Kamis, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Kamis, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Sudah Takdirnya Liverpool

Sabtu 26 Mei 2018 20:22 WIB

Red: Didi Purwadi

 Mohamed Salah mencetak dua gol ketika membantu Liverpool menang atas AS Roma dengan skor 5-2, Rabu (25/4) dini hari WIB, di leg pertama semifinal Liga Champions.

Mohamed Salah mencetak dua gol ketika membantu Liverpool menang atas AS Roma dengan skor 5-2, Rabu (25/4) dini hari WIB, di leg pertama semifinal Liga Champions.

Foto: AP/Peter Byrne
Produktivitas Liverpool unggul 10 gol dibanding Real Madrid.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Gilang Akbar Prambadi

Redaktur Bola Republika

Liverpool sukses menembus semua batas prediksi di LigaChampions musim ini. Berangkat ke tengah arena pertempuran lewat babakkualifikasi, the Reds justru sukses mencapai final.

Liverpool juga datang ke panggung tertinggi dengan catatan jauh lebih baik dibanding sang lawan, Real Madrid. Perlu diingat, Madrid adalah juara bertahan dua tahun beruntun. Kesuksesan Madrid dalam memenangi Liga Champions dalam dua tahun terakhir tak tak lepas dari statistik ketajaman mereka dibanding lawannya di final.

Pada laga puncak musim 2015/2016, Madrid ada di final dengan status tim paling tajam. Sejak babak penyisihan hingga semifinal, Los Blancos mengoleksi 27 gol. Jumlah ini unggul 11 gol dibanding lawan mereka di laga puncak, Atletico Madrid.

Musim berikutnya, Madrid kembali jadi finalis dengan status tim paling tajam. Skuat besutan Zinedine Zidane itu mencetak 32 gol. Jumlah ini juga unggul 11 dibanding Juventus yang jadi lawan Madrid di laga puncak.

Kini, status yang Madrid miliki selama dua musim terakhir berpindah ke Liverpool. The Kop datang ke lokasi final, Kiev, Ukraina dengan modal torehan 40 gol. Jumlah tersebut unggul 10 dibanding Madrid. Hebatnya, Liverpool kini tercatat sebagai pencetak gol terbanyak dalam satu musim sepanjang sejarah Liga Champions.

Ditambahkan dengan enam gol yang dibuat di fase play-off, jumlah 46 membuat Liverpool melampaui rekor yang sudah berumur 18 tahun. Rekor tersebut milik Barcelona yang membuat 45 gol sepanjang gelaran Liga Champions1999/2000. Tentu saja, jumlah gol Liverpool masih bisa menjauhi Barca karena akan bertanding di final malam ini.

Dengan catatan gemilang dalam urusan mencetak gol, Liverpool selayaknya dijagokan sebagai juara, karena dulu Madrid pun demikian. Status sebagai tim paling tajam dibanding lawan membuat Madrid kala itu banyak diunggulkan. Semua lalu terbukti benar, tim asal Ibu Kota Spanyol tersebut selalu pulang dengan trofi di tangan.

Bila syarat yang sama untuk menjadi juara Liga Champions dalam dua musim terakhir kembali berlaku saat ini, maka artinya sudah takdir Liverpool menjadi kampiun edisi 2017/2018.

Tak percaya?. Bukan faktor kecocokan statistik ilmiah di atas saja yang akan menuntun Liverpool menuju takdirnya sebagai juara. Ada beberapa kecocokan lainnya yang bisa dilihat. Namun, mari sejenak lupakan data empiris karena penulis akan mengajak pembaca untuk berjalan di atas kreativitas fantasi.

Begini, beberapa momen besar yang terjadi di tahun 2018 ternyata persis sama pernah muncul 37 tahun silam. Contohnya, pernikahan pangeran kerajaan Inggris Raya, Pangeran Harry dengan pasangannya Meghan Markle. Pada tahun 1981 pun, seorang pangeran Inggris melakukan upacara perkawinan. Yakni Charles yang menikahi Diana. Di tahun yang sama, klub asal London menjuarai Piala FA. Tahun ini ini, Chelsea yang juga berasal dari London, sukses meraih trofi Piala FA.

Kebetulan yang terlalu jauh?. Baiklah, berikut ini ada beberapa peristiwa yang lebih langka. Di tahun 1981, klub Bundesliga Jerman, Eintracht Frankfurt menjuarai DFB Pokal. Mereka baru kembali jadi juara di ajang yang sama pada 1988 kemudian tahun ini.

Lainnya, tahun ini, politisi Malaysia, Mahathir Mohamad kembali terpilih menjadi Perdana Menteri (PM) di negaranya. Tebak kapan pertama kali Mahathir terpilih sebagai (PM) Malaysia?. Ya benar, tahun 1981.

Jika semua peristiwa di tahun 1981 ini sudah memenuhi takdirnya untuk terulang di 2018, maka ada satu momen lagi yang semestinya terulang. Di tahun tersebut, Liverpool sukses menjuarai Liga Champions yang kala itu masih bernama Piala Champions. Siapa lawan yang the Anfield Gank kalahkan di final?. Tak lain dan tak bukan, Real Madrid.

Maka atas semua pemaparan kecocokan di atas, tidak berlebihan jika tahun ini takdirnya Liverpool menjuarai Liga Champions. Tentu saja, teori cocoklogi yang dijabarkan tadi tak sepenuhnya berada dalam koridor nalar.

Namun, sayang juga jika penulis tidak membahasnya. Lagi pula, ini adalah dunia sepak bola. Sebuah dimensi di mana kreasi tak pernah menemui batasannya. (@gilangORI)

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA