Friday, 21 Muharram 1444 / 19 August 2022

Manggarai Tawuran Lagi, Korban Pun Berjatuhan

Rabu 08 Mar 2017 13:00 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Bayu Hermawan

Bayu Hermawan

Foto: dok. Pribadi

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Bayu Hermawan, Wartawan Republika

Tawuran antarwarga di Jakarta bukanlah hal yang baru. Hampir di seluruh wilayah Jakarta, punya kawasan-kawasan yang rawan tawuran antarwarga. Namun, satu wilayah yang mungkin paling melegenda dengan tawuran antarwarganya adalah kawasan Manggarai, Jakarta Selatan.

Beberapa tahun silam, jika mendengar kawasan Manggarai ada tiga citra buruk yang pasti akan selalu terlintas, yang pertama adalah kawasan langganan banjir. Hal tersebut lantaran posisi Manggarai yang berada di bantaran Sungai Ciliwung, dengan pintu airnya yang telah ada sejak dulu. Namun, seiring waktu, citra banjir yang melekat untuk kawasan ini, perlahan hilang, pascapenataan pintu air dan revitalisasi bantaran Sungai Ciliwung serta kanal banjir barat.

Hal kedua yang melekat adalah rawan kejahatan. Maklum saja, kawasan ini terdapat stasiun kereta api dan terminal bus, yang memang dulu kerap terjadi tindak kriminal seperti pencopetan, penjambretan hingga penodongan. Namun, sejak Stasiun Kereta Api Manggarai dan terminal bus ditata, citra negatif kawasan rawan kejahatan pun memudar. Bahkan, dengan semakin banyaknya penerangan jalan, plus dibangunya underpass Manggarai, warga nyaman beraktifitas meski di malam hari.

Tetapi, citra buruk ketiga yang hingga saat ini masih sulit lepas dari Manggarai adalah kawasan rawan tawuran. Mungkin jika di peringkat, kawasan Manggarai menduduki peringkat pertama sebagai daerah yang sering terjadi tawuran antarwarga dibandingkan wilayah-wilayah lain di Jakarta. Bagaimana tidak, di saat kawasan yang dulu 'rajin' terjadi tawuran warga seperti Matraman dan Johar, sudah nyaris tak ada tawuran warga, untuk kawasan Manggarai setiap tahunnya pasti selalu saja terjadi tawuran.

Tawuran warga Manggarai memang melegenda. Hal tersebut sudah terjadi sejak lama. Tawuran sudah terjadi jauh sebelum Sutiyoso menjadi Gubernur DKI Jakarta. Dan tetap terjadi di era kepemimpinan Fauzi Bowo, bahkan saat Jokowi memimpin Ibu Kota pun tak mampu menghilangkan tawuran dari dari daerah Manggarai. Selain itu, juga sudah tidak terhitung berapa banyak warga yang menjadi korban, baik mengalami kerugian material, luka-luka dan cacat tubuh, hingga harus kehilangan nyawa.

Tawuran warga di Manggarai pun tidak mengenal waktu, alias kapan saja bisa terjadi. Tidak peduli saat bulan suci Ramadhan atau saat Pemilu, bahkan seperti saat ini di kala masyarakat Jakarta masih mengamati hasil Pilkada.

Salah satu yang mungkin unik dari tawuran Manggarai adalah warga yang terlibat didalamnya terkadang tetangga dekat. Tidak seperti tawuran antara warga Berlan dan Matraman yang terpisah cukup jauh jaraknya, tawuran di Manggarai kadang terjadi di gang-gang sempit. Warga yang terlibat tawuran pun terkadang tinggal berhadap-hadapan rumahnya atau tetangga belakang rumah.

Menilik ke belakang, umumnya kubu yang terlibat tawuran di Manggarai terbagai atas beberapa wilayah. Pertama adalah daerah yang sering disebut Magezen. Cirinya adalah tawuran warga yang berlangsung di gang-gang sempit. Warga yang terlibat tawuran pun biasanya hanya berbeda RW saja alias tetangga dekat.

Daerah kedua yang sering terlibat tawuran adalah antara warga Jalan sawo dengan warga Gang Bedeng. Dahulu, tawuran di daerah ini sering dipicu lantaran sentimen 'korps alumni'. Berawal dari tawuran pelajar antara STM Budi Oetomo dan STM Karya Guna, kemudian menjalar ke tingkat warga, dimana warga Jalan Sawo banyak yang merupakan murid dan alumni STM Budi Oetomo, sementara lawannya warga Gang Bedeng banyak yang bersekolah dan alumni STM Karya Guna.

Daerah ketiga yang sering terlibat tawuran adalah warga Gang Tuyul dengan warga Gemtas (Gembel Stasiun) yang tinggal di depan Stasiun Manggarai. Konflik antara warga di dua daerah ini pun seperti 'api dalam sekam' meski sudah berkali-kali berdamai atau di damaikan, tetap saja sewaktu-waktu bisa memanas dan berujung tawuran warga.

Daerah keempat yang juga menjadi 'zona panas' adalah di perbatasan Kelurahan Manggarai. Tawuran di daerah ini, melibatkan warga Menteng Jaya dengan warga Tenggulun. Biasanya lokasi yang sering digunakan untuk tawuran adalah di sekitar rel kereta dekat Stasiun Manggarai hingga ke sekitar Pasar Rumput. 'Zona panas' terakhir berada di perbatasan wilayah Manggarai dengan wilayah Menteng, Jakarta Pusat.

Tawuran warga di Manggarai sering memakan menelan kerugian material dan korban jiwa. Maklum saja saat bentrok, biasanya warga tidak hanya mempersejatai diri dengan batu. Namun sering kali melengkapi dengan senjata tajam hingga senjata api rakitan. Bahkan sering kali mereka menggunakan bom molotov untuk mengalahkan lawannya.

Seperti yang terjadi pada Ahad, 5 Maret lalu. Dua orang tewas saat pecah tawuran di kawasan Manggarai. Keduanya diduga tewas akibat tertembak senapan angin. "Korban tewas ada dua orang. Penyebab tewasnya belum tahu ada informasi itu (tertembak senapan angin), tetapi masih kita dalami," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono, Senin (6/3).

Dua korban tewas diketahui bernama Sutan Rafi Hakim Lubis (16 tahun), pelajar SMK YMIK, warga RT 012 RW 004 Kelurahan Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan, dan Fikri Fadhlur Firmansyah (18), mahasiswa warga Jalan Saharjo Gang Bakti RT 006 RW 005 Kelurahan Manggarai, Tebet, Jaksel.

Tawuran pada Ahad sore lalu, melibatkan sekelompok warga RW 004 Manggarai dan warga Jalan Tambak, Kelurahan Pegangsaan, Kecamatan Menteng, Jakpus. Tawuran pecah di atas jembatan yang merupakan perbatasan wilayah Menteng, Jakpus, dan Manggarai, Jaksel.

Pemicu tawuran di kawasan Manggarai pun beragam. Bahkan terkadang hanya karena masalah sepele seperti saling ejek, lewat kampung musuh tidak permisi, rebutan pacar, hingga yang menjurus kepersaingan ekonomi warga seperti rebutan penumpang ojek serta lahan parkir.

Namun, jika melihat lebih dalam, ada beberapa hal yang membuat warga di wilayah Manggarai cepat 'berdarah panas' dan memicu tawuran. Yang pertama tentu saja kondisi ekonomi warga yang masih banyak hidup dalam kondisi kemiskinan. Kemudian padatnya penduduk di wilayah tersebut juga sering memicu perkelahian antara individu hingga kemudian merembet ke tawuran antarkampung.

Tawuran warga di kawasan Manggarai tentu menjadi 'pekerjaan rumah' bagi pemimpin Jakarta yang nanti terpilih. Bukan hanya meredam tawuran yang terjadi atau memecat camat dan lurah setempat karena tak mampu menyelesaikan masalah tawuran. Namun, siapa pun gubernurnya nanti, harus mampu menyelesaikan inti permasalahan di wilayah Manggarai yakni kemiskinan dan padat serta kumuhnya permukiman.

Persoalan permukiman kumuh padat kumuh miskin alias Kupat Kumis --biasa gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo kala itu menyebutnya-- mesti menjadi perhatian serius semua pihak. Tak melulu pemda, atawa kepolisian, melainkan perlu ada keterlibatan secara langsung masyarakat dalam menata kawasan Kupat Kumis dengan berbagai dampak yang disebutkan di atas.

 

 

 

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA