Minggu, 9 Zulqaidah 1439 / 22 Juli 2018

Minggu, 9 Zulqaidah 1439 / 22 Juli 2018

Mewaspadai Hoaks

Kamis 11 Januari 2018 14:02 WIB

Red: Agung Sasongko

 Dra Hj.Siti Faizah Ketua Umum PP Salimah 2015-2020

Dra Hj.Siti Faizah Ketua Umum PP Salimah 2015-2020

Foto: dok.Istimewa

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh: Siti Faizah,  Ketua Umum PP Salimah

Sesuai dengan nama yang melekat pada alam fana, ‘dunia’ yang berarti dekat dan sementara. Banyak hal, urusan, pemikiran, informasi yang tergolong melalaikan. Yang nampak dekat dan lekat dengan gaya hidup kekinian,  info yang beredar via media berbasis gawai.

Dari info yang dibuat terbuka luas dan mudah diakses  satu sisi memudahkan, menambah pengetahuan  sampai menghibur bahkan menjadi solusi. Namun tidak sedikit  yang menggugah dan mendorong kehati-hatian.

Pecaturan informasi di tengah komunitas media sosial yang saat ini sangat digandrungi masyarakat Indonesia yang melek teknologi, terlanjur mewabah info cacat, mengandung kebohongan, menebar kebencian, baik dengan cacian, makian, maupun bahasa yang jauh dari sikap santun dan asusila.

Melalui sarana komunikasi yang sulit dipisahkan dari keseharian  ini, kemudian beredar apa yang disebut ‘hoax’, info yang  tidak benar, bohong, jauh dari akurasi dan palsu.  Berseliweran info hoaks bukan hanya merisaukan dunia maya, namun merugikan pemerintah, organisasi masyarakat, figur publik, tokoh masyarakat, dunia bisnis, kesehatan dan masyarakat pada umumnya.

Dari info palsu muncul kegalauan, sakit hati, muak dan merasa dibohongi. Betapa banyak korban dari masyarakat ‘awam’ yang bingung  dan galau, bahkan merasa dibohongi, dibodohi, dibuat  tidak jelas, kehilangan waktu yang berharga, hanya untuk membaca dan terjebak ke dalam info yang tidak bersumber serta tidak bermutu.

Semakin memperjelas bahwa dunia sarat panggung permainan yang sering kali melalaikan. Sebagaimana  Allah Ta’ala telah memberikan peringatan sebanyak empat kali, antara lain dalam Surah Al An’am : 32, Al ‘ankabut : 64 dan Muhammad :  36. Diantara ayat yang senada,  termaktub dalam Qs. Al Hadid: 20, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-banggan tentang banyaknya harta dan anak, laksana hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. …”

Dari ayat  di atas, Allah  Ta’ala memperingatkan manusia agar tidak terjebak ke dalam lima hal yang sangat dekat dan lekat dengan dunia. Sebagaimana Wahbah Az Zuhaili menjelaskan kelima hal tersebut dalam Tafsir Al Munir. Kehidupan dunia  masuk dalam  kategori ‘la’ibun, permainan, sesuatu yang tiada mengandung  faedah. Sedangkan ‘lahwun’, hiburan dan hura-hura belaka, meliputi sesuatu yang melalaikan manusia dari hal-hal yang penting dan berguna baginya.

Hal ini tidak menyisakan sesuatu, melainkan penyesalan. Dunia itu ‘ziinah’, perhiasan atau sesuatu yang digunakan untuk berhias, seperti kedudukan dan jabatan tinggi, kendaraan yang mewah, rumah yang megah dan pakaian yang mewah. Termasuk kategori ‘tafakhur’, sikap saling menyombongkan dan membanggakan diri dengan gelar, kejayaan, kehormatan, dan nasab. Disebut ‘takatsur’, saling bersaing, berkompetisi, dan saling berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak.

Kehidupan dunia hanyalah permainan semata, hiburan yang dinikmati hanya sesaat saja, kemudian langsung selesai dan hilang. Perhiasan yang digunakan berhias dan bersenang sementara saja, kebanggaan yang dibanggakan oleh sebagian dari manusia terhadap sebagian yang lain dengan banyaknya harta dan anak. Allah menyerupakan dunia dalam hal cepat sirna dan hilang juga minim manfaat, dengan tumbuhan yang ditumbuhkan oleh air hujan hingga tumbuh besar dan dewasa, kemudian hilang dan sirna dan tidak mendapatkan apa-apa. Na’udzu billah

Permainan, hiburan, perhiasan merupakan bagian dari dunia dan manusia boleh mengenakan, menghias dirinya dan menikmatinya. Seraya memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari segala jenis godaan setan yang terkutuk, membaca basmalah agar aktifitas bergadgetnya manfaat dan menjadi bagian dari ibadah.

Dengan menjaga kesungguh-sungguhan dan kehati-hatian agar tidak berlebih-lebihan, apalagi terlalaikan hingga  terselip sikap sombong, pamer dan ingin dipuji. Memunculkan perkataan dan perbuatan yang tidak berfaedah, memfitnah, memaki, merendahkan apalagi berbohong, amoral dan asusila.

Mencampur-adukkan antara hak dan batil. Memajang dan memandangi gambar dan foto dengan niatan birahi dan tidak terpuji. Boleh jadi ‘hoax’ bukan sekedar info,  bisa jadi berbentuk sikap dan perilaku yang mengintai hati yang lalai dari-Mu. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA