Kamis, 17 Syawwal 1440 / 20 Juni 2019

Kamis, 17 Syawwal 1440 / 20 Juni 2019

Musa Bin Nushair, Optimisme Sang Penakluk Andalus

Sabtu 15 Apr 2017 18:40 WIB

Red: Achmad Syalaby

Arsitektur Islam Andalusia.

Arsitektur Islam Andalusia.

Foto: Islamic-arts.org

Oleh Samsiyah, pembelajar sirah

REPUBLIKA.CO.ID, Salah satu tokoh yang memiliki peran besar dalam penaklukan dan penyebaran Islam di wilayah Maroko dan Andalus[1] adalah Musa bin Nushair. Ia adalah putra Nushair bin Abdurrahman bin Yazid, satu dari 40 orang yang ditawan Khalid bin Walid di Ayn Tamr[2].

Di antara tawanan terdapat Sirin (ayah dari Muhammad dan Khafsah), tokoh ulama tabi’in yang sangat popular, Yaser (kakek Muhammad ibn Ishaq), penulis kitab al-Maghazi, dan Kaisan (kakek dari Abu Attahiyah), pemimpin Perang Zuhd dengan syairnya yang indah pada era Khalifah Abbasiyah.

Mereka kemudian dibebaskan dan masuk Islam. Dari sisi kepribadian, tidak membutuhkan waktu yang lama bagi mereka untuk menunjukkan perubahan yang sangat mendasar; dari tokoh yang awalnya menolak Islam, menjadi tawanan, kemudian menjadi pejuang, dan melahirkan anak-anak yang menjadi tokoh dalam peradaban dunia Islam.

Musa bin Nushair lahir pada tahun 19 H (640 M). Ia termasuk tokoh tabi’in yang dibesarkan di lingkungan kekhalifahan, karena ayahnya merupakan salah satu kepercayaan Muawiyyah bin Abu Sofyan.

Musa kecil tumbuh menjadi pemuda pemberani dan cerdas. Sejak masih belia, ia sudah menunjukkan bakat kemepmimpinanya; menjabat sebagai pengurus pajak di Basrah[3],  menggantikan posisi ayahnya sebagai pejabat di Cyprus, hingga diangkat menjadi gubernur Ifriqiyah[4] oleh Abdul Aziz bin Marwan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA