Selasa , 24 Mei 2016, 12:02 WIB

Kementan-KPPU Antisipasi Praktik Kartel Jelang Ramadhan

Rep: Sonia Fitri/ Red: Dwi Murdaningsih
Republika/ Tahta Aidilla
Warga memilih jenis beras di salah satu gudang beras di Jakarta, Senin (11/4).   (Republika/Tahta Aidilla)
Warga memilih jenis beras di salah satu gudang beras di Jakarta, Senin (11/4). (Republika/Tahta Aidilla)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) bersama Kementerian Pertanian (Kementan) mencegah terjadinya praktik kartel jelang Ramadhan 2016 dengan melakukan inspeksi mendadak (sidak). Lokasi tujuan sidak yakni penggilingan beras PT Sukses Abadi Karya Inti (Sakti) yang merupakan anak usaha PT Tiga Pilar Sejahtera di jalan Raya Solo, Sragen KM 23, Selasa (24/5).

Penggilingan tersebut memiliki kapasitas produksi beras 1.500 ton per hari atau 45 ribu ton per bulan. Kedua lembaga tersebut ingin memastikan tidak ada aksi kartel dan mencegah terjadinya gejolak harga beras menjelang Ramadhan dan Lebaran 2016.

"Sampai hari ini belum ditemukan adanya aksi kartel," kata Ketua KPPU Syarkawi Rauf.

Pelaku-pelaku kartel biasanya dilakukan oleh pemilik-pemilik penggilingan besar, karena semua pemilik penggilingan besar juga merupakan pedagang beras juga. Penelusuran sidak tidak akan berhenti sampai di sama. Mereka akan terus menelusuri alur distribusi beras hingga ke Jakarta. Sebab menurutnya semua yang menentukan harga beras terkonsentrasi di Jakarta.  

"Kita akan terus menyelidiki. Pemain besar itu hanya sedikit, hanya ada di 11 provinsi, mereka punya penggilingan besar, saat ini memang belum ditemukan," lanjut dia.

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan Agung Hendriadi menyesalkan Tiga Pilar Sejahtera yang kurang memprioritaskan pembelian gabah secara langsung dari petani atau Gapoktan. Perusahaan penggilingan tersebut lebih memprioritaskan membeli dari tengkulak.

"Padahal membeli gabah tidak melalui tengkulak itu bisa memangkas rantai pasok sehingga harga beras tidak terlalu tinggi," ujarnya. Tingginya harga beras dikarenakan panjangnya rantai pasok, sehingga keuntungan kurang dinikmati petani, hanya para tengkulak saja yang menikmati.

Agung menambahkan, seharusnya harga beras tetap normal karena produksi beras mencukupi. Menurut data prognosa, untuk Mei produksi beras 3,89 juta ton dan bulan Juni 2,85 juta ton. Sedangkan untuk bulan Juli diperkirakan produksi beras mencapai 5,66 juta ton karena memasuki panen raya.

Jika melihat data perkiraan produksi beras, kata dia, dijamin akan mencukupi. Kebutuhan beras Indonesia per bulan 2,5 juta ton atau bila memasuki Ramadhan dan Lebaran bisa lebih sedikit sekitar 2,8 juta ton. Dengan produksi yang mencukupi, seharusnya tidak terjadi gejolak harga.

Dengan produksi beras yang mencukupi, pemerintah tinggal mengawasi jalur distribusi dari produsen ke konsumen. Agung menjelaskan, pemerintah harus bisa mengendalikan harga pembelian gabah dari petani ke produsen swasta. Karena dengan membebaskan harga, Bulog akan kesulitan untuk bersaing karena swasta akhirnya bisa menentukan harga ke konsumen sesukanya.

"Contohnya di penggilingan PT Sakti ini, harga papannya saat ini Rp 4.200, sedangkan Bulog harga pembeliannya Rp 3.700," katanya.

Sementara Petani masih kesulitan memasok ke penggilingan secara langsung tanpa melalui tengkulak. Hal tersebutlah yang akhirnya membuat harga beras tidak terkendali dan petani kurang menikmati keuntungannya.

Video

Arus Mudik Lebaran, Ketua DPR: Semua Berjalan Lancar