Wednesday, 15 Jumadil Akhir 1440 / 20 February 2019

Wednesday, 15 Jumadil Akhir 1440 / 20 February 2019

Istirahat Terakhir di Tempat Nan Layak

Senin 13 Jun 2016 11:56 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Pemakaman Al Azhar Memorial Garden di Karawang.

Pemakaman Al Azhar Memorial Garden di Karawang.

Foto: Republika/Dwi M

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Novita M, blogger

Allah mencipakan alam semesta lengkap dengan kehidupan di dalamnya. Air adalah zat asal mula kehidupan segala sesuatu, termasuk manusia. Selain Alquran, Hadis juga merujuk air sebagai hal ihwal kehidupan. Dimana ada awal pasti ada akhirnya. Begitupun dengan kehidupan manusia. Dimulai, berjalan dan berakhir sesuai suratan takdir-Nya.

'Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat'.

Potongan ayat dari surat Al-Insan ini menjelaskan bahwa, manusia awalnya dari tidak ada. Kemudian, manusia ada di muka bumi, hidup dan berkembang. Tuhan YME menyediakan segala hal yang dibutuhkan, juga hal-hal menyenangkan bagi manusia. Ada yang bersyukur kepada kuasa, ajaran dan nikmatNya tetapi, tidak sedikit pula manusia yang mengingkariNya.

Orang-orang mukmin menyadari kematian pasti akan terjadi baik cepat ataupun lambat karena takdir Allah. Sedangkan orang-orang kafir beranggapan, kehidupan dan kematian memang sudah sesuai dengan kaidah ilmu pengetahuan semata-mata saja. Sudah tua, sakit-sakitan wajarlah jika seseorang itu tak lama lagi menemui kematiannya, begitu kebanyakan anggapan orang-orang kafir. Tetapi, seorang mukmin beranggapan, tidaklah ajal seseorang sebelum Tuhan YME menghendaki kematian bagi orang tersebut, entah melalui sakit, perang, kecelakaan ataupun tua.

Sebab perbedaan iman, petunjuk dan pemikiran itulah, maka antara mukmin dan non mukmin terjadi pula perbedaan dan pemisahan area pemakamannya. Sangat tidak elok bila shalat 5 waktu ditegakan di rumah ibadah agama lain selain masjid. Dan, sangat tidak etis pula, melaksanakan prosesi agama lain di masjidil Haram.

Begitupun dengan pemakaman. Muslim membangun kompleks pemakamannya terpisah dengan non muslim. Sebaliknya, non muslimpun ternyata berlaku sama, tidak memasukan jenazah orang muslim di area kuburan milik mereka. Pemisahan area pemakaman, merupakan wujud penghormatan dari yang masih hidup bagi jenazah. Bagaimanapun, kompleks pemakaman termasuk area sakral bagi setiap orang yang memeluk agama.

Pulau Jawa yang hanya seluas 126.700 km persegi merupakan pulau dengan jumlah penduduk terpadat di dunia yaitu, menjadi tempat mukim lebih dari 124 juta jiwa. Atau bila diambil rata-rata, di pulau Jawa ada hampir 1000 orang per km perseginya. Akibatnya, lahan menjadi begitu terbatas, termasuk untuk lahan pemakaman. Bahkan ada anekdot, di Jawa sepuluh tahun lagi orang bisa dikubur berdiri dikarenakan begitu terbatasnya tanah untuk berbagai keperluan hidup penduduknya yang terus bertambah-tambah sehingga tempat untuk pemakaman menjadi terlupakan. Bahkan yang sudah ada, tak jarang tergusur juga.

Al Azhar Memorial Garden (AAMG) menjadi alternatif untuk mengatasi beragam persoalan penguburan kaum muslim di masa kini dan terlebih, di masa datang. AAMG bukan kompleks kuburan mewah dan megah yang bertentangan dengan akidah. AAMG betul-betul asri, sejuk, indah, bersih, luas, rapi dan sesuai syariat pemakaman dalam agama Islam.

Meskipun ingin membeli lahan di AAMG dengan harga sangat tinggi, managemen AAMG pasti menolak bila lahan yang dibeli itu akan dibangun pemakaman yang bertentangan dengan norma-norma layaknya pemakaman muslim.

AAMG Karawang Timur berdiri di atas tanah seluas lebih dari 25 Ha tepat dipinggir ruas tol arah Jakarta. AAMG mudah dijangkau. Pada ruas tol arah sebaliknya dan bahkan bersebelahan dengan AAMG, sudah banyak daerah industri dan bisnis yang dibangun saling bermekaran. Setiap hari kendaraan pekerja hilir mudik ke dan dari Jakarta. AAMG pulang pergi. Hanya butuh waktu sekitar satu jam dari pintu tol Cawang hingga tiba di gerbang AAMG.

Sudah dipastikan, harga lahan AAMG akan cenderung terus naik dari waktu ke waktu. Menyadari hal ini, managemen AAMG terus mengupayakan pola syariah yang memudahkan agar setiap muslim tidak keberatan pendanaan bila ingin memiliki sebidang lahan di AAMG.

Di AAMG, cukup sekali selesai membayar, tidak perlu lagi membayar biaya perawatan untuk selamanya. Secara profesional dan terus menerus, managemen AAMG akan memelihara makam. Artinya, makam akan dirawat sebaik-baiknya hingga ratusan bahkan ribuan tahun akan datang. Ahli waris tak perlu khawatir, makam akan dibongkar, makam akan dijual ataupun makam akan ditindih dengan makam yang baru.

Managemen AAMG selalu berpedoman, hidup seorang muslim di dunia begitu berharga maka, sudah selayaknya ketika meninggal, siapapun muslim itu berhak mendapatkan penghormatan yang layak dengan dikuburkan di tempat yang layak.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA