Wednesday, 4 Zulhijjah 1439 / 15 August 2018

Wednesday, 4 Zulhijjah 1439 / 15 August 2018

Air Mata Untuk Rohingya

Sabtu 02 September 2017 09:32 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Pengungsi Muslim Rohingnya.

Pengungsi Muslim Rohingnya.

Foto: AP

Oleh: Denny JA

Ketika kesembelih kambing dan sapi

untuk kurban suciku di Idul Adha,

Ya Allah...

Mereka sembelih pula puluhan manusia, di Rohingya,

Termasuk bayi temanku

Ketika  kuambil air wudhu memulai sholat malamku,

Ya Allah ...

Mereka  mulai pula perkosa puluhan wanita di Rohingya,

Termasuk  adik bungsu temanku

Ketika kumulai pagi

Kembali  mencari rejekiMU,

ya Allah...

Kembali pula mereka mengusir

puluhan ribu manusia di Rohingya.

Mereka usir paksa

dari tanahnya sendiri.

Kini Rohingya terlunta

Tak tahu harus kemana

termasuk ibu temanku

Darta namanya

Bukan politisi.

Ia hanya peduli saja

Tersentuh tragedi manusia

Kebun yang layu di Rohingya

Di tengah zikir si Darta

Menetes itu air mata

Seolah terdengar rintihan suara,

suara puluhan ribu manusia,

Rohingya sedang berdoa

"Ampun ya Allah.

Puluhan tahun sudah mereka siksa kami.

Ribuan kali sudah mereka bunuh kami."

"Tak tahu apa salah kami?

Apakah semata karena agama kami?

Apakah semata karena etnis kami?

Apakah semata karena nenek moyang kami?"

Darta terdiam lama

Terasa ada yang menyentuh hatinya

Iapun menulis surat

Kepada penguasa di sana

"Aung San Suu Kyi

Dulu aku merapat di sisimu

Saat itu kau menjadi bunga

Melawan tanpa kekerasan

Walau kau dizalimi

Oh, Kau begitu teguh

Terus kibarkan bendera nurani

Walau di atas bambu yang goyah

Walau kau terus disiksa

Oh, kau pahlawan kami

Kami ikut syukuran

Ketika kau terima Nobel Perdamaian

Kami kirimkan mimpi kami

Tapi kini, Aung San Suu Kyi

Kau menjadi penguasa

Astaga! kau lakukan

Apa yang dulu kau lawan

Karena kau diam saja

Ketika kezaliman terjadi di tanahmu

Karena kau diam saja

Ketika para wanita diperkosa

Karena kau diam saja

Ketika para bayi dibunuh

Karena kau diam saja

Ketika para ibu dipaksa mengungsi

Karena kau diam saja

Ketika dunia menegurmu

Maka kini

Aku melawanmu

Maka kini

Kukatakan TIDAK padamu

Zaman mengubah wajah

Kau yang bunga

Kini menjadi bedil

Selesai sudah pesan ditulis Darta

Dibacanya kembali pesan itu

Dari huruf-huruf pesan itu

Mengalir air mata

Dari titik dan koma pesan itu

Mengalir darah

September 2017

*DR Denny JA, Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI)

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA