Senin, 11 Syawwal 1439 / 25 Juni 2018

Senin, 11 Syawwal 1439 / 25 Juni 2018

Riziek, Wahabi, Suni: Paradoks Bernuansa Ekonomi-Politik

Ahad 18 Februari 2018 10:10 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Habib Riziek di Arab Saudi.

Habib Riziek di Arab Saudi.

Foto: istimewa
Beranikah kita akui bahwa soal ini bermuara pada ketiadaan keadilan?

Oleh: Muhammad Subarkah

 

Beberapa tahun silam, di sebuah toko di pinggir halaman Masjidl Haram yang di kelola orang Asia tengah, lelaki penjual aneka tas, sajadah, dan karpet berkata dengan lantang bila hanya ada Suni di Makkah. Dia menolak dengan keras, apa yang selama ini lazim dituduhkan sebagian orang Indonesia tentang Arab Saudi, di mana pemahaman Wahabi berasal.

“Lihat, tak ada Wahabi di sini. Yang ada Suni," ungkap Mahmud, mukimin asal Bukhara, Uzbekistan, yang berprofesi sebagai guru di Makkah. Pria yang pada setiap musim haji nyambi berjualan barang kelontongan di komplek pertokoan terminal Al-Ghaza ini secara panjang lebar berbicara mengenai soal Wahabi. Dengan bersemangat dia membantah tudingan bahwa Arab Saudi merupakan 'sarang' ajaran tersebut.

"Syekh Sudais itu Suni. Bukan Wahabi, Anda jangan salah sangka," katanya dengan tegas. Dia tampaknya perlu mencontohkan mengenai kesesuaian klaimnya dengan kenyataan yang ada pada diri imam besar Masjidil Haram, Abdul Rahman Ibn Abdul Aziz as-Sudais. Dia paham betapa sosok ulama yang bersuara merdu dan hapal Alquran sejak umur 12 tahun itu, begitu terkenal di Indonesia.

Tapi apapun yang dikatakan tentang Syekh Sudais di Indonesia terbukti dianggap sebagai angin lalu. Publik tak peduli citra yang Wahabi begitu melekat kuat ke Arab Saudi. Itu tampak sekali, ketika Syekh Sudais berkunjung ke masjid Istiqlal di mana dia  disambut besar-besaran. Dia berkunjung ke berbagai tempat dengan tidak ada halangan dan larangan. Bahkan sempat menjadi Imam shalat di Masjid Istiqlal. Semua khusuyuk mengikuti shalat, kemerduan suara, dan isi cermahanya. Sudais diterima dengan riang gembira.

Begitu juga dengan kedatangan Raja Arab Saudi. Semua menyambutnya dengan hangat. Kedatangan Raja Salman di sambut pelukan oleh presiden di Istana Bogor. Lalu disambut menanam pohon dan berbicara empat mata dengan Presiden di Istana Merdeka Jakarta. Rakyat juga menyambutnya, meski itu kemudian acara pribadi berupa wisata liburan ke Bali. Siaran televisi dan berita memuatnya siang malam. Raja Saudi juga diterima dengan riang gembira.

Nah, Mahmod perlu bersikap seperti itu untuk menyakinkan segala tudingan buruk bahwa Wahabi adalah bukan Suni. Dan, dia sekali lagi menjelaskan bahwa itu hanya klaim sepihak dan baru muncul menjadi sosok menakutkan pascahengkangnya Uni Soviet dari Afghanistan, ISIS, hingga Perang di Suriah.

"Setelah para Mujahidin berkuasa di Afghanistan dan mulai memberlakukan hukum Islam lalu melawan Barat dan Amerika, tudingan itu baru muncul. Lalu siapa yang buat ISIS dan siapa yang hancurkan Libya. Dahulu padahal negara itu biasa-biasa dan aman-aman saja," katanya.

Harus diakui, tudingan bahwa Wahabi sebagai 'biang' masalah makin gencar setelah menara kembar gedung World Trade Center di New York roboh diterjang pesawat yang dikemudikan anak buah Usamah bin Laden. Saat itu dunia gempar. Barat sibuk mencari-cari kambing hitam. Dan, telunjuk mereka langsung mengarah kepada 'jidat' bahwa itu dilakukan oleh Islam paham Wahabi. Akibatnya, apa saja yang melawan Barat dan Amerika dianggap atau paling tidak terimbas paham Wahabi.

Tak hanya Mahmod, pemahaman terhadap tuduhan bahwa yang suka bikin bom itu pasti Islam garis keras atau media massa Barat menyebutnya dengan sebutan kaum 'jihadis', 'fundamentalis', atau 'Islamis', sebetulnya sudah lama runtuh ketika jauh-jauh hari saya pergi ke Timur Tengah jauh sebelum perang Irak hingga saya pergi ke Pakistan. Dalam beberapa pertemuan singkat dengan beberapa petinggi militer negeri itu mereka menyatakan betapa menggampangkannya tudingan itu. Mereka menyatakan, tidak semua dari mereka yang 'mungkin' bisa dimasukan dalam golongan Wahabi itu bersinggungan dengan kekerasan dengan maksud melawan negara Barat. Di Irak pada dahulu di era Sadam Husein dan kini di Suriah malah partai yang berkuasa partai Sosialis (Baath).

"Silahkan Anda cek sendiri ke perbatasan Pakistan-Afghanistan. Suku Pastow atau dikenal Pushtun itu Suni. Alqaeda Wahabi. Tapi, mengapa mereka bisa bertemu dalam satu tujuan, yakni melawan Barat dan Amerika? Jawabnya, karena memang satu tujuan bersama mengusir penjajah yang membuat lemah negerinya dan membuat miskin dan sengsara hidupnya," lanjut Mahmod.

Dia kemudian panjang lebar menceritakan mengenai kondisi sebenarnya wilayah perbatasan Pakistan-Afghanistan itu. Wilayah tersebut memang terpencil di pegunungan tinggi. Sarana pendidikan tak ada yang memadai. Sarana jalan tak ada. Sarana air bersih minim dan hampir tak tersedia. Dan, mereka hidup dalam keadaan miskin yang akut. Mahmod meneritakan betapa karavan mobil jamaah haji asal Rusia dan negara pecahannya kini tak lagi berani leluasa melintas Suriah dengan tenang karena ada kecamuk perang yang hebat. Padahal orang Muslim dari wilayah sekitar Rusia sudah pergi ke Makkah sejak seribu tahun silam.

"Sepanjang kemiskinan dan ketidakadilan sosial dan politik ini tidak dibenahi mereka pasti terus melawan. Untuk itu siapa pun rezim yang berada di sana harus terus-menerus berusaha keras memperbaki taraf hidup mereka. Ingat mereka punya sejarah cemerlang, yakni tak terkalahkan oleh siapa pun. Pada zaman dahulu, bala tentara Iskandar Zulkarnain pun tak mampu menaklukan mereka, begitu juga Inggris, dan yang terakhir adalah Soviet, sebentar lagi Amerika bersama sekutunya. Jadi, mereka melawan bukan karena Wahabi," katanya.

                                                             ******

Maka ketika membahas Arab Saudi dan bahaya Wahabi, saya menjadi ingat apa yang dinyatakan pembicara di diskusi TV One: Indonesia Lawyer Club (ILC), yang  katanya benci Wahabi tapi tetap saja mau berhubungan dengan Arab Saudi. Entah itu alasan ekonomi hingga alasan agama. Menurutnya: apakah ini sikap yang konsisten?

Nah, sekarang ini juga ribut rencana kepulangan Habib Riziek yang selama ini telah lama tinggal di negara itu. Berbagai analisa muncul, dari alasan biasa hingga politik. Dari omongan di warung kopi biasa hingga sebuah acara yang digagas mirip seminar atau talk show di bilangan Jakarta Pusat. Dari analisa keamanan, ekonomi, hukum, hingga indikasi adanya upaya cari rente dari kasus itu. Semua tumplek blek. Tandas dibicarakan.

Tapi apa hasilnya? Sampai kini tetap tak tampak. Habieb Riziek tampaknya tetap akan pulang dari Arab Saudi, meski bukan waktu sekarang. Semua orang seperti terkena demam, dengan melakukan analisa apa saja, mulai dari Riziek yang harus ditangkap hingga membiarkannya. Sekali lagi, apa hasilnya? Jawabnya tak jelas. kecuali samar-samar tercium aroma kepentingan politik dari pilkada sampai pilpres. Unik memang.

Sebelum mengakhir tulisan ini, kiranya perlu diceritakan kisah yang paradoks dengan masalah apa yang terjadi soal hubungan paham Wahabi dan paham di luarnya. Kisah lucu sekaligus  menggelikan itu begini: Pada tahun menjelang 1940-an, area Masjidil Haram akan dialiri atau diterangi listrik. Upaya ini untuk mengganti penerangan di masjid suci itu dari tradisional ke moderen dengan memasukan penerangan model terbaru dengan  menanggalkan penerangan yang kuno seperti lilin dan lampu biasa hingga lampu gas. Waktu pemerintah kerajaan Arab Saudi ‘yang wahabi’ itu akan melakukan proyek tersebut.

Tapi anehnya, sebagian ulama dan orang-orang yang berada atau mengelola di dalam Masjidil Haram menolak itu. Alasanya: listrik tidak ada di zaman nabi dan biar saja Masjid tetap seperti zaman nabi. Tapi pemerintah kerajaan Arab Saudi tak peduli. Dia tetap melakukannya memasukan penerangan moderen atau listrik.

Nah, pertanyaannya siapa sekarang yang ikut zaman nabi itu: Kerajaan Arab Saudi yang Wahabi yang ingin memasukan listrik atau sebagian ulama yang ada di dalam Masjidil Haram yang tetap ingin memakai penerangan cara lama? Lalu siapa yang ingin kembali ke zaman nabi atau ke zaman masa kini?

Dan juga perlu diingat ada pesan dari pemilik kerajaan komputer yang terkenal itu. Katanya, perang di zaman nanti, usai era internet atau teknologi, perang akhirnya kembali ke model lama, yakni kembali menggunakan pedang, batu, kayu, atau apa saja benda keras yang mematikan. Teknologi sudah ditinggalkan karena rentan terhadap penyadapan hingga intervensi.

Jadi apa masih mau ribut-ribut soal Wahabi atau Suni? Kembali ke zaman nabi atau moderen? Padahal muaranya sebenarnya cuma soal politik dan kepentingan. Silahkan mau ikut ribut kalau ikutan gila sendiri! Apa setiap rusuh, konflik, ricuh, hingga perang berasal dari soal agama? Apakah bukan sebenarnya persoalan sosial dan ekonomi biasa karena ketiadaan jaminan keadilan dan kesejahteraan?

Lagi-lagi silahkan pikir atau simpulkan sendiri dengan bijaksana.

Kalau puan-puan cerana

ambil kotak dalam peti.

Kalau tuan-puan bijaksana

coba tanya pada isi hati…

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES