir 1980-an, pendukung MU di-bully. Namun kehadiran Alex Ferguson sebagai nakhoda MU pada 1986 mengubah nasib Iblis Merah. Setelah beberapa tahun membangun tim, MU mulai meraih trofi pertama pada 1990. Gelar juara Piala FA kemudian diikuti Piala Winners tahun berikutnya. Gelar liga pertama didapatkan Ferguson pada tahun 1993. Sisanya adalah sejarah.

MU menjadi tim papan atas yang langganan juara. Giliran fan Liverpol yang di-bully. Sebab, terakhir mereka merasakan juara liga pada 1990 saat masih bernama Divisi Satu.

Faktor Jose Mourinho

Perang komentar antara Ferguson dengan Kenny Dalglish dan sejumlah pelatih Liverpool berikutnya menjadi santapan empuk media Inggris. Setelah Ferguson pensiun pada 2013, trash talk antarpelatih mereda, tapi kemudian menghangat lagi setelah Jose Mourinho ditunjuk sebagai nakhoda Iblis Merah pada 2016.

Beberapa kali ia melontarkan komentar miring yang mengarah ke Liverpool ataupun pelatihnya Juergen Klopp, meskipun timnya tak sedang dalam posisi hendak bermain dengan the Reds. Jangan heran kalau pria Portugis ini selalu punya bahan untuk menyulut tensi jelang pertemuan kedua tim.

Dalam konferensi pers menyambut laga akhir pekan ini, Mourinho menyoroti kinerja Klopp yang minim trofi walaupun banyak pihak menilai Liverpool mengalami kemajuan di tangannya. Sejak menangani Liverpool pada 2015, Klopp hanya mampu membawa timnya tiga kali runner-up, yakni di Piala Liga, Liga Europa, dan Liga Champions. Sementara Mou menghadirkan dua trofi kompetisi, meskipun bukan gelar bergengsi, yakni Piala Liga dan Liga Europa.

"Saya rasa trofi yang akan lebih berarti. Trofi berarti, terutama ketika dirimu punya potensi bertarung meraih trofi. Juga ketika dirimu dengan jelas mengatakan bahwa tujuan di awal musim adalah memenangkan trofi," kata Mourinho.

Klopp kali ini tak terpancing. “Manchester United tidak pernah menunjukkan kurangnya ambisi. Mourinho adalah manajer paling sukses di dunia dan begitulah,” katanya membalas komentar sang rival.

Klopp menegaskan, ia menghormati United dan pelatihnya. Ia tak memikirkan posisi MU di peringkat enam klasemen dan terpaut delapan poin dari posisi empat. Klopp meminta anak-anak asuhnya ‘marah’ dan bertarung untuk mendapatkan kemenangan. Klopp yakin pertarungan akan sangat ketat dan ia percaya pasukannya akan siap.

Liverpool terakhir kali mengalahkan MU 1-0 di Anfield saat Brendan Rodgers masih menjadi pelatih. Setelah itu, the Reds selalu gagal memuaskan pendukungnya saat menjamu MU di markas kebesaran mereka. Dengan posisi di puncak klasemen yang dipertaruhkan, motivasi skuat Liverpool kali ini mungkin akan berlipat.

Gegenpressing Klopp tawar saat berhadapan dengan permainan defensif agresif MU besutan Mourinho. Dari empat pertemuan, Liverpool kalah sekali dan tiga lainnya berakhir imbang. Ini saat yang tepat mengakhiri catatan buruk mengingat permainan MU belum stabil. Caranya dengan mematikan momentum transisi serangan balik MU yang dapat diinisiasi oleh Juan Mata, Nemanja Matic, atau Ander Herrera. Sebab di sinilah kekuatan MU dalam mengeksploitasi ruang kosong saat kedua bek sayap Liverpool maju membantu serangan.

Kemudian, lini tengah Liverpool harus kuat beradu teknik dan provokasi melawan para gelandang MU. Terakhir, the Reds harus bisa menjaga konsentrasi hingga menit-menit akhir laga. Sebab, MU punya kapasitas menjebol gawang Liverpool pada momen-momen krusial ini. Biasanya, Klopp menurunkan Marouane Fellaini dan memainkan bola langsung ke kotak penalti. Fellaini bisa menjadi penyelesai, dapat pula memantulkan bola ke rekannya yang berada di posisi lebih bebas untuk mencetak gol.

Walaupun bentrok kedua tim terganggu sejumlah pemain cedera, rasanya suguhan sepak bola kelas tinggi akan tetap tersaji dari laga ini. Saya memperkirakan laga ini berakhir imbang dengan peluang kecil Liverpool memenangkan laga dengan margin skor tipis . Bagaimana dengan Anda?

*) Penulis adalah redaktur Republika.co.id

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA