Sejuknya Angin Perubahan di Saudi
Kamis , 09 Agustus 2018, 06:06 WIB

dok. Pribadi
Fitriyani Zamzami

Laporan Wartawan Republika.co.id, Fitriyan Zamzami dari Jeddah

IHRAM.CO.ID, Setelah sekian lama hanya mendengar kabar beritanya saja, akhirnya dengan mata kepala sendiri saya menyaksikan. Matahari mulai turun di Jeddah pada Jumat yang penuh berkah itu, tapi keremangan masih belum mengganggu pandangan.

Kendaraan-kendaraan pribadi milik warga Jeddah, entah mengapa banyak yang penyok namun tak diperbaiki, mulai padat ke arah selatan mengantarkan empunya pulang bekerja. Kemudian di Jalan Raya Basatin, jalur utama dari Bandara King Abdulaziz Jeddah menuju pusat kota, ikut melintas makhluk mitologis.

Ia duduk di sebelah kiri sebuah sedan kecil berwarna abu-abu. Di Saudi, seperti di Amerika Serikat, disitulah posisi pengemudi. Sang pengemudi itu hanya nampak mata dan jembatan hidungnya saja. Menatap lurus ke depan dengan cadar yang tertiup angin dari kaca jendela yang tak ditutup.

Saya terlonjak dengan kepala nyaris terantuk langit-langit minibus yang saya naiki bersama rekan-rekan dari Tim MCH Daker Bandara PPIH Arab Saudi. “Ada perempuan Arab nyetir! Ada perempuan Arab nyetir!”. Saya bersiap merogoh telepon genggam untuk mengambil gambar, tapi kemudian tersadar, apa hak saya mengganggu privasinya tanpa meminta izin.

Akhirnya, hanya saya pandangi saja kendaraan itu yang kian lama kian tertinggal, kalah cepat dengan kiri kanannya. Tak nampak lagi merek kendaraannya yang luput saya amati sedari awal. Ajaibnya lagi, ia hanya sendirian di kendaraan tersebut.

Lewat sepekan di Jeddah yang lebih terbuka itu, baru saya temui janji yang diumbar Kerajaan Arab Saudi sejak akhir tahun lalu dan baru beberapa bulan kebelakang dipenuhi tersebut. Sepenggal adegan di sore itu mengonfirmasi kecurigaan saya bahwa memang ada yang lain dari Arab Saudi tahun ini.

Mulanya, saya kira keramahan banyak petugas Arab Saudi di berbagai tempat yang saya kunjungi memang demikian adanya sedari dahulu. Bahwa remaja-remaja dan pemuda Saudi yang kian gemar berfoto dengan orang asing memang pembawaan mereka. Bahwa candaan di sela-sela percakapan seperti di Indonesia sudah jamak di sini.

Tapi Pak Arsyad Hidayat mengoreksi dugaan saya. Pria yang pada musim haji kali ini bertindak sebagai kepala Daker Bandara PPIH Arab Saudi itu sudah mengurusi pelayanan haji di Tanah Suci sejak 2009. Berulang kali harus berurusan dengan pejabat-pejabat dan petugas tempatan. Ia hafal tabiat mereka. Kalau ada yang bisa merasakan perubahan-perubahan di Arab Saudi, beliau ini salah satu orangnya.

“Saya rasakan tahun ini memang ada naqlah, ada lompatan besar. Saudi tak hanya berlari apalagi berjalan,” kata dia soal kondisi Saudi terkini.

Secara khusus, ia terkesan dengan sejumlah pemudi Arab Saudi tak bercadar yang nampak sibuk menanyai jamaah Indonesia di sejumlah kedatangan mereka. Saya sempat juga mereka tanyai.

Mereka, dalam bahasa Inggris yang baik, menanyakan bagaimana layanan keimigrasian, juga bagaimana kondisi di bus. Bagaimana kebersihan di toilet, dan bagaimana mushala yang digunakan para jamaah melaksanakan shalat sunah ihram dua rakaat.

Saya kemudian mengeluhkan soal jamaah yang diminta membawa koper sendiri selepas pemindaian imigrasi dan mereka nampak mencatat dengan serius. Buat Pak Arsyad, ini hal baru. Gestur yang nampaknya remeh di Tanah Air itu, menurutnya punya signifikansi besar di Arab Saudi. “Ini menunjukkan bahwa setidaknya mereka bersedia mendengarkan kritik. Sebelum-sebelumnya tak pernah,” kata dia.

Hingga jamaah Indonesia hampir seluruhnya tiba di Tanah Suci, menurut Arsyad belum sekalipun pihaknya menerima surat teguran dari wizarah alias Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi. Ini juga baru pertama kalinya terjadi.

Mudah kiranya menilai bahwa yang terjadi di Madinah, Jeddah, dan Makkah pada musim haji kali ini bukan muncul secara organik. Bisa jadi ia memang upaya terstruktur untuk membangun citra. Toh Kerajaan Arab Saudi memang tak menyembunyikan upaya mereka merengkuh moderasi guna mencapai Visi 2030 yang posternya tersebar di berbagai tempat dan menempel di baju para petugas. Ada juga yang bilang ini persoalan geopolitik.

Tapi harus diingat, Tanah Suci pada musim haji adalah ranah yang tak mudah. Banyak jamaah datang dengan kekhawatiran mereka masing-masing. Lelah di perjalanan dan tiba-tiba terpapar mentari yang jauh lebih terik dari di Tanah Air.

Dalam kerisauan itu, sekutip senyum bisa berarti banyak. Baik saat disunggingkan para petugas Arab Saudi, maupun di wajah jamaah-jamaah Indonesia saat mendengar para petugas tersebut belajar memberi arahan dalam Bahasa Indonesia. Apapun perubahan yang sedang terjadi di Arab Saudi, bolehlah kita doakan agar hal itu berujung baik buat mereka, dan tentunya berujung baik bagi jamaah-jamaah haji Indonesia. 

Redaktur : Andi Nur Aminah