Thursday, 18 Syawwal 1443 / 19 May 2022

Peace Building untuk Afghanistan

Rabu 21 Mar 2018 04:31 WIB

Red: Joko Sadewo

Andi Nur Aminah

Andi Nur Aminah

Foto: dok. Pribadi
Peace building penting untuk meningkatkan kepercayaan kelompok yang bertikai

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh Andi Nur Aminah*

Afghanistan. Jujur, saya tak pernah membayangkan akan menjejakkan kaki di negara tersebut. Namun takdir saya adalah harus menginjakkan kaki di negara yang penuh gejolak lebih dari empat dekade itu. Tiga hari di sana, mungkin terbilang singkat. Namun ke Afghanistan sesingkat itu, cukup menorehkan banyak cerita.

Saat persiapan ke sana saja, sudah menyisakan cerita khusus. Paspor saya, sebetulnya sudah kedaluarsa akhir Maret ini. Itu berarti, saya harus mengurus perpanjangannya dalam waktu kilat. Satu hal yang saya ingat, tatkala petugas imigrasi menanyakan, negara mana yang akan saya tuju. Dengan lugas, saya jawab: "Afghanistan".

Ada dua petugas imigrasi melontarkan pertanyaan sama. Komentar petugas pertama: "Wah, apa tidak ada negara lain ya, mbak? Kenapa tidak ke Paris saja?" ujarnya. Saya tahu, dia hanya bercanda. Apalagi saat tahu saya akan berangkat dengan rombongan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla.

Komentar petugas kedua, kebetulan seorang perempuan: "Tidak khawatir mbak? Di sana kan masih konflik ya...". Saya hanya menjawab, rasa khawatir ada, tapi saya berserah diri saja kepada Yang Maha Kuasa. Rasa khawatir yang agak berlebih mungkin justru dirasakan putri sulung saya. Begitu tahu negara mana yang akan saya datangi, dia langsung bertanya ke Paman Google. Dia sempat melarang saya pergi. Namun saya berusaha menyakinkannya, semua akan baik-baik saja.

Afghanistan. Menyebut negara ini, yang pertama terbayangkan adalah sebuah negara yang terbelakang akibat sisa-sisa konflik yang berkepanjangan. Saya membayangkan, akan menyaksikan tentara-tentara yang masih bergerilya di tengah permukiman penduduk, anak-anak yang mungkin kurang terawat, yang kurang bisa menikmati keceriaan mereka dengan bermain bebas, seperti anak-anak sebayanya di negara lain.

Saya membayangkan perkampungan yang kumuh, orang-orang yang sulit mendapatkan makanan, banyak pengemis, air yang susah dan lainnya. Tapi hal yang tak mau saya bayangkan adalah, mendengarkan desingan peluru, ledakan bom atau pertumpahan darah! Gusti Allah, dalam doa saya sebelum bertolak ke Kabul, semoga  hal itu tidak saya alami.

Apa yang saya bayangkan, beberapa memang terlihat nyata. Tentara dengan senjata laras panjang hampir ada di setiap sudut kota. Namun aktifitas perekonomian tetap berjalan. Kehadiran tentara yang berjaga-jaga, sepertinya menjadi biasa saja. Mereka terlihat masih bisa menenggak jus buah di tepi jalan, masih terlihat mengerubuti pedagang kaki lima yang menjajakan makanan sejenis roti ataupun kacang-kacangan ataupun mengerumuni penjual baju hangat yang menggelar lapaknya di bahu jalan.

Alhamdulillah, doa saya terkabul, tiga hari di Kabul, semuanya aman-aman saja. Entah karena selama Wapres Jusuf Kalla berada di sana, sepertinya rombongan ini memang dalam pengawalan tertutup yang cukup ketat. Meski demikian, antisipasi keamanan tetap diberlakukan. Paspampres selalu siaga mengiringi Wapres. Saya, yang menjadi bagian dari rombongan kenegaraan itu, juga harus rela mengenakan rompi antipeluru kemana-mana serta berkendara dengan mobil antiranjau.

Kedatangan Wapres Jusuf Kalla ke Afghanistan, menjalankan misi penting. Dalam Konfrensi Proses Kabul II yang berlangsung di Istana Haram Sarai, Kabul, Rabu (28/2), misi penting JK adalah menyakinkan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani dan seluruh peserta konferensi, bahwa Indonesia siap menjadi tuan rumah pertemuan ulama dari tiga negara, yakni Afghanistan, Pakistan dan Indonesia.

Mengapa di Indonesia? Wapres JK menyebut karena mereka, pihak yang bertikai, percaya pada Indonesia sebagai negara yang netral dan tak punya kepentingan apa pun selain mewujudkan Afghanistan yang damai. Presiden Ghani pun, di forum tersebut melontarkan statemen yang cukup penting.

Dalam bahasa lokal, Presiden Ghani menyampaikan akan menawarkan perundingan damai dengan Taliban. Presiden Ghani bahkan tak mengajukan syarat apapun kepada Taliban bila bersedia duduk di meja perundingan.

Hal penting lain yang ditawarkan Ghani adalah mengajukan tawaran gencatan senjata dan pembebasan anggota Taliban yang kini ditahan. Ia juga mengatakan bahwa dirinya siap menerima peninjauan kembali konstitusi sebagai bagian dari sebuah perjanjian dengan Taliban.

Sekembalinya dari Kabul, JK pun menggelar rapat dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Di rapat tersebut JK membicarakan persiapan pertemuan para ulama Afghanistan, Pakistan, dan Indonesia pada Maret 2018 ini. JK menyebut pertemuan ulama tiga negara ini sangat penting sebagai salah satu upaya proses perdamaian di Afghanistan. Wapres menyebut pertemuan itu adalah sebuah 'payung' sebelum membahas hal yang lebih teknis.

Wapres JK berpendapat perlu ada pandangan yang sama tentang perdamaian dari sisi agama. Memang, sampai saat ini, belum jelas hari H pertemuan tiga ulama dari tiga negara yang dimaksud. Namun pertemuan yang rencananya akan digelar di Jakarta dan akan diikuti perwakilan 15 ulama dari ketiga negara itu, adalah sebuah upaya membangun peace building.

JK menyebut, peace building penting untuk meningkatkan kepercayaan individu terutama kelompok yang bertikai di Afghanistan. Sejumlah literatur memaknai peace building sebagai upaya atau tindakan untuk mengidentifikasi dan mendukung struktur-struktur guna memperkuat perdamaian untuk mencegah suatu konflik yang telah didamaikan berubah kembali menjadi konflik.

Peace building lahir setelah berlangsungnya konflik. Cara ini bisa berupa proyek kerja sama konkret yang menghubungkan dua atau lebih negara yang menguntungkan di antara mereka. Dan itu, coba dilakukan oleh Indonesia. Semoga damai segera terwujud di Afghanistan!

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA