Fokus Makkah
Kamis , 09 Agustus 2018, 19:20 WIB

ROL/Didi Purwadi
Makkah

IHRAM.CO.ID,Oleh: Erdy Nasrul dari Makkah

MAKKAH — Mayoritas jamaah haji kini sudah berada di Makkah. Di sana  mereka melaksanakan umrah wajib dan berbagai ibadah lainnya. Jamaah juga mempersiapkan diri untuk prosesi puncak haji yang mulai berlangsung pada 8 Dzulhijjah atau dua hari sebelum hari raya Idul Adha.

“Jamaah Indonesia sekarang sudah lebih dari 170 ribu berada di Makkah,” ujar Kepala Daerah Kerja Makkah Dr Endang Jumali di Syisyah pada Kamis (9/8).

Mereka menginap di 165 hotel yang tersebar di tujuh wilayah: Jarwal,  Misfalah,  Raudhah,  Mahbas Jin,  Syisyah,  Aziziah,  dan Rei Bakhsy. Jarak terjauh dari Masjid al-Haram mencapai 4.390 meter dan yang terdekat 900 meter.

Kebanyakan jamaah berangkat mengunjungi masjid suci mulai ba’da ashar. Mereka mengantre turun menuju lobi menggunakan lift. Kemudian berjejal di dalam bus menuju terminal Masjid Suci: Ajyad, Bab Ali, dan Syib Amir.

Meski sebagian jamaah gelombang kedua masih berdatangan lewat Jeddah, perhatian petugas kini lebih terpusat ke Makkah. Personel Daker Madinah kini sudah siaga di Makkah. Sebagian dari mereka memperkuat sektor khusus al-Haram yang menjadi konsentrasi jutaan jamaah haji pada sore hingga malam hari.

Endang mengimbau jamaah untuk pandai memilih waktu mengujungi al-Haram. Jika ingin berumrah wajib, maka jamaah disarankan melaksanakannya di luar waktu shalat fardu. Sebab, jamaah pasti memenuhi al-Haram di waktu tersebut, terutama magrib dan Isya. Jutaan jamaah memadati area dalam dan luar masjid suci.

Kepala Subdit Bimbingan Ibadah Kementerian Agama itu juga mengimbau jamaah jangan terlalu memporsir ibadah sunnah, karena hal itu sangat melelahkan dan berpotensi mengganggu kesehatan. “Saya masih menemukan jamaah yang umrah sampai 16 kali. Ini sangat menguras energi,” ujarnya.

Jamaah diarahkannya untuk fokus kepada rukun dan wajib haji terlebih dahulu. Wukuf di Arafah adalah yang utama. Setelah itu mabit di Muzdalifah. Kemudian dilanjutkan dengan jumrah aqabah dan tawaf wada’. Kemudian jamaah masih harus melaksanakan jumrah ula, wustha, dan aqabah sampai selesai nafar awal dan sani.

Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Sri Ilham Lubis mengatakan pola pergerakan petugas saat ini semakin intens. PPIH menitikberatkan tugas pada pengawasan. “Katering terutama, harus diawasi ekstra, karena mereka harus memroduksi makanan jamaah dalam jumlah besar. Kerja mereka sekarang sudah dengan kekuatan penuh,” kata Sri.

Pihaknya menyebarkan imbauan dan surat edaran kepada dapur katering agar berhati-hati memasak sayur. Mereka harus mengakhirkan masak sayur agar makanan tetap layak dikonsumsi. Sayur hanya bertahan sekitar lima jam.

Jika dimasak pada malam dinihari, kemudian didistribusikan pada pukul 9.00 pagi, maka dipastikannya sayur sudah tak layak dimakan. Hal tersebut akan merugikan jamaah, karena mereka tak dapat menimkmati makanan yang sudah dibagikan.

Distribusi makanan juga harus diawasi. Jalanan kota Makkah saat ini sudah begitu padat. Kemacetan terjadi di mana-mana, karena jamaah haji dari berbagai negara membanjiri Makkah. “Karena itu, katering harus memperbanyak truk pengirim makanan,” kata Sri Ilham.

Jalanan sekitar Swalayan Bin Dawood Syisyah dipadati kendaraan, terutama pada sore hari ba’da shalat Ashar. Bus masyair yang mengantarkan jamaah menuju Haram mengular hingga satu kilometer. Suara klakson kendaraan bersahutan.

Tak hanya sore, kepadatan bahkan terjadi pada dinihari menjelang shalat subuh. Setiap pukul 3.00 waktu setempat, jamaah haji Indonesia berkerumun meninggalkan hotel. Bus shalawat yang mengangkut mereka penuh dengan penumpang.

Penumpang harus menunggu hingga 30 menit untuk mendapatkan bus yang tak terlalu penuh. Kendaraan umum tersebut juga terjebak macet 20 menit di terowongan menuju al-Haram. “Suasana sekarang ini sudah padat, karena itu petugas harus lebih meningkatkan pengawasan. Jamaah juga harus berhati-hati menghadapi situasi ini,” kata Sri.

Redaktur : Agung Sasongko