Tuesday, 10 Zulhijjah 1439 / 21 August 2018

Tuesday, 10 Zulhijjah 1439 / 21 August 2018

Sejajar Serupa Umar

Selasa 17 April 2018 06:00 WIB

Red: Fitriyan Zamzami

Buya Hamka

Buya Hamka

Foto: hasanalbanna.com
Buya Hamka mewanti-wanti sikap hasad dan iri hati.

Oleh: Yusuf Maulana *)

Saat Tengku Besar Burhanuddin muda, ia punya kebiasaan turun ke bawah. Mengamati keadaan rakyat di Negeri Sembilan Malaysia. Ayah dari saudara Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan, Tuanku Abdurrahman (kelak menjadi Yang Dipertuan Agung Kerajaan Malaysia), ini tampaknya mencoba untuk menerapkan amalan orang-orang saleh dalam agama ini; di antaranya Umar ibn Khathab, terutama ketika menjabat sebagai khalifah.

Ada kemungkinan, Tengku Besar Burhanuddin, tak sekadar berteori atau bahkan berpuas dengan khayalan. Sebagaimana disebutkan Buya Hamka, sang sahabat Tengku Besar, ada pepatah yang patut direnung mendalam. “Belanda mati karena pangkat, Cina mati karena kekayaan, Keling mati karena makanan, Melayu mati dalam angan-angan.”

Kita, kaum Melayu, termasuk di Indonesia tentunya, tutur Hamka, bertambah mundur lagi karena hasad dan iri hati. “Kalau ada kawan yang kelihatan maju, yang lain benci dan memfitnah,” ungkap Hamka dalam menceritakan kisah ini di Tafsir Al Azhar Juz V surat an-Nisa ayat 32.

Karena itu, sosok-sosok seperti Tengku Besar Burhanuddin yang mau mendatangi kawasan perdesaan dan pelosok menjadi sesuatu yang menyirami keterpurukan adab umat dan bangsa Islam, di mana pun.

Dalam satu kunjungan di satu bidang sawah yang luas, sang Tengku bertemu satu titian yang telah rusak dan lapuk. Satu titian penyeberangan yang beramat faedah bagi ara petani di negerinya. Tak perlu panjang cakap, ia pun mengangkat kayu-kayu dan bambu titian atau jembatan yang berserak-serak tak keruan. Memikulnya sendiri lalu menyusunnya kembali agar bisa mendekati sedia kala agar dapat diseberangi.

Awalnya, seorang diri, lalu mengajak seorang pengiring bernama Sulaiman. Sulaiman adalah pujangga kenamaan Melayu sekaligus sahabat sang Tengku Besar. Mendapati kesigapan sang junjungan, Munsyi Sulaiman spontan berpantun:

Anak Raja memikul kayu,

Kayu diambil akan titian;  

Nasib malang orang Melayu,

Orang besar-besar berdengki-dengkian

Tak hanya Munsyi Sulaiman, para pengiring sang Tengku malu hanya berdiam menyaksikan tuannya bekerja seorang diri. Mereka serentak menyingsingkan lengan baju, bersama-sama bergotong royong memperbaiki titian para petani dan warga sekitar.

Bukan karena pujian dari sang Munsyi, Tengku Besar tercekat diam. Bukan pula soal kecepatan sang Munsyi merangkai kata. Kepada Buya Hamka, Tengku Besar berujar, “Beta termenung memikirkan dua hal.” Selain kecakapan sang pujangga, Tengku Besar menyelami isi gubahan pantun tersebut, “Karena orang-orang besar Melayu berdengki-dengkian, mudahlah bagi bangsa Inggris memecah-belah kami orang-orang besar Melayu, sehingga hak-hak pusaka kami habis dirampas.”

Alih-alih larut dalam praktik dengki-mendengki, atau sekadar merutuki sesama bangsawan Melayu, Tengku Besar Burhanuddi insaf satu hal. Tindakan nyata harus segera diperbuat; memberikan teladan mesti diwujudkan tanpa tendensi. Inilah tentang kebesaran pribadi di tengah kekerdilan pribadi sesama insan di sekeliling.

Dalam karya seri hidangan rohani dan budi pekerti berjudul Pribadi (1950), Hamka menuliskan tentang kebesaran pribadi. “Keteguhan hati pahlawan-pahlawan itu, keberaniannya menghadapi soal-soal yang sulit menyebabkan timbul pada orang yang menghadapinya naluri, yaitu tunduk kepada yang kuat.

Dan memang ada di antara manusia yang telah dijadikan Tuhan untuk memerintah dan membimbing. Karena kagum, orang senantiasa memperkatakannya, baik dengan kecintaan, baik pun dengan kebencian” (halaman 192).  

Kebesaran pribadi itu dengan amal nyata, tak perlu dengan gencarnya publikasi. Tak harus memaksa diri agar diketahui pihak lain meski itu rakyat sendiri. Karena kepribadian besar sering kali memerlukan kesenyapan; bukan antero puja-pujian apalagi gemerlap pencitraan. Dengan demikian, mematutkan diri sebagai sosok mirip para pahlawan besar dalam agama ini bukan dicari-cari atau dipaksakan.

Pengesanan berlaku wajar yang berangkat dari hati bersih para alit rakyat menilai. Bukan dari lisan politisi pemuja yang ingin cari perhatian. Bukan serupa Munsyi Sulaiman yang cemasi perilaku bangsanya lantas bertindak menuruti tuannya tanpa jatuh pada pengultusan tanpa bukti.

“Walaupun kita bukan seorang pahlawan di medan perang, walaupun di leher dan di bahu kita tidak ada tanda-tanda ketentaraan, kita pun dapat juga disegani orang, bahkan ditakuti, asal ada di dalam hidup kita ada sifat berani melalui perjuangan yang mengatasi kesanggupan manusia yang lain, sehingga orang kagum dan hormat,” pesan Buya Hamka di buku yang sama (halaman 193)

Tak perlu jadi seperti Tengku Besar Burhanuddin agar orang lain hormat; kita pun dapat melakukan dengan posisi kita, tanpa harus mencari pujian orang. Dan tak perlu kita jadi serupa Umar ibn Khathab dalam pengkiasan para pengikut setia, hanya dari kerja ala kadar tapi disebut setinggi langit seakan kita patut sejajar dengan sahabat Baginda Nabi tersebut. n

*) Kurator buku lawas Perpustakaan Samben, Yogyakarta; penulis buku "Mufakat Firasat", dan "Nuun, Berjibaku Mencandu Buku".

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA