Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Asian Games XVIII Sukses tanpa Jerebu

Jumat 31 Aug 2018 17:21 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Maspril Aries, wartawan Republika

Maspril Aries, wartawan Republika

Foto: Dokumen Pribadi
Tidak ada kebakaran hutan selama Asian Games 2018 berlangsung.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Maspril Aries, Wartawan Republika

Bukan kegagalan meraih target 16 medali emas atau berada pada peringkat 10 besar dalam perolehan medali yang menjadi kekhawatiran Indonesia pada perhelatan Asian Games XVIII yang berlangsung 18 Agustus–2 September 2018 di Jakarta dan Palembang. Yang menjadi kekhawatiran Indonesia adalah jerebu.

Apa itu jerebu? Jerebu adalah kosakata yang akrab terdengar pada masyarakat Melayu khususnya di negeri jiran Malaysia. Jerebu adalah kosakata Melayu yang dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) kata “jerebu” ditulis dengan “jerubu” yang artinya debu, asap dan kabut.

Kosakata “jerebu” menjadi pilihan media massa di Malaysia saat terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu terjadinya kabut asap. Saat terjadi karhutla, kabut asap tidak hanya menutup langit Indonesia tapi juga sampai ke negeri jiran Malaysia dan Singapura.

Kabut asap atau jerebu kerap terjadi saat musim kemarau tiba. Musim kemarau melanda Indonesia sejak Juni-Oktober, Asian Games XVIII berlangsung pada Agustus-September yang oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) diprediksi menjadi puncak musim kemarau 2018.

Tak urung musim kemarau yang memicu karhutla dengan memproduksi jerebu menjadi kekhawatiran Indonesia karena bisa mengancam pelaksanaan Asian Games XVIII. Enam bulan sebelum pelaksanaan Asian Games, pada Februari 2018 Presiden Joko Widodo di depan peserta Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Tahun 2018 di Istana Negara, 6 Februari 2018 mengingatkan, Asian Games jangan sampai terganggu asap akibat kebakaran hutan dan lahan.

“Tahun ini kita jadi tuan rumah Asian Games, tidak hanya di Jakarta, tapi juga Palembang. Saya ingatkan lagi, jangan sampai saat perhelatan itu ada asap kebakaran hutan dan lahan. Asap dari karhutla akan menjadi nama baik Indonesia menjadi jelek, tetapi juga akan menganggu penerbangan yang bisa menganggu pelaksanaan Asian Games,” kata Presiden Joko Widodo.

Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLH) Siti Nurbaya juga mengingatkan Asian Games XVIII di Sumatra Selatan harus tidak terganggu kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Menurutnya, Pemerintah Provinsi Sumsel telah menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan pada 1 Februari hingga 30 Oktober 2018.

Sampai dua hari menjelang berakhirnya perhelatan Asian Games yang akan berakhir 2 September 2018, tiada jerebu yang menutup langit Palembang atau Sumsel. Pertandingan 13 cabang olahraga pada Asian Games XVIII yang berlangsung di komplek Jakabaring Sport City (JSC) bisa berlangsung lancar tanpa ada kabut asap atau jerebu yang mengganggu pertandingan.

Asian Games di Palembang tanpa karhutla memang menjadi target Gubernur Sumsel Alex Noerdin. Jauh-jauh hari sebelum Asian Games XVIII berlangsung, Alex Noerdin sudah mencanangkan target Asian Games di JSC zero kabut asap.

“Tahun 2016 dan 2017 kita berhasil mencegah terjadinya karhutla, tahun 2018 adalah taruhan bagi kita semua karena pada tahun tersebut ada Asian Games,” kata Alex Noerdin yang akan mengakhiri masa jabatannya sebagai Gubernur Sumsel pasca-Asian Games. Selain keterlibatan pemerintah, salah satu sponsor Asian Games XVIII perusahaan Asia Pulp Paper (APP) Sinar Mas juga ikut berkontribusi mencegah terjadinya karhutla khususnya di Sumsel.

Managing Director Sinar Mas G Sulistiyanto di depan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kapolri Tito Karnavian, Gubernur Sumsel Alex Noerdin dan Kepala BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) Willem Rampangilei mengatakan, “Tahun ini Sinar Mas telah menginvestasikan lebih dari Rp 170 miliar untuk mencegah terjadinya karhutla."

Menurut Sulistiyanto, “Sinar Mas trauma dengan karhutla yang terjadi pada 2015, semua mata dan telunjuk mengarah kepada kami. Kami tidak ingin karhutla terjadi kembali, oleh sebab itu kami menginvestasikan untuk mencegah terjadinya karhutla.”

Managing Director Sinar Mas G Sulistiyanto menjelaskan, yang dilakukan Sinar Mas merupakan upaya serius untuk menyukseskan Asian Games yang  berlangsung di Palembang, 18 Agustus-2 September 2018. Walau selama Asian Games berlangsung tidak ada jerebu, bukan berarti sejak 18 Agustus 2018 di Sumsel tidak ada kebakaran hutan dan lahan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel dengan dibantu TNI, Polri dan Manggala Agni hampir setiap hari terus berjibaku memadamkan karhutla yang terjadi pada beberapa daerah kabupaten dan kota di luar Palembang. Pantauan satelit Lapan sampi setiap hari memberi informasi masih adanya titik hotspot yang harus dipadamkan.

Pada hari pertama pelaksanaan Asian Games, 18 Agustus 2018 BPBD Sumsel mencatat, berdasarkan pantauan satelit Lapan di Sumsel ada 39 titik hotspot. Kemudian pada 20 Agustus 2018 terpantau satelit Lapan ada 23 titik hotspot, pada 21 Agustus 2018 jumlah titik hotspot mengalami penurunan dan terpantau satelit Lapan 6 titik api.

Pada 30 Agustus 2018 BPBD Sumsel mencatat jumlah titik hotspot yang terpantau satelit Lapan sebanyak lima titik. Selain titik hotspot yang berkurang, menjelang penutupan Asian Games XVIII kawasan JSC juga diguyur hujan.

Apa yang terjadi pada Asian Games XVIII sangat bertolak belakang dengan pelaksanaan PON XVI yang juga berlangsung di kawasan Jakabaring pada 2-14 September 2004, pertandingan sempat diwarnai kabut asap atau jerebu akibat terjadinya karhutla pada beberapa daerah di sekitar Palembang. Bahkan untuk nomor lari marathon pria yang berlangsung sejak pagi hari di sekitar kawasan Jakabaring harus berlangsung di bawah kabut asap. Jarak pandang saat itu berkisar 200-300 meter. Jerebu kala itu sempat mengganggu jadwal penerbangan penerbangan. Atlet yang sudah menyelesaikan pertandingan dan akan kembali ke daerahnya masing-masing sempat tertunda.

Walau diganggu jerebu, PON XVI dinilai sukses karena menjadi PON pertama di luar Jawa pascareformasi. Sebelumnya PON hanya berlangsung di DKI Jakarta atau Jawa Timur.

Pasca-Asian Games XVIII apakah jerebu akibat karhutla masih akan terus terjadi dan menghantui udara sehat di Sumsel? Tidak ada kepastian untuk jawaban tersebut.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA