Jumat, 7 Zulqaidah 1439 / 20 Juli 2018

Jumat, 7 Zulqaidah 1439 / 20 Juli 2018

Pintu Gerbang Baru dari Egy Maulana Vikri

Senin 19 Maret 2018 11:22 WIB

Red: Endro Yuwanto

Egy Maulana Vikri

Egy Maulana Vikri

Foto: IG @egymaulanavikri
Wajar bila kiprah Egy di Eropa nanti akan terus dipantau banyak pihak di Tanah Air.

Oleh Endro Yuwanto *)

 

REPUBLIKA.CO.ID, Egy Maulana Vikri memutuskan bergabung dengan klub Polandia, Lechia Gdansk. Pemain belia Indonesia ini resmi diperkenalkan pada 11 Maret 2018 lalu dan dikontrak selama tiga tahun.

Akan tetapi, pemain asal Medan, Sumatra Utara itu baru bisa merumput setelah 8 Juli 2018 atau pada saat usianya sudah menginjak 18 tahun. Kepercayaan Gdansk terlihat begitu besar kepada pemuda kelahiran 17 tahun silam ini. Gdansk sudah lama memantau perkembangan Egy sehingga akhirnya berani menyodorkan kontrak.

Bila Egy resmi merumput nanti, pemain timnas Indonesia ini akan tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang bermain di tanah kelahiran striker kawakan Polandia Robert Lewandowski yang kini membela Bayern Muenchen. Bahkan, di level Asia Tenggara pun Egy akan menjadi sosok yang pertama.

Keberhasilan Egy menembus klub Eropa pantas untuk disyukuri penggemar dan penikmat sepak bola di Tanah Air. Sudah terasa begitu lama dan bahkan nyaris jarang, nama pesepak bola negeri ini terdengar berkarier di kancah sepak bola Eropa yang penuh ingar-bingar kompetisi bergengsi antarklub elite. Sebuah benua yang menjadi tujuan utama talenta-talenta terbaik dari penjuru dunia.

Pada 1990-an, Indonesia pernah memiliki Kurniawan Dwi Julianto yang menjadi idola para pencinta sepak bola di Tanah Air. Pesepak bola seangkatan legenda Italia dan Juventus Alessandro del Piero ini pernah menimba ilmu di klub Serie A Liga Italia, Sampdoria. Mantan striker langganan timnas Indonesia itu juga sempat memperkuat klub Liga Super Swiss, FC Luzern. Sayang, karier Kurniawan tak begitu lama, hanya sekitar semusim. Lantaran persoalan pribadi, ia memilih kembali ke Indonesia.

Striker langganan timnas lainnya, Bambang Pamungkas, juga sempat bergabung dengan klub Divisi III Belanda, EHC Norad pada 2000 silam. Namun masalah keluarga dan kegagalan dalam menyesuaikan diri dengan cuaca Eropa menyebabkan Bambang hanya bertahan empat bulan di sana.

Syamsir Alam juga disebut-sebut sebagai penerus era Bambang Pamungkas. Pada 2011 hingga 2013, Syamsir membela klub Divisi II Belgia Vice. Namun akibat didera cedera punggung, pemain yang lahir pada 6 Juli 1992 tersebut kembali ke Tanah Air dan hingga kini kesulitan untuk menemukan level terbaiknya.

Ada pula beberapa pesepak bola muda Indonesia yang sempat mencoba peruntungan dengan melakukan trial di sejumlah klub Eropa. Namun, belum ada kabar yang menggembirakan dari sana.

Memang tak mudah bagi pesepak bola Indonesia untuk meniti karier di Eropa. Tak hanya skill, bahasa, dan adaptasi cuaca, mental pun sangat berpengaruh bagi pesepak bola dalam negeri untuk merumput di Benua Biru.

Belum juga tampil bersama Lechia Gdansk, Egy sudah mendapat tekanan dari gelandang veteran Gdansk, Sebastian Mila. Mila mengeluarkan sentilan setelah manajemen memberikan jersey nomor 10 kepada pemain muda Indonesia itu.

Ketika diperkenalkan pada akhir pekan kemarin, manajemen memang memberikan Egy jersey warna garis vertikal putih-hijau dengan nomor punggung 10. Nomor tersebut sama dengan yang dipakai Mila pada musim ini.

Melalui akun Twitter resminya, Mila mengunggah gambar bersama rekannya di sebuah toko merchandise. Pemain berusia 35 tahun ini juga terlihat memegang jersey berwarna hijau nomor punggung 10 yang bertuliskan namanya.

Saat Gdansk kembali menelan kekalahan dari tuan rumah Lech Poznan 0-3 dalam lanjutan Liga Polandia Ekstraklasa, pada Sabtu (17/3) WIB. Dari akun Twitter @OwskiMateusz, ultras tuan rumah rupanya sudah menyiapkan banner khusus untuk Gdansk.

Banner tersebut ditunjukan kepada Egy. Ultras Lech Poznan menyindir Gdansk yang telah merekrut Egy dengan membentangkan banner tulisan nada kasar menggunakan bahasa Indonesia 'Lechia Gdansk Sial Pela**r' dengan gambar Egy sedang tersenyum menggunakan ikat kepala Lechia Gdansk.

Padahal, saat itu Egy tidak ikut dalam skuat Lechia Gdansk maupun di bangku penonton karena telah kembali ke Indonesia usai mendapat panggilan membela timnas Indonesia. Bayangkan, belum juga merumput bersama Gdansk, tekanan demi tekanan sudah menghampiri Egy di sana.

Egy agaknya harus bisa membuktikan diri bahwa ia memang pemain istimewa yang layak merumput di Eropa. Egy harus memiliki mentalitas yang kuat karena panggilan untuk tampil membela sebuah klub Eropa bukanlah akhir dari usaha dan kerja keras.

Egy pun dituntut untuk senantiasa mengembangkan potensi diri dan pantang berpuas hati. Terlebih, sebuah klub Eropa hanya akan mengontrak seorang pemain, andai si pemain punya kualitas lebih baik dari kebanyakan produk lokal yang tersedia di negaranya.

Siswa Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Ragunan ini seyogianya memiliki kemampuan adaptasi yang cepat dan memiliki karakter kuat plus kedisiplinan. Di Eropa, bisa jadi sistem latihan lebih berat dan disiplin, on time adalah segalanya. Para pemain diminta untuk bisa mengelola waktunya dengan sangat baik. Selain itu, karakter kuat juga akan sangat penting bagi Egy untuk bersikap dengan sesama pemain dan pelatih serta staf kepelatihan. Konsistensi pun akan menjadi kunci di sana.

Pun tak usah berkecil hati bila Egy 'hanya' berlaga di kompetisi Liga Polandia yang bukan termasuk kompetisi elite di Benua Biru. Toh, sebenarnya kekuatan klub-klub di Eropa kini bisa dikatakan mulai merata, meski bertahun-tahun kompetisi Serie A Liga Italia, Liga Primer Inggris, La Liga Spanyol, Primeira Liga Portugal, dan Ligue 1 Prancis lebih terlihat mendominasi dan sering menghiasi pemberitaan hingga sampai ke telinga para penggemar bola di Indonesia.

Tengok saja kompetisi Liga Europa musim ini. Terlihat betapa meratanya kekuatan klub-klub di sejumlah negara Eropa. Baru terjadi pertama kali dalam sejarah Liga Europa, delapan klub yang memastikan lolos ke perempat final berasal dari negara yang berbeda. Yakni Red Bull Salzburg (Austria), Arsenal (Inggris), Marseille (Prancis), RB Leipzig (Jerman), Lazio (Italia), Sporting CP (Portugal), CSKA Moskva (Rusia), dan Atletico Madrid (Spanyol).

Egy bukan tak menyadari tantangan di depannya pada 8 Juli nanti. Ia mengaku akan sepenuh hati bermain untuk klub asal pelabuhan yang kini terancam degradasi itu. Egy menegaskan untuk saat ini hati dan pikirannya akan dicurahkan untuk Gdansk. Pemain jebolan timnas U-19 itu pun berjanji akan berusaha beradaptasi dengan cepat, baik dari cara dan mental bermain, cuaca, maupun bahasa.

Adalah sangat wajar bila kiprah Egy di Eropa nantinya akan terus dipantau banyak pihak di Tanah Air, termasuk pemerintah, pelatih timnas Indonesia Luis Milla, dan PSSI. Jika Egy mampu menerjang semak belukar hutan belantara kancah sepak bola Eropa, jika Egy mampu menunjukkan level permainan tingkat tinggi, dan jika Egy mampu menjadi duta sepak bola Indonesia dengan permainan terbaiknya, bukan mustahil Egy akan menjadi pintu gerbang baru bagi para pemain Indonesia untuk dilirik klub-klub Eropa.

*) Jurnalis Republika Online

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA