Minggu, 10 Syawwal 1439 / 24 Juni 2018

Minggu, 10 Syawwal 1439 / 24 Juni 2018

Saatnya UI Melakukan Quantum Leap Berbasis Riset

Selasa 20 Februari 2018 07:44 WIB

Rep: Erik Purnama Putra/ Red: Endro Yuwanto

Presiden Joko Widodo (tengah) berbincang dengan para guru besar UI di sela sidang terbuka Dies Natalis UI ke-68 di Balairung Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Jumat (2/2).

Presiden Joko Widodo (tengah) berbincang dengan para guru besar UI di sela sidang terbuka Dies Natalis UI ke-68 di Balairung Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Jumat (2/2).

Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Sudah selayaknya Universitas Indonesia mengharumkan bangsa ini di bidang pendidikan.

Oleh Erik Purnama Putra/Wartawan Republika

 

REPUBLIKA.CO.ID, Universitas Indonesia (UI) baru saja merayakan Dies Natalis ke-68 yang dilangsungkan di Balairung UI, Kota Depok pada Jumat (2/2). Acara itu tampak spesial lantaran dihadiri Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dan beberapa menteri Kabinet Kerja, yang merupakan alumnus UI.

Namun, yang menarik dari acara dies natalis bukan acara seremonialnya yang dihadiri banyak pejabat, melainkan penuturan Rektor UI Prof Muhammad Anis. Dia mengatakan, posisi UI sebagai kampus terbaiki kini berada di urutan 227 di dunia versi Quacquarelli Symonds (QS) World University Ranking. Peringkat itu naik dari tahun 2015, di mana UI menduduki posisi ke 325.

Sementara berdasarkan penilaian QS Asia University Ranking, UI masuk jajaran top 100 kampus terbaik di Asia pada 2017. Tepatnya, UI menduduki posisi ke-54, alias mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2016 yang berada di peringkat 67 besar. Fakta itu jelas layak diapresiasi, mesti bukan sebuah capaian yang terbilang luar biasa.

Anis menjelaskan, pemeringkatan QS Asia University Rangking dilakukan kepada lebih 400 kampus dari 17 negara di Asia, termasuk 23 perguruan tinggi (PT) dari Indonesia. Anies menjelaskan, pencapaian itu tidak terlepas dari pemenuhan beberapa indikator. Di antaranya, keunggulan kualitas tenaga pendidik, reputasi akademis, jumlah tenaga pendidik asing di UI, serta kegiatan belajar-mengajar di setiap fakultas.

Patutkah UI berpuas diri? Tentu saja tidak! Meski menyandang sebagai PT dengan peringkat teratas dari Indonesia, tetapi UI masih belum termasuk kampus top di jajaran Asia. Bahkan, di Asia Tenggara pun, UI masih kalah dari PT terbaik di Singapura, Malaysia, dan Thailand. Karena itu, perlu ada beberapa pembenahan yang dilakukan pihak rektorat, dekanat, stakeholder kampus, hingga alumni agar UI bisa berjaya di level Asia.

Berbasis riset

Bukan baru-baru ini saja rektorat UI menegaskan diri untuk menjadikan kampusnya berbasis riset. Sebagai PT dengan tingkat seleksinya termasuk paling ketat di dunia, sudah sepatutnya riset yang dilakukan tidak hanya dikerjakan dosen saja, tetapi juga didukung mahasiswa. Hal itu lantaran mahasiswa yang bisa kuliah di UI merupakan generasi terbaik yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Contohnya saja, jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2017 yang hanya menerima 3.467 mahasiswa dari total 92.838 calon yang mengajukan aplikasi. Artinya hanya empat persen saja calon mahasiswa yang benar-benar bisa diterima kuliah di UI. Hal itu menandakan antusiasme calon mahasiswa untuk bisa merasakan pendidikan di UI sangat tinggi. Dengan tingkat seleksi ketat maka tidak diragukan lagi mereka yang tercatat sebagai mahasiswa UI merupakan orang pilihan.

Karena itu, sejak menjadi mahasiswa baru hendaknya mereka juga mulai diperkenalkan untuk membuat riset yang berkaitan dengan ilmu yang dipelajarinya. Hal itu mengingat, sebuah PT tidak akan bisa menghasilkan penemuan bersifat inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat apabila hanya dikerjakan dosen semata. Selain karena jumlah tenaga pengajar terbatas, mengajak mahasiswa untuk terlibat dalam penelitian juga sebagai bentuk kaderisasi menciptakan ilmuwan baru. Dengan begitu, UI tidak berdiri pada menara gading dan hasil karyanya dapat dirasakan manfaatnya oleg masyarakat sekitarnya.

Yang menjadi pertanyaan, apakah keberadaan UI sudah memberikan dampak signifikan dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di lingkungan sekitar kampus? Jawabannya tentu relatif, bisa iya bisa tidak. Namun, ada satu pekerjaan rumah (PR) yang perlu mendapat perhatian serius bagi pihak rektorat agar UI bisa menjadi world class university.

Pertama, UI memang perlu untuk menjaga reputasi sebagai salah satu kampus terbaik di Asia, dengan membawa nama Indonesia di kancah internasional. Hanya yang patut digarisbawahi, setiap penelitian dan riset yang dilakukan civitas akademika jangan hanya sebatas ditujukan untuk mendapatkan pengakuan berupa indeks pemeringkatan dari lembaga tertentu semata. UI yang berpusat di Kota Depok wajib memberikan sumbangsih besar bagi kemajuan wilayah sekitar agar berbagai macam riset yang dilakukan dosen maupun mahasiswa dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Kedua, UI mesti berbenah dengan melakukan percepatan kualitas akademik dosen dengan menerapkan standar tinggi bagi mereka yang ingin naik golongan atau menduduki jabatan tertentu. Pemilihan dosen yang mendapat promosi, mesti melalui proses ketat dan ditambah kewajiban pengabdian kepada masyarakat. Berbagai torehan prestasi internasional, baik yang didapat dosen maupun mahasiswa hendaknya juga dapat berimbas pada peningkatan kualitas kehidupan lingkungan sekitar UI. Dengan begitu, penelitian itu tak hanya sebatas hebat di ranah akademik, tetapi sangat bermanfaat dalam membantu tingkat pendidikan di masyarakat,

Ketiga, pihak rektorat dan dekanat UI idealnya tidak selalu disibukkan menjalani rutinitas jabatan hingga lupa akan tugas utamanya, yaitu menjadi dosen prooduktif. Mereka jangan sampai terlena untuk tidak membuat sebuah penelitian dikarenakan alasan waktu habis tersita untuk jabatan atau memenuhi berbagai agenda di luar, yang tak ada sangkut-pautnya dengan kepentingan akademis. Para pimpinan kampus harus menjadi contoh bahwa mereka bisa menjadi sosok teladan dan inspiratif agar dapat dicontoh bawahannya untuk selalu mendedikasikan dirinya dalam memberikan yang terbaik bagi kampus.

Keempat, mahasiswa juga mulai digalakkan untuk berlomba-lomba dalam memunculkan budaya akademik di kampus. Mahasiswa sebagai calon pimpinan UI beberapa tahun ke depannya, mesti terlibat aktif dalam mempromosikan kampus dalam berbagai kejuaraan, baik akademis maupun nonakademis. Mahasiswa sebagai tulang punggung kampus wajib berkontribusi nyata untuk ikut mengharumkan kampus dalam mendongkrak reputasi UI di level mancanegara. Tentu saja, perlu dipikirkan oleh pihak pembuat kebijakan terkait intensif dan reward setimpal untuk mahasiswa, khususnya yang sudah ikut menciptakan citra UI sebagai kampus berbasis riset.

Lompatan tinggi

Dengan menyandang nama 'Indonesia' dan berlokasi di pusat pemerintahan, sudah selayaknya UI bisa mengharumkan bangsa ini di bidang pendidikan. Nama besar UI adalah sebuah jaminan menarik generasi muda dengan kualitas terbaik untuk bisa mengenyam pendidikan di kampus yang dikenal dengan sebutan 'We are the Yellow Jacket' itu. Setiap anak muda dari penjuru negeri pasti ingin bisa diterima dan kuliah di UI.

Karena itu, sebenarnya kalau berbicara mengenai SDM, UI tidak pernah kekurangan. Hanya saja, kadang pihak kampus kurang memberikan perhatian lebih kepada mahasiswa dengan potensi akademik tinggi. Misalnya, lulusan terbaik di fakultas bisa diberi tawaran untuk dicarikan beasiswa agar bisa meneruskan jenjang kuliah di kampus terbaik di luar negeri.

Syaratnya, tentu saja mereka nanti harus mengikuti ikatan dinas dengan wajib kembali untuk mengajar di almamater. Kampus harus bersabar dengan tidak lekas memanggil pulang mereka yang baru lulus S2. Lebih baik, calon dosen tersebut diizinkan untuk meneruskan studi hingga meraih gelar PhD atau doktor di bidangnya masing-masing.

Segala penelitian yang dilakukan mahasiswa S3 itu nanti bisa dikembangkan dan diterapkan selama mengajar di UI. Kalau sistem seperti itu dapat terbangun, diharapkan ada multiplier effect yang didapatkan UI. Semua itu ujungnya adalah peningkatan kualitas dan kapabilitas dosen, hingga terbentuknya atmosfer akademis yang bagus hingga membuat UI menjadi kampus yang disegani di tingkat Asia.

Meski berat, UI harus berani mencoba untuk menaikkan grade dosen agar bisa menjadi kampus terpandang. Kalau sesuai aturan Kemenristekdikti, tenaga pengajar mahasiswa harus bergelar magister atau master, UI harus membuat aturan sendiri dengan hanya membolehkan pemegang titel doktor atau PhD yang boleh mengajar. Atau setidaknya, dosen yang sedang menempuh pendidikan S3 bila waktunya memungkinkan, diizinkan mengajar mahasiswa S1.

Selama masa transisi ketika banyak dosen harus mengejar gelar doktor hingga meraih status profesor, pihak rektorat bisa membuat aturan khusus dengan mendatangkan tenaga pengajar pengganti yang berpengalaman serta memiliki rekam jejak dan reputasi yang baik. Mereka yang bisa mengajar terlebih dahulu lolos dari hasil verifikasi ketat agar ketika berada di kelas tidak keluar dari standar akademik yang telah ditetapkan.

Hanya saja, memang perlu waktu bagi UI untuk bisa menaikkan kualitas tenaga pendidik agar memiliki gelar tinggi. Namun, pengorbanan itu harus dilakukan supaya alumnus UI tidak hanya bersaing dengan sesama PT di Tanah Air, melainkan bisa berkompetisi dengan negara tetangga. Di tengah proses globalisasi dan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang sudah berlangsung sejak akhir 2015, sudah saatnya UI mampu mengangkat nama Indonesia di level Asia Tenggara, bahkan Asia.

UI harus menjadi gerbong bagi kampus lain agar peningkatan kualitas pendidikan di kampus tidak semakin tertinggal dibandingkan PT terbaik di Asia. UI idealnya satu langkah lebih maju dibandingkan PT di Indonesia lainnya, supaya menjadi pelopor di bidang pendidikan. Karena itu, UI harus bergerak terlebih dahulu agar kampus lain terdorong untuk mengikuti kebijakan meningkatkan kualitas dengan cara tidak biasa.

Sudah bukan saatnya lagi bagi UI yang menyandang nama besar kampus untuk menjalankan rutinitas dalam mengelola kebijakan kampus. Memang bakal muncul halang dan rintangan di depan, tetapi hal itu lebih baik dihadapi saja daripada menggunakan cara rutinitas yang selama ini terbukti cukup lama mengerek peringkat UI dalam daftar kampus terbaik.

Tentu saja yang tak boleh dilupakan, dosen yang dibebani tugas mengajar mahasiswa juga terus melakukan berbagai riset dan dipublikasikan di jurnal berakreditasi internasional. Dengan cara itu, UI bisa melakukan quantum leap atau lompatan besar agar kualitas pendidikan yang ditandai peringkatnya terus naik dan citranya bisa semakin sejajar dengan kampus terbaik Asia.

Mengutip pernyataan Presiden Jokowi saat menghadiri acara Dies Natalis UI ke-68, hendaknya UI yang menjadi gudangnya orang pintar bisa menjadi pelopor kemajuan di bidang pendidikan. "UI itu sumber inspirasi dan energi untuk satu tujuan, Indonesia maju." Mengacu hal itu, sudah saatnya UI bersiap-siap melebarkan pengaruhnya agar dapat menjadi kampus elite yang keberadaannya disegani hingga tingkat Asia, bukannya merasa besar hanya di dalam negeri.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Ketika Belgia Benamkan Tunisia

Ahad , 24 Juni 2018, 11:38 WIB