Jumat, 6 Zulhijjah 1439 / 17 Agustus 2018

Jumat, 6 Zulhijjah 1439 / 17 Agustus 2018

Mengakhiri Episode Panjang Pelecehan Seksual

Ahad 04 Februari 2018 04:00 WIB

Red: Agus Yulianto

Ilustrasi Pelecehan Seksual. (Republika/Prayogi)

Ilustrasi Pelecehan Seksual. (Republika/Prayogi)

Foto: Republika/Prayogi
Pelecehan seksual merupakan "penyakit sosial", bukan penyakit bawaan lahir.

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh: Listiyani *)

Bagaikan episode yang tidak pernah menemukan akhirnya. Setelah muncul satu korban, bermunculan lagi korban-korban lainnya. Kasus pelecehan seksual bukan merupakan cerita baru, meliankan cerita lawas yang terus berulang.

Viral di tengah kita kasus pelecehan yang dilakukan oleh seorang perawat terhadap seorang pasien di sebuah Rumah Sakit di Surabaga. Setelah itu, bermunculan pula korban-korban pelecehan seksual lainnya. Tepat rasanya jika kasus ini diberikan judul, “Episode yang Takkunjung Menemukan Akhir”.

Takut, gelisah, marah, sedih, dan perasaan lainnya mungkin terus membayangi kita. Hari ini terjadi pada orang lain, akan tetapi bagaimana jika hal ini terjadi kepada orang terdekat kita, atau bahkan kepada kita sendiri?

Mengapa kasus ini terus berulang ? Bagaimana kita mengakhirinya?

Pelecehan seksual adalah perilaku pendekata-pendekatan yang terkait dengan seks yang diinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara verbal maupun fisik merujuk pada seks. Pelecehan seksual biasanya terdiri dari 10 persen kata-kata pelecehan, 10 persen intonasi yang menunjukkan pelecehan, dan 80 persen non-verbal.

Pelecehan seksual merupakan "penyakit sosial", bukan penyakit bawaan lahir bahkan ini bukan kehendak Tuhan untuk menggutuk seseorang berprilaku seperti itu (melakukan pelecehan seksual).

Melalui tontonan yang berbau porno, lelucon yang dianggap menghibur, kebiasaan atau budaya berpenampilan, interaksi antar lawan jenis ataupun bahkan sesama jenis yang kebablasan, bisa jadi sebagai faktor pemicu terjadinya pelecehan seksual. Atas nama kebebasan, norma agama pun tak jarang dilabrak begitu saja. Atau bisa jadi dorongan ekonomi telah menjadi pendorong seseorang menjual anak istrinya pada industri seksual. Begitulah dampak dari kehidupan bebas dan menghamba pada nafsu, kehidupan sekuler.

Pada masyarakat Islam, episode panjang ini tentu tidak akan terjadi. Hal ini dikarenakan Islam memiliki konsep preventif dan kuratif.

Islam adalah agama yang diturunkan oleh sang pencipta (Allah), kepada nabi Muhammad untuk mengatur hubungan antara manusia dengan penciptanya, menusia dengan dirinya sendiri, dan manusia dengan yang lainnya.

Kesempurnaan Islam mencakup pengaturan terkait kehidupan sosial, ekonomi, dll. Apa yang bisa memicu pelecehan seksual dicegah terjadi semisal industri pornografi pornoaksi, hingga himpitan persoalan ekonomi. Pun, jika terjadi tindak pelecehan seksual, Islam sangatlah tegas dalam pemberian sanksi. Sanksi dalam islam tidak hanya sebagai penebus kesalahan tapi juga bersifat memberikan efek jera.

"Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini, yaitu wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan disisi Allah adalah tempat kembali yang baik(surga)." (TQS. Ali Imran:14)

Alah SWT telah memperingatkan bahwasanya dalam episode kehidupan ini akan ada sesuatu yang melenakan, yang menjadi indah dalam pandangan kita, dan Allah telah memperingatkan kita bahwasanya sebaik-baik tempat kembali adalah di sisi Allah SWT.

Dengan kembali kepada aturan Sang Pencipta, yang aturannya tidak akan pernah menzalimi kita, episode panjang pelecehan seksual akan menemui akhir.

*) Ibu Muda, Kader Rumah Pergerakan, tinggal di Bandung

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA