Kisah Comite Kesengsaraan Moekimin Indonesia di Makkah
Kamis , 26 Jul 2018, 13:55 WIB

Gahetna.nl
kapal haji di laut tengah.

Dalam pertemuan dengan Adj. Adviseur voor Inlander Zaken, Dr.  L. De Vries,  Comite KMIM meminta izin untuk menyebarkan list derma ke seluruh pelosok negeri guna mengumpulkan dana untuk meringankan penderitaan jamaah haji Indonesia yang terlantar di Mekah.

De Vries menyambut baik pembentukan Comite dan gagasan mengumpulkan dana. De Vries bahkan mempersilahkan Comite menggunakan fasilitas kantornya untuk menyurati Gubernur Borneo, Gubernur Sumatera, dan Gouverneur Groote Oost di Makassar. Semua pejabat yang dihubungi oleh Comite, mendukung usaha Comite.

Comite juga mengontak tokoh-tokoh Islam di berbagai kota dengan permintaan supaya mereka juga membentuk Comite yang sama. Tanggapan positif diperoleh dari H. Abdoel Malik Karim Amroellah (HAMKA) di Medan, dan dari Abdoellah Daeng Mapoedji di Makassar.

Dengan kerja keras Comite dan dukungan kaum Muslim, dalam masa sekitar satu tahun terkumpul dana 50.503.02 gulden. Ditambah dana bantuan dari pemerintah, keseluruhan dana yang terkumpul sebesar 62.603.49 gulden.

Begitu banyak dana yang diterima Comite, sampai-sampai melalui siaran radio, Comite KMIM menyerukan kepada seluruh dermawan Muslim untuk menghentikan bantuan kepada Comite. "Karena telah dihitung-hitung oleh Comite, uang yang telah diterimanya telah berlebih-lebihan daripada mestinya," ujar juru bicara Comite.

Dengan bangga Ketua Comite, Abdoelsamad, mencatat: "Dengan mengucap syukur ke haderat Allah, rasa-rasanya belum ada sesuatu Comite di Indonesia ini yang menolak derma. Tidak ada buaya menolak bangkai, kata pepatah. Akan tetapi dalam hal ini rupa-rupanya dengan berkat besarnya rahmat dan nikmat yang dikaruniakan Allah kepada Comite, sehingga Comite 'menyetop' datangnya uang derma yang diterimanya."

Bekerjasama dengan MIAI

Tidak lama sesudah dana bantuan dikirim ke Mekah melalui Departement van Onderwijs en Eeredients, pada 24 April 1941 merapatlah kapal pertama yang membawa rombongan jamaah haji Indonesia di pelabuhan Tanjung Priok.

Sejak hari itu,  pekerjaan Comite bagai tiada henti-hentinya. Mereka bukan saja menjemput jamaah,  tetapi juga mengatur penginapan selama jamaah di Betawi, memberi makan dan minum, dan memulangkan ke daerah masing-masing.

Karena begitu sibuknya pekerjaan Comite,  maka Madjelis Islam 'Ala Indonesia (MIAI) sebagai organisasi gabungan berbagai organisasi kemasyarakatan Islam, mengulurkan tangan kepada Comite KMIM untuk bekerjasama. Apalagi jamaah yang diurus tidak kurang dari 2.500 orang. Dikuatirkan dana Comite KMIM tidak cukup.

Setelah beberapa kali berunding, akhirnya disepakati menggabungkan Comite KMIM ke dalam MIAI. Dibentuklah komite gabungan yang diberi nama Gaboengan Comite MIAI Penerimaan Moekimin dengan personalia sebagai berikut: Kanjeng Bupati Betawi (Beschermheer), Abikoesno Tjokrosoejoso dan H. B. O. Abdoellah (Adviseur), Drs. Soebroto (Ketua), Abdoelsamad (Ketua Muda),  H. A. Taminsaid, R. H. O. Djoenaidi,  dan Doedi Danaatmadja (Penningmeester), Anwar Tjokroaminoto (Alg. Sekretaris), Soejono, G. M. Ch. Kasoema, Bafagih, dan Abdoessalam (Sekretaris), Ny. K. Goenawan, Fermantsjah, Soemarmo, Anang Adjoes, Zainoel Arifin,  dan Ma'soem (Commissarisen).

Dalam pelaksanaan tugas,  Comite KMIM membiayai ongkos pulang jamaah ke rumah masing-masing, uang belanja dalam perjalanan, dan biaya pengiriman barang-barang jamaah. Sedangkan MIAI mengurus penginapan jamaah, menjemput dari pelabuhan, memberi makan dan minum selama di Betawi, serta mengantarkan jamaah ke statsiun.

                                            

Redaktur : Muhammad Subarkah

BERITA LAINNYA