Wednesday, 5 Zulqaidah 1439 / 18 July 2018

Wednesday, 5 Zulqaidah 1439 / 18 July 2018

Guncangan Psiko-politik dan Aksi Umat Islam di Monas

Senin 18 December 2017 07:04 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Massa memadati kawasan Monumen Nasional (Monas) saat Aksi Bela Palestina di Jakarta, Ahad (17/12).

Massa memadati kawasan Monumen Nasional (Monas) saat Aksi Bela Palestina di Jakarta, Ahad (17/12).

Foto: Republika/Prayogi

Oleh: Ahmad Danial, Pengamat Komunikasi Politik dan Dosen Fakultas Ilmu Dakwah UIN Jakarta.

Berapa sebenarnya jumlah peserta dalam setiap aksi yg digelar umat Islam di Monas?

Mereka yang terlibat langsug dalam penyelenggaraan aksi-aksi itu yakin jumlah mereka jutaan. Sebaliknya, pihak yg mengaku pengamat 'netral' atau kubu yg sinis menyebut angka puluhan ribu, atau paling banter ratusan ribu orang.

Mengapa soal jumlah ini begitu dipersoalkan? Seperti Denny Siregar (Desi) ini yang terus ribut bahwa jumlah massa jutaan itu cuma klaim sepihak peserta aksi saja. Di statusnya soal aksi bela Palestina, Desi menyebut angkanya di bawah 1 juta orang.

Berbeda dengan beberapa rekan yg menilai diungkit-ungktnya soal jumlah peserta aksi-aksi umat Islam yg dikemukakan orang  sejenis Desi ini sebaga hal 'kurang substansial', saya justru menilai bahwa soal jumlah itu perkara yang substantif secara politis. Mari lihat polanya.

Setiap aksi-aksi akan digelar, selalu ada upaya dari sejumlah pihak, baik pemerintah, aparat atau kelompok-kelompok pro pemerintah untuk mendelegitimasi aksi-aksi itu. Ada pernyataan bahwa aksi-aksi itu politis, upaya makar, anti kebhinnekaan, bent radikalisme, selebrasi intoleransi, dan sebagainya.

Dalam aksi 212 ada penangkapan sejumlah aktifis pro demokrasi. Ada berbagai imbauan bahkan tindakan represif aparat menghadang massa untuk tidak menghadiri aksi. Ada pernyataan-pernyataan tidak mendukung dari sejumlah tokoh yg dikenal dekat dgn pemerintah. Pola ini selalu berulang menjelang setiap aksi. Polanya sama dengan tujuan sama, ingin agar aksi tidak dihadiri massa.

Pada kenyataannya, massa tetap datang dalam jumlah yang fantastis dibanding aksi-aksi yang pernah ada dalam sejarah gerakan protes atau gerakan sosial di Indonesia. Massa selalu tumpah ruah, membanjiri jalan-jalan sehingga selalu menghasilkan kesan yg sangat dramatik. Lihat saja foto-foto yang beredar di media sosial setiap habis satu aksi.

Foto-foto semacam itu menghasilkan efek guncangan psiko-politik yang luar biasa besar bagi publik, tapi terutama bagi rezim yang memerintah dan para kompradornya. Disitulah, untuk meredam dampak psiko-politik dari kehadiran massa yg jumlahnya 
Luar biasa itu, perlu ada upaya-upaya delegitimasi pascaaksi.

Delegitimasi dilakukan dengan beragam bentuk. Muncul misalnya, upaya menghadapi realitas besarnya kuantitas dengan mengecilkan kualitas massa yg hadir dan adanya penyebutan mereka sebagai hanya 'buih'. Selain itu, serangan bisa juga dilakukan seperti Desi ini, lewat cara terus menerus mempersoalkan "jumlah" kuantitatif dgn menolak "juta" dan memilih "puluhan atau ratusan ribu".

Karena kita hidup dalam alam demokrasi elektoral nominal, dimana jumlah nominal menjadi penentu kemenangan politik, maka massa yg menyemut dan membanjiri Monas dan sekitarnya itu punya PENGARUH. Hal ini MENAKUTKAN rezim memerintah dan para pendukungnya. Apalagi, dalam kasus Pilkada DKI Jakarta, dampak elektoralnya itu begitu nyata. Wajar, paska setiap aksi itu, orang-orang seperti Desi ini mengalami semacam depresi politik.

Patut diingat tentang tesis bandwagon effect dalam politik bahwa orang cenderung memilih kekuatan yg di persepsi akan memenangkan pertarungan yang dalam demokrasi elektoral nominal, adalah kelompok yg "menang jumlah".

Selama ini, efek itu coba dibangkitkan kubu pro pemerintah dengan merilis beragam hasil survey yg menampilkan "kemenangan" penguasa sekarang. Namun foto-foto massa yang terus menyemut dalam beragam aksi di Monas, yg haqqul yakin didominasi massa yang tdk mendukung pemerintah, membuat upaya memunculkan ‘bandwagon effect’ melalui survei-surve itu tidak bisa maksimal karena orang dihadapkan pada realitas yg muncul secara riil di lapangan.

Publik malah menjadi meragukan hasil survey sehingga Desi dan orang-orang sejenisnya akan terus bekerja keras menyatakan, "Ah, itu cuma puluhan ribu saja!”

Ke depan, menjelang tahun politik 2019, lembaga-lembaga surveil akan mendapat lawan tangguh dalam upayanya memunculkan "ramalan" tentang siapa yg paling BANYAK didukung yaitu penyelenggara aksi2 di Monas, utamanya GNPF Ulama!

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES