Kamis, 7 Syawwal 1439 / 21 Juni 2018

Kamis, 7 Syawwal 1439 / 21 Juni 2018

Atlet Juga Butuh Imunisasi

Ahad 11 Maret 2018 06:00 WIB

Red: Joko Sadewo

Reiny Dwinanda

Reiny Dwinanda

Foto: istimewa/doc pribadi
Vaksinasi influenza penting untuk mengantisipasi serangan flu pada para atlet

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Reiny Dwinanda*

Indonesia menempuh langkah maju dalam perlindungan kesehatan atletnya. Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) telah memprogramkan pemberian vaksin influenza bagi atlet yang akan berlaga di Asian Games 2018 di Palembang dan Jakarta.

Kemenpora beralasan vaksinasi influenza penting untuk mengantisipasi serangan flu pada para atlet yang akan berjuang memasukkan Indonesia ke dalam peringkat 10 besar Asian Games. Target 16 medali emas akan semakin sulit digapai jika atlet terusik virus flu.

Pemberian vaksin memang tidak terbatas untuk anak-anak semata. Di usia 18 tahun, orang sudah membutuhkan booster. Mengapa harus vaksin influenza? Di Indonesia, kasus influenza ada sepanjang tahun. Rata-rata, orang mengalaminya tiga sampai empat kali setahun.

Influenza bukanlah pilek batuk biasa. Virusnya memang sama-sama menyebar melalui percikan liur penderitanya ketika bersin, batuk, ataupun bersentuhan. Akan tetapi, influenza dapat menyebabkan komplikasi berat pada penderitanya.

Rencananya, program pemberian vaksin influenza akan mulai digulirkan pada bulan April-Mei mendatang. Kepala Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dan Kesehatan Olahraga Nasional (PP ITKON) Edi Nurinda Susila mengatakan jadwalnya akan disesuaikan dengan agenda Pelatnas.

Vaksin akan bekerja sekitar satu hari sampai dua pekan setelah imunisasi. Itu artinya, saat Asian Games pada 18 Agustus mendatang, para atlet telah terlindung dari sekitar tiga sampai empat strain virus influenza.

Ricky Soebagja mengangkat jempolnya untuk program imunisasi gratis tersebut. Seingatnya, sepanjang kariernya sebagai atlet, pemerintah belum pernah mewajibkan olahragawan profesional untuk mengikuti imunisasi. Semua diserahkan kepada masing-masing atlet.

Kemenpora mulai mensosialisasikan program imunisasi influenza sejak awal Maret lalu. Risiko penolakan terhadap pemberian vaksin harus diminimalisir dengan pemberian informasi sejelas mungkin terkait manfaat dan efek samping yang mungkin terjadi. Perlu diingat, vaksin influenza tak boleh diberikan oleh orang yang alergi berat terhadap telur dan antibiotik.

Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Mulyana mengungkapkan flu akan menyebabkan kelelahan pada atlet. Otomatis, performanya pun akan merosot. Di samping itu, atlet yang terserang flu dapat menjadi sumber penularan bagi orang-orang di sekitarnya.

Efek sampingnya tak seberapa. Ada kalanya bekas suntikan akan terasa nyeri, kemerah-merahan, atau bengkak.

Sementara itu, wabah difteri sempat membuat Indonesia mendapat sorotan media asing terkait kesiapannya menghelat Asian Games. Pada 2017 lalu, ada 20 provinsi yang mengalaminya. Jakarta dan Palembang termasuk di antaranya.

Menteri Kesehatan Nila Moeloek optimistis penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diphteriae itu akan tereliminasi paling lambat Juli mendatang, sebulan sebelum pelaksanaan Asian Games. Pada Januari lalu, Outbreak Response Immunization atau imunisasi ulang telah mencakup 75 persen dari target.

 

Atlet asing

Lantas, sudah amankah Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 2018? Sepertinya belum. Tak adil jika atlet lokal saja yang harus melakukan upaya pencegahan penyebaran penyakit.

Asian Games akan diikuti oleh 45 negara. Atlet, pelatih, official, dan mungkin juga keluarga atau suporter yang akan berbaur di Jakarta dan Palembang. Bukan mustahil, di antara para tamu tersebut ada yang membawa kuman dari negaranya.

Menteri Kesehatan tampaknya telah melihat celah itu. Dia mengantisipasinya dengan mengharuskan atlet lain menyertakan sertifikat imunisasi sebelum masuk ke Indonesia. Langkah tersebut bukan hal asing di pesta olahraga dunia. Olimpiade Musim Panas 2016 di Brazil pernah membunyikan alarm di seluruh dunia. Olimpiade Rio dianggap sebagai ancaman terhadap kesehatan global lantaran virus Zika tengah merebak dan berpotensi menginfeksi atlet dan pelancong.

World Health Organization kemudian membuat daftar vaksin yang direkomendasikan bagi mereka yang akan berangkat ke Rio de Janeiro. Sebelumnya, pada Olimpiade Musim Dingin 2010, Vancouver, Kanada tengah dilanda pandemi influenza H1N1. Imunisasi pun direkomendasikan sebagai langkah preventif.

Di tahun yang sama, Piala Dunia Afrika Selatan dibayangi serangan penyakit meningokokus. Penyakit ini juga bisa dicegah dengan imunisasi.

Atlet profesional yang sering bertanding ke luar negeri terpantau rentan  terinfeksi virus Hepatitis A, Hepatitis B, Human Papilloma, influenza, meningokokus, campak, gondongan, batuk rejan, dan tetanus. Bukan cuma rekan sesama atlet yang dapat menularkan. Lawan tanding, para staf, keluarga, dan penonton juga dapat menjadi pembawa virus.

Terkait penyelenggaraan Asian Games, Kemenkes memantau ada beberapa penyakit yang mungkin masuk ke Indonesia bersama para tamu asing. Penyakit MERS, Corona virus, Zika, dan Ebola termasuk di antaranya. Belum lagi penyakit yang mungkin muncul dari perilaku berisiko, seperti seks bebas tanpa pengaman dan penyalahgunaan obat.

Merujuk ke kasus-kasus tersebut, tak berlebihan jika kemudian Kemenkes mendesak Kemenpora untuk mendiskusikan masalah implementasi dari kebijakan terhadap atlet asing.  Semoga Asian Games 2018 akan meninggalkan kesan baik menyusul kesigapan pengendalian penyakit menular di Indonesia.

 

*) Penulis adalah Redaktur Republika.co.id

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES