Rabu, 15 Jumadil Akhir 1440 / 20 Februari 2019

Rabu, 15 Jumadil Akhir 1440 / 20 Februari 2019

Semoga Bukan karena Tuan Rumah

Selasa 04 Sep 2018 06:36 WIB

Red: Endro Yuwanto

Endro Yuwanto

Endro Yuwanto

Foto: Republika/Daan Yahya
Prestasi 31 emas diharapkan menjadi momentum kebangkitan olahraga Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Endro Yuwanto *)

Jack Ma, salah satu orang terkaya di dunia, memperkenalkan kota kelahirannya, yaitu Hangzhou yang akan menjadi lokasi penyelenggaraan Asian Games 2022 pada penutupan Asian Games 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Jakarta, Ahad (2/9) malam. Jack Ma hadir sebagai perwakilan Cina yang akan menjadi penyelenggara Asian Games 2022 di Hangzhou.

Perkenalan Kota Hangzhou sekaligus menjadi salah satu penanda berakhirnya penyelenggaraan Asian Games ke-18 di Jakarta dan Palembang. Tak ada yang menyangkal, Asian Games 2018 telah mencapai kesuksesan tersendiri, baik sukses terkait sarana dan prasarana, penyelenggaraan, dan tentu saja prestasi.

Tapi, sejenak tinggalkan soal sarana, prasarana, dan penyelenggaraan, yang menuai pujian dari dalam dan luar negeri atau kemungkinan Indonesia bisa menjadi tuan rumah Olimpiade 2032. Mari kembali berpikir soal prestasi para atlet Merah-Putih.

photo

CEO Alibaba Group Jack Ma (tengah) menyemarakkan Upacara Penutupan Asian Games ke-18 Tahun 2018 di Stadion Utama GBK, Senayan, Jakarta, Minggu (2/9).

Ketika Jack Ma memperkenalkan kota kelahirannya sebagai penyelenggara Asian Games selanjutnya, yang terbesit dalam benak saya adalah apakah prestasi para atlet Indonesia di Hangzhou nanti masih bisa sama atau bahkan melampaui pencapaian seperti di Jakarta-Palembang?

Tak dimungkiri, para Indonesia menorehkan sejarah baru dalam hal prestasi di Asian Games. Kontingen Merah Putih memiliki catatan lonjakan fantastis dalam urusan mengumpulkan medali emas. Tuan rumah berhasil memanfaatkan benefit bertarung di depan fan sendiri dengan mengumpulkan 31 medali emas, 24 perak, dan 43 perunggu.

Di klasemen perolehan medali, Indonesia mampu menduduki peringkat keempat. Hanya di bawah tiga raksasa Asia, Cina, Jepang, dan Korea Selatan.

Dilihat dari jumlah perolehan medali emas, Asian Games 2018 menjadi yang terbaik bagi Indonesia sejak edisi pertama di New Delhi pada 1951. Pencapaian tersebut menjadi performa luar biasa sekaligus rekor baru. Sebelumnya, perolehan terbanyak medali emas kontingen Indonesia ada di perhelatan Asian Games 1962. Saat itu, Indonesia yang juga menjadi tuan rumah meraup 11 emas. 

Indonesia pun kini mampu menggeser Thailand dengan memegang predikat sebagai negara pengumpul emas terbanyak dalam satu perhelatan Asian Games. Thailand sukses meraih 24 emas, 26 perak, dan 40 perunggu pada Asian Games 1998 yang berlangsung di negara mereka sendiri.

 

Namun demikian, pencapaian atlet Indonesia ini sebaiknya tak lantas membuat kita jemawa. Apalagi, Indonesia mempunyai keuntungan sebagai tuan rumah Asian Games 2018 lantaran menampilkan 10 cabang olahraga yang tak dipertandingkan di olimpiade (non-olympic), seperti pencak silat, paralayang, dan jet ski.

Jangan sampai usai menjadi tuan rumah dan meraup prestasi tinggi seperti pada SEA Games 2011 di Jakarta dan Palembang, para atlet kembali melempem. Pada SEA Games 2011, Indonesia meraih juara umum dengan koleksi 182 emas. Namun, dalam empat SEA Games terakhir, pencapaian medali emas Indonesia terus anjlok. Pada tiga ajang berikutnya, medali emas Indonesia merosot, masing-masing 64 emas (2013), 47 (2015), dan 38 (2017).

photo

Tim silat Indonesia peraih medali emas Pramudita Yuristya (kiri), Lutfi Nurhasanah (tengah) dan Gina Tri Lestari (kanan) berpose usai upacara penyerahan medali nomor beregu putri pencak silat seni Asian Games 2018 di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Rabu (29/8).

Harus diingat, keberhasilan menduduki peringkat empat klasemen di Asian Games 2018 bukan jaminan prestasi sama akan diraih pada SEA Games 2019 Manila atau bahkan Olimpiade 2020 Tokyo. Dari total 31 medali emas Asian Games tahun ini, hanya delapan emas yang disumbangkan cabang olahraga olimpiade, yakni bulu tangkis (2), sepeda gunung (2), dayung (1), tenis (1), taekwondo (1), dan angkat besi (1).

Tentu saja prestasi Indonesia yang untuk pertama kalinya masuk empat besar Asian Games sejak 1962 diharapkan menjadi momentum kebangkitan olahraga bangsa ini. Namun jangan lupakan pula prestasi di SEA Games.

Keberhasilan Indonesia di SEA Games 2019 nanti bisa saja menjadi modal berharga meningkatkan standar prestasi di Olimpiade 2020. SEA Games sebaiknya tak hanya menjadi sasaran antara, namun juga utama. Ini demi menjaga momentum bahwa prestasi olahraga Indonesia memang bagus.

Sejumlah atlet dan tim pelatih yang sukses meraup medali dalam Asian Games 2018 berharap pemerintah memperpendek jenjang birokrasi penyaluran anggaran olahraga. Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) pernah mengklaim penganggaran pelatihan nasional (pelatnas) tak lagi bermasalah setelah pembubaran Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima).

Sejak Peraturan Presiden No 95/2017 tentang Peningkatan Prestasi Olahraga Nasional terbit, anggaran dari pemerintah pusat langsung masuk ke rekening induk cabang olahraga. Kini setiap induk cabang olahraga tinggal mengajukan proposal pengajuan anggaran untuk periode 2019 guna persiapan berlaga di SEA Games 2019 dan Olimpiade 2020.

Pemerintah pun menyatakan akan secepatnya melakukan pemetaan cabang olahraga (cabor) yang berpeluang di Olimpiade 2020 nanti. Kemenpora juga menjamin akan menerapkan pelatnas terpadu, yakni, menyatukan Pelatnas SEA Games 2019 dengan Olimpiade 2020 bagi cabang olahraga olimpiade.

Karena itu, di tengah euforia meraih medali dan gelontoran bonus para atlet tidak boleh lama-lama beristirahat. Para pahlawan bangsa itu harus segera kembali masuk pelatnas agar kelak bisa membuktikan diri bahwa kesuksesan prestasi tahun ini bukan lantaran kita menjadi tuan rumah. Seperti yang sudah-sudah.

*) Jurnalis Republika.co.id

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA