Monday, 10 Zulqaidah 1439 / 23 July 2018

Monday, 10 Zulqaidah 1439 / 23 July 2018

Menengok Debat Iman dan Kafir yang tanpa Akhir

Ahad 31 December 2017 04:01 WIB

Red: Agus Yulianto

Harri Ash Shiddiqie

Harri Ash Shiddiqie

Foto: dokpri

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Harri Ash Shiddiqie *)

Suatu hari Stephen Hawking diwawancarai majalah El Mundo, jenius astrofisika  yang lumpuh dengan  kepala tergolek itu menyatakan dirinya atheis.  Ia yakin alam terbentuk dengan sendirinya, gravitasi pada fluktuasi kuantum pada keadaan “tidak ada apa-apa” membuat Big Bang. Metoda ilmiah pada telaah bermulanya alam semesta tidak menemukan peran Tuhan. 

Ini mengundang pro dan kontra. Seorang penulis filsafat membela Hawking dalam sebuah situs, alam dimulai dari: “tidak ada apa-apa”, mati juga berkesudahan: “tidak ada apa-apa”. Mati-ya-mati, selesai, titik. Partikel berupa atom tubuh kita mungkin dihisap  biji lada yang di ekspor ke Eropa dan debunya tertanam di logam pesawat yang  yang terbang ke Mars atau menjadi bumbu yang digoreng di kafetaria.

Metoda ilmiah berpijak pada penjelasan rasional  dan fakta nyata, empiris. Ada yang menanggapi: Gravitasi juga tak dapat dilihat, bukankah Hawking meyakini itu ada, nyata sebagai fakta, eksis. Akankah Tuhan harus juga bisa dilihat? Pembela Hawking menyahut, bahwa gravitasi ada, itu bisa diukur. Apakah kecepatan angin sejuk surga dan panas neraka bias diukur temperaurnya?

Dalam tulisan yang lain ada yang menyahut, Hawking menikah dan dikaruniai 2 anak. Apakah Hawking menolak keberadaan cinta? Juga tentang pikiran, yang tidak bisa dilihat dan diukur? Pembelanya, yang juga mempelajari astrofisika,  bertahan: Sains tak menolak cinta dan pikiran, justru hari ini banyak dilakukan pengamatan dan eksperimen oleh neurobiolog.

Tetapi yang menyahut itu masih mengejar, di mana batas empiris itu?

 

Kreativitas, pikiran  maupun emosi, itu memang bisa diuji, keberadaannya nyata, bisa diukur, tapi? Sains  bersifat terbuka, bisa diuji dimana saja dan kapan saja. Pernyataan besi memuai bila kena panas bisa diuji siapa saja. Tapi emosi, cinta dan pikiran?  Hari ini diuji: Ada cinta, lusa ada janji pernikahan. Setelah seminggu:  ada penyesalan. Sebulan kemudian: tak ada kecocokan, dibuat janji perceraian.

Penyahut tentang cinta dan pikiran itu bilang, batas empiris itu: Bodoh.

***

Dalam bahasa yang lebih elegan, sains itu terbatas. Tetapi banyak yang terbius, terpesona oleh kenyamanan yang diberikan teknologi, mobil, TV, HP, pakaian sampai makanan. Tak heran bila orang tergila-gila dengan sains,  menyembah metodenya sebagai pedoman, menjadikannya sebagai agama baru, dengan “nabi”-nya semacam Hawking, sampai Darwin.

Pembela  Hawking juga menunjukkan pesona sains, matematika bisa memprediksi apa yang terjadi  di masa depan. Kapan sebuah meteor bertabrakan, sekaligus menentukan sejarah masa lalu, sejak kapan sebuah bangkai gajah besar bernama Mammoth itu terpendam. Tak heran bila sains juga bisa menentukan kapan dan bagaimana terjadinya alam semesta.

Tentang prediksi, Penulis yang tinggal di Florida mendapat tanggapan yang diawali pernyataan bahwa agama juga punya bukti empiris. Sebuah kitab suci berkisah tentang raja yang kejam (ini belum bukti empiris), dan berusaha membunuh penentangnya (juga belum bukti empiris). Raja itu mati sebelum membunuh penentangnya.

Kitab suci agama itu menyatakan bahwa jasad raja diselamatkan (tidak hancur), agar bermanfaat sebagai peringatan bagi orang-orang masa mendatang. Kitab suci itu telah berabad-abad umurnya. Jasad raja itu ditemukan tahun 1898 di Mesir, sebagai mumi, dibuka pembalutnya oleh Elliot Smith tanggal 8 Juli 1907.  Mumi dari Firaun Mineptah yang tenggelam di laut. Bukti empiris itu menjadi nyata, empiris,  setelah 1200 tahun.

Kitab suci itu Alquran. Itu satu bukti, Alquran adalah kitab yang tak diragukan. Banyak bukti empiris lain dalam Alquran.

Pembela Hawking itu licin berkelit dengan berkata, ia tidak ahli di bidang Egyptologi dan tidak tahu banyak tentang Al Quran sehingga tidak bisa berkomentar.

***

Pernyataan bahwa alam semesta terbentuk dengan sendirinya, tak ada peran Tuhan di sana, tepat seperti pernyataan Laplace,  ilmuwan yang namanya diabadikan pada penyelesaian differensial integral yang rumit melalui “Transformasi Laplace”. Selama eksperimen di laboratorium raja bertanya tentang Tuhan, jawabnya:  “Paduka, saya tidak melihatnya.”

Bertrand Russell, seorang filosof Inggris pernah berkata, ia mungkin bisa percaya kepada Tuhan seandainya di langit ada suara yang memberi tahu apa yang akan terjadi 24 jam mendatang. Dan itu benar-benar terjadi.

Kita tidak pernah bahu apakah Russell atau Hawking pernah membaca kisah Nabi Musa dalam Alquran. Apalagi bukti empiris yang dikemukakan Alquran tidak hanya Nabi Musa. Fakta-fakta empiris yang dinyatakan Alquran  sangat beragam, bukan hanya di urusan sains, tapi juga sejarah, sampai urusan kemanusiaan.

Seandainya Hawking atau Russell pernah membaca Alquran, belum tentu mereka beriman-berislam. Memang, logika bisa mengantarkan orang beriman, di antaranya ada pada kisah-kisah mualaf yang banyak disampaikan ROL, tetapi logika itu pula membuat Hawking menjadi atheis. Di sisi yang lain, tanpa logika rumit, hati bisa menuntun menuju Islam. Tapi tak sedikit hati yang dengki, semisal islamophobia, itu menolak islam. Apalagi hati yang terlanjur cinta dengan adat istiadat dan kepercayaan nenek moyang, cinta sedemikian menutup hidayah.

Dihamparkannya alam semesta bisa mengantarkan orang beriman, takjub dengan keteraturan dan harmoninya. Tetapi bisa juga membuat orang menolak iman, Hawking itu tadi. Akhir alam semesta, bisa membuat orang tunduk, mengabdi  dan berserah diri kepada kepada Allah SWT, tapi tidak sedikit yang berkata: Mati itu selesai. Titik.

Debat iman dan kafir tak pernah selesai. Selama Al Fatihah diucapkan, selama doa “ihdinas shirotol mustaqim” dipanjatkan, selama itu pula setan datang menggoda. Tak usah mengikuti keyakinan Hawking, meski dengan segerobak fakta fisika dan segunung formula matematika disodorkan, tetap saja, ia tidak melihat dengan mata kepala secara empiris ledakan Big-bang. Hawking hanyalah manusia biasa, ia bisa salah. Dan sains tidak jarang melangkah di jalan yang keliru. Pernah dengan ether? Dulu ilmuwan mempercayainya, nyatanya itu tak ada. Mekanika klasik Newton harus dikoreksi oleh Einstein. Dan Einstein sendiri berkata dengan masygul: Tuhan tak pernah bermain dadu.

Gelut dan pergolakan antara iman dan kafir tak pernah berakhir, setan selalu memanggangnya. Kewajiban setiap muslim selalu “update-upgrade” keimanannya, baik lewat pikiran di otak maupun perasaan di hati. Di antaranya:  ketika membaca syahadat saat duduk tahiyat, teguhkan dalam hati, itu adalah sumpah. Bukan sekedar diucapkan. 

Tak peduli apakah itu di akhir tahun, atau mendekati akhir hayat, kewajiban kita selalu berjuang maksimum dengan berdoa, dengan ikhtiar, agar lebih baik dari waktu ke waktu, lebih beriman, lebih berislam, dan lebih berihsan.  Ya, Allah. Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus. Amin.

*) Dosen, Penyuka sastra dan teknologi, di Jember.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA