Rabu, 5 Zulqaidah 1439 / 18 Juli 2018

Rabu, 5 Zulqaidah 1439 / 18 Juli 2018

Siapkah Kita Menyambut Teknologi Generasi Kelima?

Sabtu 03 Maret 2018 20:21 WIB

Red: Didi Purwadi

Wartawan Republika, Winda Destiana Putri

Wartawan Republika, Winda Destiana Putri

Foto: Dok. Pribadi
Jaringan 5G masih sulit karena Indonesia belum memiliki frekuensi 0-100GHz.

Oleh: Winda Destiana Putri

Redaktur Repulika.co.id

Sejak 2014 silam, isu jaringan 5G sudah gencar berkumandang di negara-negara maju. Di awal 2015, Indonesia justru masih sibuk menggencarkan pengenalan jaringan 4G di berbagai wilayah. Meski saat ini jaringan 4G di Indonesia sudah terakses, masih ada beberapa wilayah yang bahkan hanya bisa menerima jaringan 2G. Di Jakarta sendiri, masih ada beberapa titik yang belum tercover oleh jaringan 4G, lalu apakah mungkin Indonesia siap menghadapi 5G?

Bicara soal jaringan atau koneksi internet di Indonesia memang agak mengecewakan. Bukan hanya masalah operator seluler, meski sudah menggunakan kabel optik sekalipun, kualitas internet di Indonesia masih jauh dikatakan 'baik'. Banyak operator perang tarif. Terlebih ketika jaringan 4G LTE sudah masuk ke Indonesia. Masyarakat dihadapkan pada harga yang jauh berbanding terbalik dari kualitas. Kelebihan sinyal 4G memang lebih cepat ketimbang 3G atau bahkan 2G. Akan tetapi, hal itu justru membuat kuota dan baterai ponsel cepat habis. Belum lagi jika terjadi cuaca ekstrem, semua provider akan sulit mengakses apapun.

Tak perlu jauh-jauh pergi ke daerah yang minim menara telekomunikasi, terkadang, di kota besar seperti Jakarta jaringan internet masih terasa lamban. Titi-titik tertentu seperti lapangan luas, atau daerah yang dikelilingi pepohonan menjadi kendala saat mengakses informasi menggunakan internet. Lalu, bagaimana kita siap menghadapi perkembangan teknologi jaringan yang lebih maju, sementara permasalahan mendasar belum teratasi.

Belum lagi masyarakat dihadapkan pada kenyataan bahwa bila mereka ingin merasakan kecepatan jaringan 4G LTE, gawai yang digunakan harus mendukung jaringan tersebut. Beberapa ponsel sebagian belum mengadopsinya, sehingga masyarakat harus merogoh kocek lebih dalam untuk merasakan kecepatan berselancar dengan jaringan tersebut.

Sementara itu, meski dihadapkan pada kemajuan teknologi dan daya beli masyarakat terhadap gawai anyar cukup tinggi, sebuah data yang dihimpun analisis Ericsson di akhir tahun kemarin menunjukkan jumlah pelanggan mobile di Indonesia menembus lebih dari 400 juta dalam jangka waktu enam tahun ke depan. Jumlah pelanggan long term evolution (LTE) 4G dan 5G akan menyumbang lebih dari 80 persen di tahun 2023. Bukan tidak mungkin Indonesia semakin gencar mempersiapkan diri menyambut 5G meski dirasa sulit. 

Yulianto Nasserudin selaku Head of Mobile & Fixed Broadband PT Ericson Indonesia mengatakan bahwa jaringan 5G masih sulit dikembangkan karena Indonesia belum memiliki frekuensi 0-100GHz untuk jaringan super cepat tersebut. "Kalau di Indonesia agak kesulitan (mengembangkan 5G) karena tidak ada frekuensinya. Jepang dan Korea akhirnya menggunakan frekuensi 4GHz sehingga kemungkinan Indonesia akan lebih lama menyediakan frekuensi itu, mungkin bisa sampai 2020 hingga 2022," katanya.

Dia juga menjelaskan, jaringan 5G mulai berkembang secara bertahap sejak tahun lalu di sejumlah negara. Namun, penyempurnaan baru akan tercapai di 2020 dengan nama 5G Evolution. "5G pada 2020 bukan sekadar evolusi network, tapi network society (masyarakat berjaringan)," katanya.

Di tahun 2023 mendatang, Ericsson memprediksi terdapat 1 miliar pelanggan 5G di dunia. Rencananya, jaringan tersebut akan diluncurkan di daerah perkotaan padat penduduk, dan mencakup 20 persen populasi di dunia. Negara yang akan menerima jaringan ini sudah diprediksi sejak awal, yakni Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, dan Cina.

Meski 5G akan segera tiba, untuk bisa menikmatinya dengan tenang tetap membutuhkan waktu yang cukup lama. Saat ini, 4G LTE tetap menjadi akses mobile yang dominan seraya menunggu 5G benar-benar bisa digunakan. Pelanggan 4G LTE juga akan mencapai 5,5 miliar. Angka tersebut mencakup lebih dari 85 persen populasi dunia hingga akhir 2023.

Membahas jaringan internet, ketersediaan operator selular dan gawai yang mumpuni juga menjadi poin penting. Pada Oktober 2017, Telkomsel secara resmi ditunjuk pemerintah untuk menyiapkan komponen yang mendukung 5G hadir di Indonesia. Itu artinya, Telkomsel resmi memenangkan lelang untuk frekuensi 2.3 GHz.

Hal itu membuat Menkominfo Rudi Rudiantara merasa percaya diri untuk melakukan uji coba jaringan 5G pada saat Asian Games 2018 yang akan berlangsung di Jakarta dan Palembang. "Ranah komersial 5G memang belum bisa untuk Asian Games nanti, tapi sekadar uji coba boleh saja," jelas Rudi. Acara akbar Asian Games juga diharapkan bisa memperkenalkan teknologi 5G pada masyarakat sehingga memiliki gambaran terhadap perkembangan jaringan.

Lalu bagaimana dengan kesiapan dari perangkat seperti gawai. Meski 5G saat ini sedang digadang-gadang, penerapan teknologi 4G LTE sendiri masih belum merata ke beberapa daerah. Ini yang juga harus diperhatikan. Bagaimana mungkin terlalu sibuk menyiapkan diri untuk teknologi yang masih terasa sulit diterapkan, sementara teknologi yang sudah ada lebih dulu tidak merata. Akan lebih baik bila tugas pemerataan 4G LTE dituntaskan sebelum menyambut kehadiran generasi kelima.

Teknologi 5G pada dasarnya justru menitikberatkan pada konsumen. Masyarakat yang menggunakan jaringan ini akan terkena imbas ketersediaan perangkat. Saat ini, perangkat hanya mampu mendukung teknologi 4G saja, sehingga bisa dipastikan tidak dapat dipakai pada jaringan 5G. Dengan demikian, konsumen dituntut untuk membeli perangkat baru apabila 5G sudah terimplementasi. Diharapkan, ketersediaan perangkat yang mendukung jaringan generasi kelima ini benar-benar tidak memberatkan dari segi harga.

Melansir laporan Android Headlines pada akhir tahun lalu, Huawei merupakan satu-satunya perusahaan raksasa yang menyediakan jaringan 5G lengkap dengan gawai. Huawei juga berencana merilis chipset berkemampuan 5G dalam jajaran prosesor mobile Kirin. Chipset tersebut akan ditanam pada ponsel pintar.

Penelitian tersebut sudah dilakukan Huawei sejak 2009 dan dipastikan akan rilis sekitar 2019 atau 2020 mendatang. Di Indonesia, Smartfren sudah sejak dua tahun yang lalu mulai menjajal peruntungan dari segi kualitas kekuatan sinyal 5G dan juga akan dilengkapi dengan ponsel pintar nantinya tidak akan memberatkan masyarakat yang ingin beralih menjajal kecepatan 5G. Kita tunggu saja kabar baik dari perkembangan teknologi ini.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES