Kamis, 7 Syawwal 1439 / 21 Juni 2018

Kamis, 7 Syawwal 1439 / 21 Juni 2018

KRL Moda Transportasi yang Dicari Sekaligus Dicaci

Kamis 08 Maret 2018 14:52 WIB

Red: Joko Sadewo

Gita Amanda, Jurnalis Republika

Gita Amanda, Jurnalis Republika

Foto: gita
Jumlah penumpang KRL pernah mencapai lebih dari satu juta penumpang per hari.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Gita Amanda*

Suatu siang, Nuraini mengeluh. Perempuan 30 tahunan itu memang baru kali ini rutin menggunakan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line untuk beraktivitas. Sebelumnya, ia hanya sesekali naik kereta.

"Aku nggak kuat naik kereta, pergi pulang selalu penuh dan berdiri. Belum kalau harus berdesakkan," ujarnya kala itu.

Apa yang dirasakan Nuraini rasanya juga dirasakan ribuan pengguna KRL lainnya. Setiap hari para Anker alias Anak Kereta, harus rela berjejalan dengan sesama penumpang demi dapat "menikmati" moda transportasi yang dinilai paling cepat di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) ini.

Meski kerap padat penumpang, tak dimungkiri KRL memang paling diminati terutama oleh para pekerja urban yang tinggal di wilayah satelit ibu kota. Sebab ini satu-satunya moda yang tak menemui kemacetan jalan yang kian menggila.

Menurut situs resmi KRL, PT KAI Commuter Indonesia (KCI) mencatat pada Mei 2017, jumlah pengguna KRL mencapai rekor tertinggi yakni lebih dari satu juta penumpang dalam satu hari perjalanan kereta. Ini rekor tertinggi sepanjang sejarah beroperasinya KRL di Indonesia.

Jumlah satu juta pengguna ini dianggap Direktur Utama PT KCI Muhammad Nurul Fadhila sebagai cerminan kepercayaan dan apresiasi masyarakat Jabodetabek pada PT KCI.

Sejak 2016 KCI mengaku memang terus melakukan perbaikan layanan. Seperti perpanjangan rangkaian dengan mengoperasikan KRL formasi 12 gerbong kereta per rangkaian. Sejalan dengan itu, KRL dengan formasi delapan gerbong mulai dikurangi.

Mulai akhir 2015 bahkan KCI telah mengoperasikan 18 rangkaian armada KRL yang terdiri dari 12 gerbong dan 31 armada KRL dengan 10 gerbong. Meski sudah melakukan penambahan gerbong nyatanya, jumlah penumpang KRL masih tak sebanding dengan jumlah gerbong yang ada.

Pemerintah memperkirakan pada tahun 2018, rata-rata penumpang yang akan menaiki KRL sebanyak 877 ribu penumpang per hari. Apabila dibandingkan dengan rata-rata penumpang per hari yang menggunakan KRL di tahun 2017 sebanyak sekitar 800 ribu, terdapat kenaikan penumpang KRL sebesar 9,6 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto mengatakan jumlah penumpang kereta Jabodetabek atau commuterline secara keseluruhan meningkat 2,45 persen pada Agustus 2017 dibandingkan dengan Juli 2017. Jumlah penumpang kereta Jabodetabek sebanyak 27,7 juta orang, mengambil porsi 81,91 persen dari total penumpang kereta api keseluruhan.

Jumlah penumpang angkutan kereta api pada Agustus 2017 adalah 33,8 juta orang dan mayoritas penumpang Jabodetabek.

Sepanjang 2017 PT KCI malah mencatat telah melayani lebih dari 315 juta penumpang. Angka tersebut melebihi target volume penumpang pada 2017 sebesar 292 juta penumpang.

Banyak pengguna moda transportasi di Jabodetabek berharap KCI terus meningkatkan pelayanannya, terutama jumlah armadanya. Sebab semakin lama, kondisi angkutan umum satu ini rasa-rasanya kian tak manusiawi. Terlebih di jam-jam sibuk, meski sudah tak ada lagi jam sibuk melihat kondisi KRL yang kerap penuh hingga di akhir pekan.

Ini juga bisa jadi ''pengingat'' bagi pemerintah, betapa sebenarnya masyarakat merindukan moda transportasi yang cepat, layak serta nyaman. Bukan masyarakat tak mau menggunakan moda transportasi publik, tapi mereka butuh moda yang mampu ''memanusiakan manusia''. Bukan membuat masyarakat seperti sarden di dalam kaleng kemasan.

*) Penulis adalah Redaktur Republika.co.id

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES