Algoritma Ibadah Haji
Sabtu , 11 Agu 2018, 06:29 WIB

dok. Pribadi
Fitriyani Zamzami

Fitriyan Zamzami dari Jeddah, Arab Saudi

IHRAM.CO.ID, Berbarengan dengan ketibaan saya di Jeddah, ada hajatan besar. Banyak bus-bus baru berwarna putih terparkir dan berseliweran di jalan-jalan. Wahana-wahana itu punya tujuan mengangkut ribuan ahli pemrograman komputer dari seantero Timur Tengah dan Asia menuju Jeddah International Expo Center. Lokasi itu sekitar 15 menit berjalan kaki dari tempat saya menginap.

Saya mengintip ke lokasi itu pada awal Agustus lalu dan melihat banyak anak muda berkacamata. Dalam kelompok-kelompok kecil mereka mengelilingi komputer masing-masing dan nampak serius berembuk. Sudah hampir tiga hari mereka begitu.

Acaranya, Hajj Hackaton. Pemerintah Arab Saudi mengumpulkan 3.000 orang ahli teknologi informasi untuk berlomba menciptakan perangkat lunak paling sangkil dan mangkus guna menangani rerupa persoalan haji. Tentunya, yang jauh lebih baik dari skripsi sederhana saya soal software tuntunan haji saat mencoba menyelesaikan kuliah di jurusan Teknik Informatika UII Yogyakarta.

Para juri yang menilai kerja para programer bukan main-main. Salah satunya, Steve Wozniak, rekan Steve Job yang sama-sama mendirikan Apple.Inc.

Yang memenangkan ajang itu tak kalah luar biasa. Mereka adalah empat programer perempuan Saudi yang merancang aplikasi penerjemah berbagai tanda arah serta petunjuk di Saudi ke dalam bahasa masing-masing pengguna tanpa koneksi internet.

Pada urutan kedua ada aplikasi e-wallet yang memungkinkan jamaah tak perlu membawa uang tunai guna bertransaksi di Tanah Suci. Selanjutnya ada tim dari Aljazair yang merancang peta otomatis yang bisa menunjukkan lokasi jamaah tertentu dan mengirimkan gambar lokasi itu. Saya bayangkan, ia bakal berguna sekali bagi jamaah Indonesia yang terkenal kerap nyasar itu.

Hajatan itu sedikit banyak menunjukkan obsesi banyak pihak, utamanya Arab Saudi soal otomatisasi ibadah haji. Tahun ini pun, baik pemerintah Arab Saudi maupun PPIH dari Kemenag Indonesia sudah mengimbuhkan teknologi informasi guna memudahkan jamaah di Tanah Suci.

Namun kemudian saya menemui serombongan jamaah Indonesia tiba di Bandara King Abdulaziz pada awal pekan ini. Saya tak perlu merinci asalnya, katakanlah saja mereka datang bukan dari kota besar. Saat membantu mereka berbaris menuju bus, saya sadari bahwa antrean bukan konsep yang akrab bagi mereka.

Saling potong bukan hal tabu. Satu baris kemudian jadi tiga dan bisa terus bertambah jika jamaah bersangkutan tak diancam-ancam. Saya katakan, dengan melebih-lebihkan tentunya, bahwa kelakuan macam begitu bisa berujung maut saat nanti di Mina.

Ada lagi kejadian di Madinah. Kawan-kawan petugas haji harus bolak-balik mengantar beberapa jamaah tersesat karena perangkat lunak di gawai keliru mencatat pemondokan yang bersangkutan. Alih-alih bikin mudah, aplikasi itu justru menimbulkan kerepotan yang tak perlu.

Sang jamaah haji yang diantar juga datang dari pelosok dan tak pandai berbahasa Indonesia. Kode yang dipasang di gelang jamaah juga ternyata sukar dipindai.

Tentu adalah bayangan yang indah bahwa nantinya pelaksanaan ibadah haji bisa bertumpu sepenuhnya pada aplikasi-aplikasi di gawai dan sistem manajemen yang sepenuhnya terkomputerisasi. Namun, faktanya ada berlaksa-laksa variabel untuk dirangkum seluruhnya dalam algoritma kode pemrograman di balik program dan aplikasi apapun. Baik yang telah maupun sedang dirancang untuk memudahkan pelaksanaan ibadah haji.

Upaya-upaya itu tentu ikhtiar mulia. Setidaknya di atas kertas atau lebih tepatnya di layar komputer dan gawai. Namun kenyataan pahitnya, manusia adalah manusia. Mereka makhluk yang luar biasa kompleks dan kerap bergerak dalam pola-pola tak terduga seperti jamaah ogah mengantre di Bandara Jeddah.

Dosen-dosen terkasih saya di kampus dulu mudah-mudahan tak marah jika saya bilang upaya-upaya membuat mudah dan aman pelaksanaan ibadah haji tak mungkin bisa dengan pengembangan teknologi semata. Ikhtiar bisa dilanjutkan, tapi jangan sampai pengembangan teknologi informasi menimbulkan kesan bahwa petugas-petugas manusia bisa dikecilkan apalagi dihilangkan perannya. Karena pada substansinya, ibadah haji adalah hajatan kemanusiaan dengan segala kekurangan dan kerumitan makhluk tersebut.

Redaktur : Andi Nur Aminah