Al-Haram Mempertemukan Kita
Rabu , 15 Aug 2018, 11:53 WIB

doc
Erdy Nasrul

IHRAM.CO.ID, Oleh: Erdy Nasrul dari Makkah, Arab Saudi

MAKKAH -- Tanah Suci tak hanya menjadi tempat berzikir dan bermunajat. Lebih dari itu, Makkah adalah tempat berkumpulnya masyarakat dari berbagai belahan dunia. Masyarakat Asia, Eropa, Amerika, Australia, dan Afrika berkumpul di sini. Semuanya mengumandangkan talbiyah, bertawaf, bersa’i, bertahalul, dan melaksanakan rangkaian ibadah haji yang melelahkan.

Dulu, Muslim yang berhaji lebih lama menempati Kota Makkah. Mereka berdagang, menuntut ilmu, membangun rumah tangga, bahkan tutup usia.

Pergaulan masyarakat Indonesia dengan penduduk setempat terjalin dengan akrab sehingga mereka membangun hubungan yang konstruktif. Hubungan itu melahirkan diskusi dan ide-ide brilian yang mengarah pada pembaruan untuk mencerahkan kehidupan di kampung halaman.

Kini saya mengalami yang mereka rasakan, melaksanakan rukun Islam kelima, ibadah yang banyak menghabiskan energi fisik. Satu hal yang membuat saya berkesan adalah pertemuan dengan sejumlah teman. Selama ini kami hanya menjalin komunikasi melalui media sosial yang sangat terbatas, tidak bisa terbuka apa adanya.

Ini saya alami ketika bertatap muka dengan salah seorang pendiri Pondok Modern Tazakka Batang Jawa Tengah KH Anizar Masyhadi. Alhamdulillah, ini merupakan pertemuan dengan hidangan yang sederhana, tapi penuh pembicaraan bermakna.

Ada diskusi tentang kandidat presiden RI 2019. Isu nasional itu merembet ke Tanah Suci begitu kuat.

Banyak jamaah haji membicarakan profil masing-masing pasangan. Gema pilpres di Tanah Air sampai ke al-Haram. Bukan hanya di hotel jamaah, tapi juga Menara Zamzam, bahkan dalam area Masjid Suci yang dibangun para nabi.

Pembicaraan hal yang sama juga terjadi ketika saya bertatap muka dengan Sales Manager Hotel Pullman Menara Zamzam Muhammad Martin. Aktivitas padat di Tanah Suci tak membuatnya melupakan situasi Tanah Air yang ramai dengan persoalan pemimpin bangsa 2019.

photo
Hotel bintang lima di sekitar Masjid al-Haram, Makkah, Arab Saudi.

Terus terang, pertemuan satu ini tak direncanakan. Bermula dari pemberitaan Tanah Suci yang saya tulis, seorang teman mengundang saya bergabung dalam sebuah grup media sosial.

Di sanalah komunikasi kami terbangun dengan hangat. Kosa kata Arab khas santri bermunculan meramaikan suasana. Di situ berita saya dipamerkan kepada ratusan penghuni grup medsos.

Di situlah saya mengenal nama Martin. Singkat kata, akhirnya saya memberi hormat kepadanya yang merupakan senior saya ketika menuntut ilmu dulu di Pondok Modern Darussalam Gontor.

Sungguh tidak menyangka, di bangunan kebanggaan masyarakat Arab Saudi itu ada putra Tanah Air yang berperan sebagai manager. Saya hormat kepadanya.

Kami pun berbicara tentang banyak hal: hotel yang dikelolanya, seperti apa ulah para tamu di dalamnya, dan tingkat okupansi hotel selama musim haji. Setelah pembicaraan yang mengasyikkan, kami berfoto bersama untuk menjadi bukti, bahwa al-Haram mempertemukan kami semua.

Kalbu saya seperti berbisik, pertemuan di Tanah Suci ini bukan hal biasa. Tiba-tiba saja terjadi. Kemudian membekas dalam hati, bahwa ada sesuatu yang tersimpan di didalamnya yang jauh dari persoalan materi keduniaan.

Saya merasakan ini adalah persoalan batin. Ketenangan, kebersamaan, keakraban, dan persaudaraan, begitu kuat tertanam di hati.

Ini adalah rekayasa Ilahi. Sang Pencipta seakan memberi pesan kepada saya untuk memacu diri. Selama ini saya telah tertinggal jauh dalam mengabdi untuk umat. Mereka sudah menghasilkan karya berupa pesantren, melayani dhuyufurrahman menginap dan memandu mereka beribadah. Luar biasa.

photo

Saya teringat orang-orang dahulu yang banyak belajar dari orang-orang hebat. Ulama Nusantara, seperti Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari (1871-1947) dan KH Ahmad Dahlan (1863-1923) berguru dan berinteraksi dengan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (1860-1916) di Makkah. Setelah itu keduanya kembali membangun masyarakat.

Mungkin saya harus belajar dari orang-orang yang saya temui di al-Haram, tanah para nabi mendakwahkan tauhid, yang dimuliakan miliaran orang dari masa ke masa. Di hadapan Ka’bah saya bermunajat, Allah akan meridhai saya, keluarga, dan handai taulan di Tanah Air. Semoga.

Redaktur : Ani Nursalikah