Jejak Jamaah Haji Masa Kolonial
Senin , 06 Agu 2018, 13:13 WIB

Fitriyan Zamzami/Republika
Suasana Kota Tua Jeddah di kawasan Al Balad.

Laporan Wartawan Republika.co.id, Fitriyan Zamzami dari Jeddah, Arab Saudi.

IHRAM.CO.ID, Jika sekali waktu main ke Jeddah, tengok-tengoklah kota tua daerah tersebut. Oleh warga tempatan, ia disebut juga Al Balad, tak jauh dari kantor-kantor pemerintahan di Jeddah. Mengunjungi lokasi itu, bukan hanya perjalanan melintasi ruang tapi juga mundur dalam waktu, jauh kembali pada masa saat Khalifah Utsman bin Affan mendirikan wilayah tersebut pada abad ke-7.

Bangunan-bangunannya dibiarkan belum terpugar sudah ratusan tahun usianya. Pintu-pintunya masih menyimpan keindahan ukiran-ukiran Arabesque masa lampau. Masing-masing merupakan stempel dari berbagai kerajaan yang pernah menguasainya.

Jalan-jalan sempitnya, seperti jamak pada abad pertengahan, seluruhnya berkonblok. Ia adalah gang-gang penuh kenangan, labirin seluas 1,5 kilometer per segi dengan bangunan-bangunan kuno bertingkat yang bisa mencapai 30 meter.

Dahulu ia dikelilingi tembok perlindungan yang mulai diruntuhkan pada 1940-an. Kini tinggal gerbang-gerbang raksasa yang tersisa.

Berjalan-jalan di dalam kompleks tersebut, mudah membayangkan tiba-tiba muncul tokoh-tokoh yang diceritakan Ratu Syahrazad dalam Kisah 1001 Malam. Para lanun dan pangeran, jin dan burung-burung mistis.

photo
Suasana Kota Tua Jeddah di kawasan Al Balad.

Tapi ia juga tempat yang tak kalah penting dalam sejarah perjalanan haji masyarakat Tanah Air. Setidaknya itu dugaan saya saat mengunjungi lokasi tersebut pada Sabtu (4/8) siang lalu.

Seperti dihimpun Catia Antunes dan Jos Gommans dalam Exploring the Dutch Empire, 1600-2000 (2014), Kerajaan Belanda sedianya ingin mendirikan konsulat di Makkah untuk mengawasi jamaah haji dari Hindia Belanda pada pertengahan abad ke-19. Kendati demikian, karena wilayah itu terlarang untuk non-Muslim, mereka akhirnya mendirikan konsulat di Jeddah pada 1872.

Menurut catatan Konsul W Hanegraaf dalam laporannya pada 1873 yang dimuat di buku tersebut, konsul itu harus didatangi jamaah haji dari Tanah Air begitu tiba di Jeddah. Di konsulat itu, jamaah kemudian menyerahkan surat izin perjalanan yang dikeluarkan otoritas Belanda di masing-masing daerah di Tanah Air untuk kemudian diregistrasi.

Begitu juga nanti, saat mereka pulang berhaji dan hendak kembali ke kampung halaman. Mereka harus mengambil surat izin perjalanan yang disita pada kedatangan. “Jadi, jika ada yang meragukan keaslian perjalanan haji seseorang mereka tinggal menyurati konsul di Jeddah yang bisa langsung mengetahui daftar jamaah dari Pattie atau Soerabaja, misalnya,” tulis Hanegraaf dalam laporan tersebut.

Pada masa-masa itu, seturut dibukanya Terusan Suez, memang terjadi peningkatan jamaah haj Indonesia yang ke Tanah Suci menggunakan kapal uap. Menurut catatan-catatan Belanda, jamaah yang mulanya berkisar 2.000 orang pada 1860-an melonjak hingga mencapai 7.000 orang pada 1880-an. Bahkan sempat nyaris menyentuh angka 12 ribu menjelang pergantian abad.

photo
Suasana Kota Jeddah di kawasan Al Balad.

Pada saat itu, otoritas kolonial Belanda juga kerap menginterogasi para jamaah soal perkembangan isu-isu perlawanan terhadap kolonialisme di Makkah. Hal tersebut secara tak langsung menunjukkan di mana kira-kira lokasi konsulat Belanda di Jeddah pada masa itu. “Buat kami, yang hidup seperti tahanan di dalam dinding Kota Jeddah, Makkah sebagai pusat Dunia Islam sama sekali tertutup,” tulis Konsul J A de Vicq yang menjabat dari 1885 hingga 1889 dalam laporannya.

Artinya, lokasi konsul Belanda saat itu tak mungkin di luar batas wilayah Kota Historis Jeddah. Hal ini dikuatkan dengan penelitian Ferry de Goey, profesor dari Universitas Erasmus, Rotterdam, yang kemudian dibukukan menjadi Consuls and the Institutions of Global Capitalism, 1783-1914 (2015). Dalam buku itu, De Goey menuliskan bahwa kekuatan ekstrateritorial konsulat Belanda dan konsulat negara-negara barat lainnya dibatasi oleh tembok-tembok dan gerbang-gerbang Kota Tua Jeddah.

Dari era awal berdirinya konsulat tersebut, salah satu potret yang paling kerap beredar adalah yang diambil orientalis Belanda, Snouck Hurgronje. Gambar itu menunjukkan sekelompok jamaah haji dari Mandailing, Sumatra, berjongkok di sebuah bangunan yang tak jelas bentuk keseluruhannya. Sejauh ini pihak Kerajaan Belanda maupun Kerajaan Arab Saudi tak melansir lokasi-lokasi persis konsulat bersejarah itu.

Sementara gambar-gambar lama konsulat tersebut dari 1921 hingga 1945 kerap tak konsisten bentuk bangunannya. Di antaranya yang dilansir Museum Maritim Rotterdam yang menggambarkan konsulat Belanda di Jeddah pada 1924 dan tangkapan rekaman dari film dokumenter Kruger Filmbedrijf pada 1928. Satu-satunya petunjuk dari gambar-gambar pada masa itu adalah ia terletak di sebelah selatan Gerbang Madinah.

Saat ini, gerbang tersebut masih berdiri di seberang jalan Masjid Qishas di wilayah Al Balad, Jeddah. Saat saya ke sana, gerbang itu dijaga oleh dua Abdullah yang sama-sama warga Saudi keturunan Afrika.

photo
Suasana Kota Tua Jeddah di kawasan Al Balad

Muhammad, seorang pekerja konstruksi asal Somalia di Kota Tua Jeddah menguatkan dugaan ini. Ia ditemui hanya sekitar 100 meter dari Gerbang Madinah menuju pusat kota historis. “Di sini bukan tempat Muslim. Di sini dulunya tempat orang-orang kafir,” kata dia sembari membuat gerakan melingkar di atas kepala dengan telunjuknya. Ia mengatakan, mendengar hal itu sudah lama sekali dari orang-orang tua yang sempat tinggal di wilayah historis tersebut.

Syarif, seorang lanjut usia yang juga berasal dari Mogadishu, mengiyakan hal tersebut. Menjelang siang tersebut, ia nampak tengah bersantai-santai dengan para pekerja dari Somalia. Ia sudah mulai berkeliaran di Kota Tua Jeddah sejak lebih 30 tahun lalu.

Jauh sebelum wilayah itu mulai ditinggalkan penduduknya pada 2007 seturut rencana ajuan penetapan sebagai cagar budaya oleh UNESCO yang akhirnya dikukuhkan 2014 lalu. “Jamaah haji dari zaman dulu sekali katanya di sini tempatnya,” kata pria berusia 75 tahun tersebut.

photo
Suasana Kota Tua Jeddah, di kawasan Al Balad

Setidaknya untuk hari itu, saya pulang tanpa bisa mengetahui secara persis di mana gedung-gedung tempat jamaah haji lawas dari Tanah Air mengantre dan mengurus beleid menuju Tanah Suci. Tapi bisa dipastikan, mereka pernah di kota tua ini.

Turun di pelabuhan lama di Kota Tua Jeddah sebelum nantinya digeser jauh ke selatan. Mereka barangkali menelusuri juga labirin-labirin kompleks di sana dan seperti jamaah saat ini, tersesat sekali waktu. Mereka juga menginjak jalan-jalan kuno berkonblok yang saya langkahi hari itu.

Di antara mereka, sepanjang 1906 hingga 1911, ada seorang pemuda yang nantinya punya peran penting dalam pembentukan sebuah negara bernama Indonesia. Tapi seperti kata Syahrazad untuk menunda eksekusinya, “Itu kisah untuk lain waktu, Tuanku”. 

 

Redaktur : Andi Nur Aminah