Agar Suami Istri Tak Bertengkar di Tanah Suci
Selasa , 17 Sep 2013, 05:39 WIB

Calon jamaah haji kelompok terbang (kloter) pertama embarkasi Jakarta menaiki pesawat di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Selasa (10/9). (Republika/Yasin Habibi)

REPUBLIKA.CO.ID, Assalamualaikum Wr Wb

Ustaz, kami pasangan suami-istri akan menunaikan haji tahun ini. Kami mendengar selama di Tanah Suci banyak pasangan suami istri yang justru sibuk bertengkar sehingga lalai pada ibadah. Apa yang harus kami lakukan agar terhindar dari hal seperti itu?

Hamba Allah

Malang, Jawa Timur

Jawab:

Waalaikumussalam Wr Wb

Ibadah haji adalah ibadah berjamaah. Berangkat dalam kelompok dan rombongan-rombongan. Pasangan suami-istri tak terkecuali. Yang diharapkan tentunya adalah silaturahim. Berkasih sayang satu dengan yang lain. Saling tolong menolong dan menghargai. Memiliki toleransi yang tinggi dan jauh dari watak egois.

Fenomena pertengkaran suami istri yang dikemukakan tentu memprihatinkan. Ada tiga faktor yang biasa jadi penyebabnya yaitu pertama, kurang memahami bahwa ibadah haji adalah ibadah untuk menyucikan diri dan membangun harmoni.

Kedua, kurang menyadari bahwa ibadah ini tidak lepas dari cobaan dan gangguan. Ketiga, memang mungkin menjadi habitat rumah tangganya yang selalu berselisih.

   

Untuk menghindari pertengkaran yang membahayakan keutuhan rumah tangga sekaligus merusak ibadah haji yang dijalankan oleh suami istri, maka diupayakan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, meyakini dan saling meyakinkan satu dengan yang lain bahwa haji adalah panggilan. Allah SWT telah memanggil sang suami dan sang istri untuk datang ke rumah-Nya. Keduanya diundang menjadi “doyf” tamu Allah.

Kedua, bertekad dengan sungguh-sungguh baik suami maupun istri  untuk  “beribadah bersama-sama”. Berniat kuat akan menyatukan langkah dan menikmati perjalanan ke Tanah Suci dengan gembira.

Ketiga, berkomitmen untuk saling memuliakan pasangannya, menutup aib, serta berjanji akan saling mengalah jika terjadi perbedaan pendapat.

Keempat, menyadari dan memaklumi kelebihan dan kelemahan watak masing-masing selama ini. Hal-hal baik dari pasangannya dimaksimalkan agar menjadi amal saleh berkelanjutan. Sedangkan watak buruk dihindari pengejawantahannya sejauh mungkin. Menjadi pemaaf kepada suami atau istri.

Kelima, sabar menghadapi gangguan yang ada. Selalu mencari jalan untuk ishlah dan mengembalikan segala urusan kepada Allah.  Berdo’a agar diberikan kesabaran,lapang dada, serta kerukunan dalam berumah tangga. 

Ustaz HM Rizal Fadillah

Pembimbing Haji/Umrah dan Pimpinan SYARAFA Tour & Travel Bandung.


BERITA LAINNYA