Tuesday, 10 Zulhijjah 1439 / 21 August 2018

Tuesday, 10 Zulhijjah 1439 / 21 August 2018

Mancing Konde, Muslim Sontoloyo: Nasib Puisi Sukmawati

Rabu 04 April 2018 05:07 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Sukmawati Soekarnoputri

Sukmawati Soekarnoputri

Foto: Antara/Fanny Octavianus
Sebuah karya pena terbukti lebih tajam dari 1000 pucuk bayonet.

Oleh: Muhammad Subarkah*

Belum saja reda, soal cacing dalam makanan kalengan, publik dibuat terkaget-kaget dengan celotehan puisi ‘konde’ Sukmawati Soerkanoputri ketika hadir dalam acara Indonesia Fashion Week 2018, yang memamerkan koleksi baju kebaya karya desiner Ane Avantie. Isi puisi tak ada yang luar biasa. Kalau anda pembaca dan penikmat puisi karya itu sangat biasa saja. Tak ada pencapaian estetik yang sublim di sana.

Tentu tak berlebihan Prof Sukron Kamil, Guru Besar Sastra dan Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengatakan puisi Sukmawati tak ada yang istimewa. Bahkan kata puisi i tidak itu tepat apabila harus menyandingkan antara budaya nusantara dengan syariat Islam.

"Ada kecenderungan islamophobia ketika dia membandingkan antara kidung Indonesia dengan azan. Ini problematik secara antologi seni Islam atau kebudayaan Islam. Itu nampak sekali di dalam soal itu," kata Sukron.

photo

Pakain perempuan orang Melayu Mingkabau yang juga bagian dari budaya Indonesia ternyata tak pakai konde, gelung, dan kebaya.

Nah agar lebih jelas mari baca puisi yang memantik kembali kontroversi seru itu. Banyak orang dan pihak tersinggung. Lucunya, banyak pula yang selama ini merasa ‘sekuler’ atau tak peduli Islam ribut di media sosial dengan nada marah-marah. Sementara banyak yang selama ini dianggap ‘Islamis’ tenang-tenang saja. Entah ada apa ini?

Pusi itu berjudul 'Ibu Indonesia':

Aku tak tahu Syariat Islam

Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah

Lebih cantik dari cadar dirimu

Gerai tekukan rambutnya suci

Sesuci kain pembungkus ujudmu

Rasa ciptanya sangatlah beraneka

Menyatu dengan kodrat alam sekitar

Jari jemarinya berbau getah hutan

Peluh tersentuh angin laut

Lihatlah ibu Indonesia

Saat penglihatanmu semakin asing

Supaya kau dapat mengingat

Kecantikan asli dari bangsamu

Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif

Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia

Aku tak tahu syariat Islam

Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok.

Lebih merdu dari alunan azanmu

Gemulai gerak tarinya adalah ibadah

Semurni irama puja kepada Illahi

Nafas doanya berpadu cipta

Helai demi helai benang tertenun

Lelehan demi lelehan damar mengalun

Canting menggores ayat ayat alam surgawi

Pandanglah Ibu Indonesia

Saat pandanganmu semakin pudar

Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu

Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya.

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Jamaah Haji Berwukuf di Arafah

Senin , 20 August 2018, 23:56 WIB