Wednesday, 11 Zulhijjah 1439 / 22 August 2018

Wednesday, 11 Zulhijjah 1439 / 22 August 2018

Makan Siang untuk Relawan

Kamis 10 May 2018 09:55 WIB

Red: Joko Sadewo

M. Hafil

M. Hafil

Foto: Republika/Daan Yahya
Tidak ada makan siang yang gratis.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh: Muhammad Hafil*

 There is no free lunch atau tidak ada makan siang yang gratis. Sebuah idiom sederhana yang penuh makna. Kalimat ini konon pernah diceritakan oleh New York Times pada 1872  bahwa makan siang gratis muncul sebagai tren umum di  New Orleans. Mereka memberi makan siang gratis, meskipun minumnya harus bayar. Para pemilik bar bertaruh bahwa pengunjung akan minum lebih dari satu kali. Jadi tetap saja ada seseorang yang membayar untuk sesuatu

Kalimat ini belakangan juga kerap disebut oleh Ustaz Abdul Somad, ulama asal Pekanbaru yang tengah naik daun. Ustaz Somad mengungkapkan ini untuk menceritakan dua orang berlawanan jenis yang saling mengenal melalui media sosial, kemudian membuat kesepakatan untuk bertemu di sebuah restoran. Ujung-ujungnya, dua orang ini melakukan perbuatan yang mendekati zina.

Namun, yang akan kita bahas bukan mengenai dua orang berlawanan jenis seperti yang diceritakan oleh Ustaz Abdul Somad.  Tetapi, soal munculnya kelompok-kelompok relawan pendukung Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk melanjutkan kepemimpinannya hingga 2024.

Hingga saat ini, relawan pendukung Jokowi ini kerap membuat aksi. Syukur-syukur dimuat oleh media massa dan dilirik oleh Jokowi. Ada beberapa kelompok relawan pendukung Jokowi dengan segala penyebutan namanya. Mulai dari Relawan Arus Bawah Jokowi, Seknas Jokowi, hingga Relawan Jokowi Saja.  Mereka semua memiliki ketua dan pengurus.

Belakangan, ada nama REJO yang merupakan kependekan dari Relawan Jokowi di mana gara-gara kelompok ini, seorang politikus Partai Demokrat bernama Darmizal rela melepaskan jabatannya sebagai pimpinan Pimpinan Komisi Pengawas  Partai Demokrat demi menjadi ketua REJO.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), relawan sepadan dengan kata sukarelawan yang berarti orang yang  melakukan sesuatu dengan sukarela (tidak karena diwajibkan atau dipaksa).

Sementara, dalam kamus Oxford, definisi relawan (volunteer) memiliki arti yang salah satunya adalah a person who works for an organization without being paid.  Atau orang yang bekerja untuk organisasi tanpa dibayar. Benarkah tak ada bayaran untuk para relawan pendukung Jokowi itu?

Jika kita melihat pascapilpres 2014, banyak relawan pendukung Jokowi yang mendapatkan ‘jatah’ jabatan dari Jokowi. Ada puluhan relawan pendukung, yang tidak diwajibkan oleh partai pendukung Jokowi seperti PDIP, Nasdem, PKB, dan Hanura untuk mendukung Jokowi, mendapatkan posisi yang baik di sejumlah BUMN dan pemerintahan. 

Saat konferensi pers pengumuman mundurnya Darmizal  tak menyebut ‘jatah’ bagi relawan jika Jokowi menang.  Dia hanya menyebut tujuannya membentuk REJO adalah untuk memenangkan Jokowi.

Namun, perlu diingat,  hingga 2018 ini, elektabilitas Demokrat belum naik. Masih di bawah PDIP dan Gerindra. Memang ada Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), namun, nama Agus belum mendongkrak citra Demokrat. Apalagi, dia pernah kalah pada pilkada DKI Jakarta tahun lalu. Sehingga, masa depan Darmizal di dunia politik bisa jadi belum cemerlang melihat kondisi Demokrat sekarang.  Agaknya, dengan mendirikan REJO dan menjadi ketuanya, bisa jadi nasib Darmizal bisa baik.

 

Tidak hanya relawan pendukung Jokowi, relawan untuk tokoh lainnya yang berpotensi menjadi presiden juga banyak dibentuk. Ada relawan pendukung Tuan Guru Bajang (TGB) di beberapa daerah seperti Sumut dan Sulawesi Selatan.

Ada juga relawan yang menyebut namanya Presidium Gatot Nurmantyo untuk Rakyat (GNR). Relawan ini sangat menginginkan mantan panglima TNI itu menjadi presiden. Relawan ini dibentuk pada 6 April lalu.

Dan tentu saja, ada relawan Prabowo Subianto. Tokoh ini memang menjadi pesaingan utama Jokowi untuk pilpres 2019. Adalah Andre Rosiade, elite Gerindra yang mendirikan dan menjadi ketua umum Relawan Dunsanak Prabowo. Rencananya, deklarasi Relawan Dunsanak Prabowo dilakukan pada Mei ini.

Semua relawan itu berpotensi mendapat 'hadiah' berupa jabatan di pemerintahan atau DPR. Tetapi ada syaratnya, tokoh-tokoh yang didukung harus bisa menjadi  pemenang pilpres 2019.

 

 

*) Penulis adalah redaktur Republika.co.id

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES