Thursday, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Thursday, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Royal Wedding, Final Liga Champions, dan Upaya Ubah Sejarah

Selasa 22 May 2018 04:18 WIB

Red: Endro Yuwanto

Endro Yuwanto

Endro Yuwanto

Foto: Republika/Daan Yahya
Tanpa catatan sejarah lainnya, Liverpool musim ini sebenarnya sedang tampil impresif.

Oleh Endro Yuwanto *)

 

REPUBLIKA.CO.ID, Final Liga Champions 2017/2018 yang tersaji di Stadion NSC Olimpiyskiy, Kiev, Ukraina, Sabtu (26/5) waktu setempat nanti, bisa menjadi salah satu laga final terbaik kompetisi sepak bola terelite di Benua Biru. Dua klub raksasa yang sama-sama berkarakter menyerang akan saling bunuh untuk memperebutkan trofi Si Kuping Besar.

Sorotan paling utama adalah kehadiran dua bomber haus gol di masing-masing kubu. Real Madrid punya Cristiano Ronaldo, Liverpool memiliki Mohamed Salah. Dengan sedikit mengesampingkan Lionel Messi yang mengantar Barcelona juara La Liga Spanyol musim ini, baik Ronaldo dan Salah memiliki kesempatan untuk memperebutkan gelar pemain terbaik dunia (Ballon d'Or) musim ini jika mampu mengangkat trofi Liga Champions.

Bahkan jika gagal juara di final Liga Champions nanti, keduanya masih bisa bersaing kembali di Piala Dunia 2018 Rusia mendatang. Ronaldo membela Portugal, Salah memperkuat Mesir.

Namun beberapa pekan sebelum laga final berlangsung, persaingan antara Ronaldo dan Salah agak redup dan kalah dengan sinyal, ramalan, atau mungkin fakta sejarah yang menyebutkan bahwa Liverpool akan menjadi jawara Liga Champions musim ini. Di sejumlah media mainstream dan media sosial (medsos) sudah ramai mengabarkan Liverpool akan juara dengan beberapa alasan.

Boleh percaya atau tidak, Royal Wedding di Kerajaan Inggris selalu mendatangkan tuah bagi Liverpool, klub yang juga berasal dari Inggris. Memang ini sekadar ilmu cocoklogi, tetapi tidak ada salahnya membahas cerita ringan berikut ini.

photo

Meghan Markle bersama Pangeran Harry menaiki kerea kuda setelah upacara pernikahan mereka di Kapel Istana Windsor, di Windsor, Inggris, Sabtu (19/5) waktu setempat.

Seluruh catatan sejarah itu terjadi pada 1981 silam. Tahun itu, Liverpool menjadi juara Liga Champions musim 1980/1981. Uniknya, kemenangan Liverpool dipetik atas Real Madrid di Parc des Princes. Liverpool merupakan tim terakhir yang sukses mengalahkan Real Madrid di final Liga Champions.

Selain kemenangan the Reds di final Liga Champions, 1981 juga menjadi momen terselenggaranya Royal Wedding. Pada saat itu, tepatnya 19 Juli 1981, Pangeran Charles dan Putri Diana melangsungkan pernikahan. Satu momen akbar serupa terulang pada 2018. Royal Wedding antara Pangeran Harry (Putra Pangeran Charles dan Diana) dan Meghan Markle diselenggarakan pada Sabtu, 19 Mei lalu.

Tak hanya Royal Wedding, fakta yang bisa memberikan keberuntungan untuk skuat asuhan Juergen Klopp di Kiev nanti adalah naiknya Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri (PM) Malaysia menggantikan Hussein Onn yang jatuh sakit. Momen krusial di negara persemakmuran Inggris itu juga terjadi pada 16 Juli 1981. Sejarah seakan terulang pada 2018, Mahathir Mohamad terpilih lagi sebagai PM Malaysia setelah memenangi pemilihan umum pada 10 Mei lalu.

Hanya saja, jika pada ketiga momen sejarah di 1981 itu, final Liga Champions lebih dulu terselenggara, pada 2018 ini terjadi sebaliknya. Pada 2018, final Liga Champions digelar belakangan, yakni pada 26 Mei waktu setempat.

photo

Trofi Liga Champions milik Liverpool dipajang di Mall Taman Anggrek, Jakarta, Kamis (8/3). Piala ini diraih Liverpool ketika menjuarai Liga Champions 2005 di Istanbul, Turki.

Sebenarnya, tanpa perlu Royal Wedding atau pun catatan sejarah lainnya, Liverpool musim ini memang sedang tampil sangat impresif. Bekal ini sudah memadai untuk menantang Madrid yang juga merupakan juara bertahan.

Bagaimana tidak, Liverpool tampil lebih meyakinkan sejak fase grup dan hanya sekali kalah dalam perjalanan ke final. Bandingkan dengan Madrid yang hanya finis sebagai runner-up di bawah Tottenham Hotspur serta menelan dua kekalahan sebelum sampai di partai puncak.

Hebatnya lagi, Mohamed Salah dan kawan-kawan menjadi tim yang paling produktif di Liga Champions dengan torehan 40 gol. Trisula maut Liverpool pun sangat tajam mengoyak pertahanan lawan. Sejauh ini, Salah telah mencetak 10 gol, Roberto Firmino (10 gol), dan Sadio Mane (9 gol). Jumlah tersebut membuat ketiganya menjadi trio penyerang paling produktif dalam satu musim Liga Champions.

Madrid sebenarnya tak kalah mentereng dalam urusan mencetak gol sejauh ini. Meski tak setajam trisula Liverpool, El Real memiliki Ronaldo yang bisa saja menjadi pembeda di tiap pertandingan penting. Torehan gol Ronaldo pun luar biasa dengan mencatatkan diri sebagai top skorer sementara Liga Champions musim ini berkat koleksi 15 gol. Di lini depan, Ronaldo akan mendapat dukungan tandem terbaiknya, Karim Benzema, yang sudah mengemas empat gol.  

Tak ayal dan gampang diprediksi, laga final nanti berpotensi menghasilkan hujan gol. Bukan hanya lantaran baik Liverpool maupun Madrid memiliki daya gedor yang mematikan, namun karena sebenarnya dua tim ini memiliki lini belakang yang sama-sama keropos. Sejauh ini, Madrid sudah kebobolan 15 gol, sementara Liverpool kemasukan 13 gol.

Partai semifinal leg kedua atau saat Madrid menyingkirkan Juventus dan Liverpool mendepak AS Roma, bisa jadi bukti keroposnya pertahanan kedua tim. Madrid kalah 1-3 dari Juve dan Liverpool kalah 2-4 dari Roma.

photo

Pemain dan tim Real Madrid berkeliling mengarak trofi Liga Champions saat merayakan kemenangan ke-12 Real Madrid di ajang Liga Champions Eropa.

Catatan sejarah terutama bila berkaca pada peristiwa 37 silam memang menjagokan Liverpool akan keluar sebagai pemenang. Kendati demikian, mengalahkan Madrid di Liga Champions bukan perkara mudah. Tim-tim sekelas Paris Saint-Germain (PSG), Juventus, dan Bayern Muenchen telah menjadi korban keganasan Los Blancos musim ini.

Belum lagi, DNA Liga Champions seakan mengalir deras dalam darah skuat Madrid. Lihat saja koleksi gelar juara Liga Champions di lemari Madrid yang mencapai 12 trofi. Tak hanya itu, skuat asuhan Zinedine Zidane tentu bakal berjuang keras mengubah catatan sejarah agar tak sama seperti 1981, sekaligus mencatatkan sejarah baru sebagai tim pertama yang tiga kali beruntun juara Liga Champions.

*) Jurnalis Republika.co.id

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA