Tips Atasi Jetlag Jamaah Haji
Ahad , 22 Jul 2018, 16:58 WIB

Republika/Fitriyan Zamzami
Jamaah haji memenuhi Masjid Quba, Madinah, Sabtu (21/7). Masjid yang terletak sekitar 10 kilometer dari Madjid Nabawi ini berdiri di lokasi tempat Rasulullah SAW membangun masjid pertama.

IHRAM.CO.ID,  JAKARTA -- Mendarat di tanah suci menjadi babak baru perjalanan jamaah haji asal Indonesia. Perbedaan cuaca menjadi salah satu tantangan bagi jamaah tanah air yang biasa dengan iklim tropis.

Kondisi jetlag pun kerap dialami di waktu-waktu awal. Jika tidak dapat diatasi, kondisi ini dapat mengganggu proses ibadah. Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah, Rafiq Jauhary berbagi tips dengan Republika terkait cara mengatasi jetlag bagi para jamaah yang baru tiba tanah suci.

Rafiq mengatakan tidak sedikit di antara jamaah yang mengabaikan rasa capek karena didorong ingin melaksanakan ibadah. Di benak mereka hanya ada satu ibadah ke ibadah lainnya, padahal sebenarnya tubuh menuntut waktu untuk istirahat.

Semangat beribadah ini juga terpengaruh dengan perbedaan waktu antara Indonesia dengan Arab Saudi. Para jamaah tidak sedikit yang telah siap berangkat ke masjid pukul satu dini hari. Hal ini karena di kamar hotel mereka tidak bisa tidur dan merasakan badan sudah segar.

"Keadaan seperti inilah yang dinamakan jetlag," kata pembimbing jamaah haji dan umrah sejak 10 tahun lalu ini.

Perlu diketahui pada saat yang sama pukul satu dini hari waktu Madinah adalah sama dengan pukul lima pagi di Indonesia. Inilah mengapa setiap pukul satu dini hari jamaah haji sudah merasakan badan yang segar dan seolah tergesa ingin pergi ke masjid.

Untuk mengatasi jetlag ini, Rafiq menyampaikan ada beberapa hal yang harus dilakukan. Pertama, segera ganti waktu di jam tangan atau di ponsel dengan waktu Arab Saudi. Waktu Arab Saudi adalah emlat jam lebih lambat dengan Waktu Indonesia Barat.

"Jangan sampai ketika sampai di Arab Saudi para jamaah masih beraktifitas layaknya di Indonesia," kata dia.

Selanjutnya, jamaah disarankan istirahat yang cukup agar badan mulai beradaptasi. Latih untuk tidak mengantuk ketika sore hari dan tetap berbaring di tengah malam. Begitupun di siang hari, biasakan untuk istirahat walau hanya sesaat. Baik sebelum dhuhur atau setelahnya.

Ketika waktu istirahat sudah terkondisikan, jamaah bisa mulai belajar mengatur kegiatan lain dan juga waktu beribadah. Rafiq mendoakan agar kegiatan jamaah di Tanah Suci tetap lancar dan badan pun tetap sehat.

Redaktur : Agung Sasongko
Reporter : Lida Puspaningtyas