Monday, 10 Zulqaidah 1439 / 23 July 2018

Monday, 10 Zulqaidah 1439 / 23 July 2018

Pers, Tabayyun, dan Kids Zaman Now

Sabtu 10 February 2018 15:57 WIB

Red: Didi Purwadi

Yudha Manggala P Putra

Yudha Manggala P Putra

Foto: Republika/Daan
Tabayyun disebut berhasil jika mampu mengungkapkan fakta yang terjamin akurasinya

Oleh: Yudha Manggala Putra, Wartawan Republika.co.id

Zaman now semuanya serba enak. Mau makan, misalnya, tak lagi perlu repot ke warung, bisa pesan lewat smartphone. Mau belanja kebutuhan dapur? tinggal buka situs belanja, pesan, dan bayar lewat internet banking. Apalagi urusan mengakses informasi, cukup satu-tiga sentuhan ujung jari saja, semuanya dapat tersaji di layar gawai.

Era digital memang membawa perubahan besar. Kemudahan yang ditawarkan kian banyak. Perputaran informasi dan pengetahuan juga sangat tinggi. Itu berkat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang melesat kencang.

Perilaku masyarakat kemudian ikut terseret, bergeser. Masyarakat sekarang, khususnya generasi milenial, punya kebiasaan ingin cenderung terhubung ke internet setiap saat, mengenyam informasi dari berbagai sumber, dan dalam bentuk multimedia dengan serba cepat. 

Pola mengakses informasi itu kian menjangkit di Indonesia. Tidak heran, negara ini termasuk salah satu yang mengalami pertumbuhan populasi pengguna internet tersubur. Hasil riset Google bersama Temasek diumumkan pada Agustus 2016 mengungkapkan rata-rata tiap tahun pengguna internet di Tanah Air bertambah sebesar 19 persen.

Hasil studi itu juga memperkirakan pada 2020, pengguna internet di Indonesia mencapat 215 juta, dari sebelumnya hanya 92 juta pengguna pada 2015.

Sayangnya, pertumbuhan ini, juga disertai efek samping. Jika diabaikan bisa berbahaya. Terutama menyangkut penyebaran informasi. Kemudahan belum cukup diimbangi dengan kemampuan memadai masyarakat untuk menyaring dan memverifikasi informasi.

Kalangan generasi milenial atau biasa disebut kids zaman now, lebih senang mengandalkan media sosial dan aplikasi pesan singkat sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Padahal platform ini rawan berita palsu atau hoaks.

Direktur Jenderal Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) Rosarita Niken Widiastuti memaparkan, 92,60 persen sumber hoaks berasal dari media sosial. Hoaks berbentuk tulisan sebanyak 62 persen, gambar 37,50 persen, dan video 0,40 persen.

Sementara, di sisi lain, minat baca di Indonesia sangat rendah. Hanya menduduki ranking 60 dari 61 negara. Dalam setahun, setiap orang Indonesia hanya membaca buku 27 lembar. Itu berarti rata-rata per bulan sekitar dua lembar.

"Sehingga dapat dipertanyakan informasi seperti apa yang tersebar dan beredar di media sosial itu," tambahnya.

Hoaks, sampai zaman after-now pun, rasa-rasanya masih berpotensi subur. Pemberantasan memang bisa dilakukan dari sektor teknologi dan payung hukum. Namun meningkatkan literasi informasi di kalangan masyarakat juga tak kalah penting. Peran banyak pihak dibutuhkan, mulai dari institusi pendidikan, pemerintah, juga para pelaku industri informasi, termasuk media massa atau pers.

Menurut Gubernur NTB TGH Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB), persoalan hoaks saat ini menjadi salah satu peer terbesar bagi insan pers atau media massa. Pers sangat dibutuhkan untuk memberikan penjelasan dan informasi yang utuh dalam menjawab pertanyaan publik. Masyarakat masih memerlukan media mainstream untuk mengetahui kebenaran informasi yang muncul dari media sosial (medsos).

"Boleh saja media sosial berkembang, tetapi kalau media mainstream mampu menjaga objektivitas dan kesahihan berita, masyarakat akan kembali (ke media mainstream) untuk mengonfirmasi apa yang mereka baca dan dengar di medsos," ujar TGB menjelang momen Hari Pers Nasional, yang diperingati setiap 9 September.

Terkait edukasi ke masyarakat, pakar ilmu komunikasi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Dr Sunarto mengatakan perlunya terus menanamkan prinsip tabayyun dalam gerakan menangkal berita hoaks. "Tabayyun itu adalah mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas dan benar keadaannya," kata dia.

Dia mengakui bahwa membedakan informasi sebagai hoaks atau bukan memang tidak mudah. Namun bisa dilakukan dengan mengecek sumbernya apakah memang bisa dipertanggungjawabkan. Menurut dia, masyarakat jangan mudah percaya ketika mendengar atau mendapatkan informasi sebelum melakukan tabayyun.

"Kalau di praktik jurnalistik, cek dan ricek harus dilakukan. Ya, masyarakat awam pun bisa mengecek, dari mana sumbernya, bisa dipertanggungjawabkan atau tidak," kata Dekan FISIP Undip tersebut.

Mengutip tulisan Aktivis Ma’had Alquran Babussalam, Abu Azzam Al-Afghani, tabayyun yang berhasil adalah apabila mampu mengungkapkan fakta yang bisa dijamin akurasinya, dan analisis yang jernih. Kejernihan berpikir dalam menghadapi suatu fakta akan membangun kearifan dalam bertindak.

Ada beberapa hikmah dari tabayyun yang bisa dipetik. Selain memperluas wawasan dan mengusung pendalaman pengetahuan, juga pengujian atas kebenaran informasi. Terlebih lagi, informasi yang hanya berdasar isu, sudah seharusnya dikonfirmasi, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

"Adakalanya juga suatu informasi sudah diyakini kebenarannya, namun tidak tersedia data yang lengkap dan akurat untuk membuktikan kebenaran itu. Maka melalui tabayyun, akan memperkuat keyakinan akan kebenaran informasi tersebut," tulis dia mengingatkan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES