Thursday, 7 Syawwal 1439 / 21 June 2018

Thursday, 7 Syawwal 1439 / 21 June 2018

Kalau Bisa Aman, Kenapa tak Pakai Gelora Bung Karno?

Sabtu 24 February 2018 15:04 WIB

Red: Didi Purwadi

Wartawan Republika, Israr Itah

Wartawan Republika, Israr Itah

Foto: Dok, Pribadi
Steward diterjunkan untuk membantu pengelolaan keselamatan dan keamanan penonton.

Oleh: Israr Itah

Redaktur Republika.co.id

Masih hangat pembicaraan tentang kerusakan Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGB) setelah final Piala Presiden pada 17 Februari lalu. Oknum pendukung Persija, Jakmania beserta segelintir suporter Bali United menjadi sasaran perundungan, dituding kampungan, tak dewasa, dan banyak label negatif lainnya karena dianggap tak bisa menjaga stadion kebanggaan yang baru saja selesai direnovasi untuk event Asian Games 2018.

Dua gerbang masuk SUGBK jebol. Pagar pembatas kursi dengan lapangan juga ada yang rusak. Pusat Pengelolaan Kompleks Gelora Bung Karno (PPK-GBK) menaksir dibutuhkan Rp 150 juta untuk perbaikan kerusakan.

Tapi Jakmania tak mau begitu saja jadi 'kambing hitam'. Sebagian pemilik tiket mengeluhkan sulitnya masuk ke tribun penonton. Mereka mengatakan, pintu yang dibuka jumlahnya sedikit dan dengan jarak yang sempit, sementara puluhan ribu suporter yang masuk berjumlah besar. Belum lagi langkah mereka yang tertahan mesin pemindai karcis.

Pihak keamanan, khususnya polisi juga menolak disalahkan tak sigap mengantisipasi. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Raden Argo Yuwono menyayangkan pengrusakan tersebut. Ia mengaku sudah menurunkan di atas 10 ribu personel, dengan 5.000 di antaranya terkonsentrasi di stadion. Argo menyalahkan panitia yang tak siap mengantisipasi suporter yang tak memiliki tiket. Panitia, kata dia, harusnya menyediakan layar lebar bagi para suporter ini untuk menonton laga di seputar SUGBK.

Polisi sudah membagi area ke dalam sejumlah ring. Ini untuk pengaturan akses masuk orang-orang. Di ring dua, yakni area ring road di sekeliling SUGBK mestinya harus sudah steril dari orang-orang yang tak memegang tiket laga. Tapi, nyatanya masih ada yang bisa menerobos masuk walau tanpa akses resmi.

Pengaturan penonton lebih maksimal

Sebenarnya, hal seperti ini bisa dicegah jika prosedur keamanan sesuai regulasi FIFA diterapkan dengan maksimal. Pada pertandingan Piala Dunia misalnya, pengaturan penonton bahkan dimulai dari titik keberangkatan menuju stadion. Mulai dari stasiun, terminal, atau bandara.

Sudah ada alur yang jelas tentang titik turun penonton dari angkutan umum serta tempat parkir kendaraan pribadi yang biasanya terletak agak jauh dari stadion. Penonton yang memiliki kendaraan mesti berjalan. Jaraknya bisa sampai 1 km untuk mencapai pintu stadion dari tempat ia memarkirkan kendaraan. Petugas tinggal mengarahkan mereka melewati berbagai tahapan pemeriksaan.

Saat menyaksikan langsung Italia tersingkir di Piala Dunia 2010, saya merasakan betapa efektif dan efisiennya petugas keamanan pada pertandingan Azzurri kontra Slovakia di Ellis Park, Johannesburg. Mereka menerapkan sistem pemeriksaan berlapis yang tak mengurangi kenyamanan penonton. Semuanya berdiri di titik-titik yang telah ditentukan. Dengan memerhatikan gerak-gerik mereka saja, kita sedikit banyak dapat langsung paham tugas yang dibebankan kepada para petugas tersebut. Tak terlihat oknum pengamanan bergerombol seperti di sini, yang kita tak mengerti mereka sedang berbuat apa.

Tahapan pertama petugas memastikan penonton memiliki karcis. Selanjutnya, mereka memeriksa penonton apakah membawa barang berbahaya dan dilarang. Pemindaian tubuh juga dilakukan. Jika lolos, penonton tinggal memindai barcode di tiket mereka untuk membuka palang pintu menuju stadion.

Kalau di SUGBK, kita sudah tiba di ring road-nya. Tinggal memilih pintu masuk yang sesuai dengan tiket yang kita pegang untuk mendapatkan kursi yang menjadi hak kita. Di sana, kita diperiksa kembali, tapi sekenanya saja. Asal kita bisa menunjukkan tiket masuk, petugas langsung mempersilakan kita menuju bangku sesuai nomor di tiket. Sebab sejak awal kita sudah melewati prosedur keamanan yang ketat.

Prosedur keamanan serupa juga saya ikuti saat menonton keberhasilan Spanyol mengalahkan Jerman 1-0 pada laga semifinal di Stadion Moses Mabhida, Durban. Tentunya dengan alur yang sedikit berbeda karena lay out kedua stadion yang juga tak sama. Namun pada prinsipnya, pengecekan berlapis tanpa mengabaikan kenyamanan kita tetap diterapkan. 

Steward

Baiklah kalau memang pengamanan pertandingan Piala Dunia tidak apple to apple dijadikan contoh karena latar belakang penonton dan kelas sosialnya yang berbeda dengan pertandingan antarklub di Tanah Air. Kalau begitu, bagaimana dengan prosedur keamanan dalam pertandingan antarklub di Inggris? Tentu bisa dijadikan rujukan bukan?

Pertandingan sepak bola di Negeri Ratu Elizabeth itu harus mendapat sertifikasi keamanan dari Safety Advisory Group (SAG) lokal. SAG terdiri dari anggota klub yang bertanding, polisi, pemadam kebakaran, layanan ambulans, dan dewan lokal.

Setelah lampu hijau didapatkan dari SAG, polisi kemudian mengklasifikasikan pertandingan berdasarkan kategori risiko. Untuk pertandingan liga lokal yang minim bentrokan, polisi tak perlu menerjunkan personelnya. Keamanan diserahkan kepada steward klub tuan rumah.

Dalam pedoman keamanan FIFA, steward didefinisikan sebagai orang yang dipekerjakan, dikontrak, atau menjadi sukarelawan di stadion untuk membantu pengelolaan keselamatan dan keamanan penonton, VIP/VVIP, pemain, pejabat dan orang lain di stadion. Tidak termasuk anggota polisi yang bertanggung jawab untuk menegakkan hukum dan menjaga ketertiban.

Steward ini biasanya berdiri atau duduk di antara kursi penonton. Mereka mengawasi gerak-gerik penonton sepanjang laga dan tidak ikut menyaksikan pertandingan. Satu steward bertanggung jawab memantau area tribun yang telah ditentukan. Sungguh berbeda dengan petugas keamanan pertandingan di sini yang ada tidak hanya menonton laga, melainkan juga ikut merayakan gol.

Polisi hanya perlu mengirimkan wakilnya hadir di ruang kontrol keamanan agar steward bekerja dengan baik memastikan keamanan pada laga minim risiko ini. Keamanan meningkat saat pertandingan mempertemukan dua klub dengan rivalitas tinggi semisal Manchester United vs Manchester City atau Tottenham Hotspur vs Arsenal. Polisi dengan jumlah besar akan diturunkan. Jumlahnya sekitar....300. Benar, 300 saja! Itu sungguh angka yang besar di sana.

Mereka dibantu sekitar 700 steward yang akan memantau pergerakan suporter sejak turun dari angkutan umum--biasanya kereta bawah tanah. Di dalam lapangan, polisi dengan peralatan lengkap membantu steward mengawasi penonton. Setiap satu steward bertugas mengawasi 250 orang.

Jika mengacu kepada penonton final Piala Presiden 2018 sebanyak 68 ribu orang lebih, berarti hanya dibutuhkan sekitar 273 steward untuk mengawasi penonton. Ingat, steward bertugas mengawasi penonton, bukan ikut menyaksikan pertandingan.

Ujian Persija

Persija akan menjadi tuan rumah laga penyisihan Grup H Piala AFC kontra Tampines Rovers di SUGBK pada Rabu (28/2) mendatang. Ini akan jadi ujian bagi Macan Kemayoran, baik manajemen maupun penggemarnya, akan kemampuan mereka meredam kerusuhan dan mencegah kerusakan di SUGBK.  

Saya percaya kericuhan seperti final Piala Presiden 2018 tak terulang asalkan prosedur keamanan seperti di atas bisa diterapkan. Syaratnya semua pihak bisa menyadari hak dan kewajibannya masing-masing.

Jakmania punya hak absolut mendukung tim kesayangan mereka. Tapi, mereka juga punya kewajiban menjaga diri serta mengingatkan sesama rekannya yang terlihat mulai bertindak keluar dari koridor yang ditetapkan.

Polisi atau pihak keamanan yang disewa klub juga bisa lebih tegas dan disiplin menegakkan aturan. Tak ada cerita penonton tak bertiket bisa menembus ring dua arena pertandingan. Dalam laga yang diprediksi sold out ini, para petugas yang berjaga di pintu masuk juga tak boleh lagi ‘menyelundupkan’ penonton tanpa tiket yang menyebabkan over kapasitas.

Kalau bisa aman, kenapa tak pakai SUGBK?

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES