Tuesday, 10 Zulhijjah 1439 / 21 August 2018

Tuesday, 10 Zulhijjah 1439 / 21 August 2018

Abdul Hadi WM: Puisi Sukmawati 'Under Critic'!

Rabu 04 April 2018 15:46 WIB

Rep: muhammad subarkah/ Red: Muhammad Subarkah

Prof DR Abdul Hadi WM (kiri).

Prof DR Abdul Hadi WM (kiri).

Foto: dokpri
Puisi malah seperti prosa yang berisi ungkapan formal dan perasaan personal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --Sastrawan dan Guru Besar Filsafat Universitas Para Madina, Prof DR Abdul Hadi WM, mengatakan puisi yang dibacakan Sukmawati adalah puisi yang berkualitas tidak bagus. Bahkan bisa dibandingkan tak bermutu karena berisi ungkapan formal dan perasaaan personal saja.

''Jangan bandingkan dengan puisi yang bermutu misalnya kaya Sutardji C Bachri, WS Rendra, Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, atau para penyair lainnya. Saya baca malah hanya sekedar prosa dan ketidaksenangan terutama atas nilai ajaran agama Islam. Tak lebih dari itu,'' kata Abdul Hadi, di Jakarta, Rabu,(4/4).

Abdul Hadi yang menjadi pelopor 'sastra sufi' Indonesia lebih kau mengatakan apa yang dilakukan Sukmawati itu kecerobohan. Ini karena dia dengan begitu saja menilai sebuah budaya dengan begitu saja menilai bermutu dan tidak bermutu.

''Juga jangan dibenturkan satu budaya dengan budaya lain. Nilai dan estetikanya sendiri-sendiri.  Misalnya begini, jangan nilai ukuran estitika dengan perasaan senang tidak senang secara personal. Jangan benturkan nilai estetika musik barat dengan gamelan atau dengan lantunan azan. Ingat tidak semua musik barat bagus, dan juga tidak semua lantunan azan buruk. Ada suara musik dan gamelan yang buruk dan ada lantunan azan yang suaranya bagus. Semua tergantung pada kualitas pelakunya,'' katanya.

Khusus kepada puisi yang dibacakan Sukmawati, di kalangan kritikus sastra ada isitilah 'under critic'. Dalam kategori ini kritikus sastra enggan mengomentari karena tidak ada pencapaian estetik yang bermutu sehingga tak perlu juga dilakukan kritik atas karya tersebut.

"Puisi yang baik memiliki nilai estetis. Nilai inilah yang membuat sebuah puisi berharga. Dalam nilai estetis itu sudah terangkum nilai-nilai lain. Jadi bukan karena bikin heboh,'' ujarnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA