Tuesday, 18 Sya'ban 1440 / 23 April 2019

Tuesday, 18 Sya'ban 1440 / 23 April 2019

Lapar di Negeri Ijo Royo-Royo

Senin 04 Mar 2013 07:00 WIB

Red: Hafidz Muftisany

Panen padi. Negeri ini bergelar Gemah Ripah Loh Jinawi

Panen padi. Negeri ini bergelar Gemah Ripah Loh Jinawi

Foto: Antara

REPUBLIKA.CO.ID, Saya selalu merasa tenang saat mendengar syair “Lir-Ilir”. Irama senandung ciptaan Sunan Ampel ini bagi saya mengandung daya magis untuk lebih dari sekadar tenteram. Budayawan Emha Ainun Najib pernah mensyarah lagu ini panjang lebar.

Dalam penggalan syair Lir Ilir Tandure Wis Sumilir Tak Ijo Royo-Royo. Cak Nun, begitu ia akrab disapa, menafsirkan negeri ini adalah penggalan surga. Surga seakan-akan pernah bocor mencipratkan kekayaan dan keindahannya. Dan, cipratan keindahan itu bernama Indonesia Raya. Itu tafsir Cak Nun. Tapi, saya dan Anda pasti mengamini, memang fakta negeri kita ini begitu indah dan kaya raya, ijo royo-royo.

Tapi, silakan protes jika saya menyebut sejumlah angka ini. Balita di Bekasi yang terkena gizi buruk mencapai 0,2 persen dari total 65 ribu balita pada 2012. Di Bogor tercatat 143 kasus, Pontianak lebih tinggi, 346 bayi menderita gizi buruk.

Balita kerdil (stunting) di Gorontalo menyentuh angka 26,83 persen dari total 25 ribu balita. Data yang saya terima kalau saya tulis, takutnya akan memenuhi lembaran ini. Satu hal yang ingin saya sampaikan, kita sedang darurat gizi buruk!

Negeri ini memang penuh ironi. Tapi, jika menyangkut hidup anak-anak yang kelak akan menggantikan generasi saat ini, hal tersebut tak bisa dibiarkan. Dalam laporan pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2010 yang dikeluarkan Bappenas, tergambar jelas, target pengurangan gizi buruk. Target 1C gamblang menyebut “menurunkan hingga setengahnya proporsi penduduk yang menderita kelaparan dalam kurun waktu 1990-2015”.

Semua indikator pencapaian tentang balita gizi buruk mendapat tanda “Akan Tercapai”. Lebih buruk lagi, soal proporsi penduduk dengan asupan kalori di bawah tingkat konsumsi mendapat penilaian “Perlu Perhatian Khusus”.

Dua tahun lagi, target pencapaian MDGs harus tercapai, namun jika angka gizi buruk masih nyaman kita temui maka inovasi dan akselerasi program harus menjadi perhatian. Ibu Menteri Kesehatan sudah pesimistis bisa memenuhi target MDGs untuk gizi buruk. Saya harap kesadaran itu tak lantas berhenti pada kata pesimistis. Pemerintah yang mengagungkan keberhasilan makro sebagai indikator kekinclongan kinerjanya wajib memberikan prioritas pada program ini.

Anggaran Rp 700 miliar per tahun harus terserap betul dalam program pengentasan gizi buruk. Sambil berharap di tahun politik ini anggaran itu tak diutak-atik untuk kepentingan lain. Penambahan anggaran bisa dilakukan via APBD. Daerah tak bisa lantas mengiba kucuran dari pusat. Kasus bayi Dera yang ibundanya tak mendapatkan nutrisi yang cukup saat mengandung, menjadi bukti mental daerah yang masih sering mengandalkan pusat. Betapa program Kartu Jakarta Sehat (KJS) yang penuh harapan saja masih menyisakan lubang, bagaimana dengan daerah lain?

Rantainya pun masih belum selesai. Masalah gizi buruk sebagian besar melanda daerah miskin. Bicara kemiskinan, benangnya akan semakin kusut. Pertama, pendidikan dan pemahaman ibu-ibu soal gizi buruk. Tingkat pendidikan ternyata berkelindan dengan angka gizi buruk yang tinggi.

Tidak ada cara lain, kecuali langsung turun ke kantong-kantong gizi buruk dan melakukan penyuluhan. Masyarakat mungkin menganggung-angguk paham diberi penyuluhan, tapi untuk membeli makanan empat sehat lima sempurna dari mana duitnya?

Lagi-lagi, anggaran pusat dan daerah harus sampai di level posyandu. Tak boleh mampir-mampir ke pejabat. Posyandu harus mendapat pos anggaran terbesar. Sembari menagih janji-janji program pengentasan kemiskinan macam KUR, PNPM, dan berjuta-juta janji penciptaan lapangan pekerjaan.

Dua tahun bukan waktu yang lama. Apalagi, kita akan disibukkan dengan kebisingan Pemilu 2014 dan pergantian pemerintahan. Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono bisa memilih dengan cara apa mengakhiri dua periode kekuasaaanya. Saya sih berharap dengan cara khusnul khatimah. Kata ustaz, tobat tidak akan diterima jika ajal sudah sampai tenggorokan.

Nah, saya optimistis ajal bangsa ini belum sampai tenggorokannya. Seperti lanjutan syair Sunan Ampel yang magis itu, Tak Ijo Royo-Royo Tak Sengguh Penganten Anyar. Bangsa ini masih menjadi pengantin baru, masih bergeliat menikmati bulan madu. Adakah yang lebih baik diharapkan dari sepasang pengantin baru selain anak sehat, pintar nan menggemaskan? Tentu mereka tidak pernah berharap anaknya bergizi buruk.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA