Asal-Usul Delima
Ahad , 16 Sep 2018, 19:00 WIB

Republika/Erdy Nasrul
Buah Delima

REPUBLIKA.CO.ID, OLEH ERDY NASRUL dari Makkah

Sejak ribuan tahun lalu, manusia sudah menikmati delima baik sebagai makanan maupun obat. Buah ini kaya dengan gizi. Sari buah atau jus delima banyak mengandung zat antikarsinogenik flavonid: senyawa antioksidan pencegah radikal bebas yang memperbarui sel tubuh.

Antioksidan yang terkandung di dalamnya menekan kolesterol, sehingga pembuluh darah arteri tidak tersumbat. Delima membantu mengatur gula darah, meningkatkan sensitivitas terhadap insulin, melawan peradangan, dan mencegah obesitas dan diabetes. Tak hanya buah, kulitnya pun dapat dimanfaatkan untuk obat-obatan dan kosmetik (Sudjijo: 2014).

Buah ini bermula dari bunga jingga-merah. Ukurannya mulai seperti anggur dan membesar hingga semisal lemon. Di dalam kulit cerahnya terdapat ratusan bulir delima. Ada yang merah, putih, dan hitam. Ada juga delima berwarna lain dengan rasa beragam. Ada yang lebih masam. Lainnya lebih manis. Delima merah muda terasa manis seperti madu. Ada juga yang berwarna kuning, merah tua, dan ungu.

Pohon ini menjadi objek budi daya, baik untuk pertanian maupun hiasan. Tanah kering tak menghalanginya tumbuh 6-8 meter. Idealnya, tanah untuk tanaman ini adalah yang subur: lempung dengan banyak kandungan humus. Tanah tersebut cocok untuk beragam tumbuhan.

Beda delima dan tanaman lain ada pada tanah. Di tanah liat, hitam, dan yang kering berbatu, delima tetap akan tumbuh. Kandungan pH untuk menanamnya adalah 4.5-8.2, tapi idealnya adalah 5.5-7.2. Hasil panen akan kurang maksimal jika tanah terlalu berpasir, kecuali jika disuburkan dengan pupuk. Pohon delima yang ditanam di tanah liat akan menghasilkan buah dengan warna cerah.

Pohon ini tahan garam, tapi jika kandungan garam dalam tanah 0,5 persen akan membahayakan kelangsungan hidupnya. Jika tinggal di daerah pesisir, maka delima lebih baik ditanam dengan pot untuk menjaga kelangsungan hidup.

Tanaman ini lebih kuat berada di tanah kering meskipun dapat bertahan di area tergenang. Namun, jika terus menerus berada di tanah dengan air tergenang, maka akan mati. Tak masalah bila ditanam di daerah hujan, asalkan air tidak menggenangi area perkebunan delima (Richard Aston: 2006)

 

Redaktur : Agung Sasongko