Minggu, 9 Zulqaidah 1439 / 22 Juli 2018

Minggu, 9 Zulqaidah 1439 / 22 Juli 2018

Membaca ‘Il Principe’ karya Machiavelli di Tahun Politik

Senin 16 April 2018 05:05 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Machiavelli.

Lukisan terbunuhnya Kapten Tack semasa geger Surakarta pada masa Amangkurat II. (foto:wereldculturen.nl)

Foto:
Karya Machiavelli ini dianggap tak semenarik main medsos.

Selanjutnya Machiavelli menulis:  Ada satu contoh yang masih hangat yang tidak akan saya lewatkan. Alexander VI selalu dan hanya memikirkan bagaimana menipu orang lain. Ia selalu menemukan korban penipuannya. Tidak pernah ada orang yang mampu mengatakan dengan sangat meyakinkan atau begitu mudah bersumpah atas kebenaran sesuatu dan yang tidak menghormati janji.

Namun tipuan-tipuannya selalu menghasilkan apa yang diinginkannya. Karena ia ulung dalam menguasai ilmu menipu.Karena itu, seorang raja tidak perlu memiliki semua sifat baik yang saya sebutkan di atas, tetapi ia tentu saja harus bersikap seakan-akan memilikinya.

Saya bahkan berani mengatakan bahwa jika ia memiliki sifat-sifat ini dan selalu bertingkah laku sesuai dengannya ia akan mengalami bahwa sifat-sifat tersebut sangat merugikannya. Jika ia nampaknya saja memilikinya, sifat-sifat tersebut akan berguna baginya. Ia sebaiknya nampak penuh pengertian, setia akan janji, bersih dan alim. Dan memang ia seharusnya demikian.

Tetapi situasinya harus demikian. sehingga jika ia juga memerlukan sifat kebalikannya, ia mengetahui bagaimana menggunakannya. Anda harus menyadari hal ini: seorang raja dan khususnya seorang raja baru, tidak dapat menaati semua hal yang menyebabkan orang dipandang hidup baik, karena untuk mempertahankan negaranya ia kerap kali terpaksa bertindak berlawanan dengan kepercayaan orang, belas kasih, kebaikan dan agama. Dan karena itu disposisinya harus luwes, berubah seirama dengan bimbingan keberuntungan dan keadaan.

Sebagaimana saya utarakan di atas, ia tidak boleh menyimpang dari yang baik, jika itu mungkin, tetapi ia harus mengetahui bagaimana bertindak jahat, jika perlu.Oleh sebab itu, seorang raja haruslah sangat hati-hati untuk tidak mengatakan sepatah kata pun yang tidak nampak terilhami oleh lima sifat yang saya sebutkan di atas. Bagi mereka yang menghadap dan mendengarkan dia, dia harus tampak bersikap penuh pengertian, seorang yang dapat dipercaya kata-katanya, seorang yang matang dewasa, seorang yang baik budi dan alim. Dan tidak ada hal yang lebih penting untuk bersikap seakan-akan memiliki kedua sifat terakhir tersebut.

Orang pada umumnya menilai sesuatu lebih berdasarkan apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka rasakan. Karena orang dapat melihat, tidak banyak yang mampu berhubungan dekat dengan Anda. Setiap orang melihat Anda tampil, sedikit saja yang mengetahui siapa Anda sebetulnya. Dan mereka yang sedikit jumlahnya itu tidak berani melawan orang banyak yang didukung oleh kebesaran negara. Tindakan manusia pada umumnya dan khususnya tindakan para raja, kalau tidak ada urusan pengadilan, dinilai menurut akibatnya. Karena itu biarlah raja melakukan tugas untuk menaklukaan dan memerintah negara; cara-caranya akan selalu dinilai luhur dan akan dipuji dimana pun juga.

Rakyat biasa selalu terkesan oleh penampilan dan hasil. Dalam hubungan ini, hanya ada rakyat biasa dan tidak ada tempat bagi mereka yang berjumlah sedikit karena yang banyak mendapat dukungan negara. Seorang penguasa tertentu zaman kita sekarang ini, yang lebih-baik tidak disebut namanya, tidak pernah berkotbah kecuali tentang perdamaian dan kesetiaan. Dan dia adalah musuh dari kedua hal tersebut dan seandainya ia pernah menghormati salah satu dari kedua hal tersebut, pasti ia akan berkali-kali kehilangan negara dan kedudukannya.

Jadi itulah yang ada di buka Buku Il Principe karya Machiavelli!

photo

Tulisan tangan Machiavelli untuk buku 'Il Principe'. (foto:pinterst)

*Muhammad Subarkah, jurnalis Republika.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA