Kisah Snouck Hurgronje Atas Selembar Foto Haji Mandailing
Jumat , 09 March 2018, 05:07 WIB

Troppen Museum
Jamaah haji asal Mandailing Sumatra Utara, tahun 1884 M.

Di atas itu foto jamaah haji asal Hindia Belanda, yakni wilayah Sumatra Utara pada tahun 1880-an.  Potret ini adalah gambar sekelompok para peziarah Makkah dari Mandailing.

Kala itu potret ini diambil oleh Snouck Hurgronje saat tinggal di Arabia, yakni ketika berada di konsulat Belanda di Jeddah. Hurgronje memamg sengaja memotret para peziarah haji dan orang-orang yang berada untuk belajar di kota suci umat Islam. Jadi, tak hanya membawa otak di kepala, buku catatan, dia pun membawa seperangkat peralatan kamera yang kala itu tidak sederhana dan semudah dioperasikan seperti sekarang. Snouck Hurgronje di sini membuktikan bila dirinya adalah sosok peneliti yang jempolan. Suka atau tidak suka, dia memang harus mendapat pujian atas ketelitian dan ketelatenan objek kajiannya.

photo
Haji asal Bugis di Jeddah 1884 M. (foto: tropen museum)

Dari pengantar keterangan yang ada dalam protet ini, yakni keterangan pihak Troppen Musseum di Belanda, potret tersebut memang kelompok Hadji (haji) dari Mandailing (Sumatra) ketika berada di kantor Konsulat Belanda di Jeddah. Kebanyakan peziarah datang ke konsultat tersebut untuk mengurus izin tinggal. Kala di Jeddah itulah, Snouck Hurgronje berkonsentrasi, terutama untuk menggambarkan jamaah haji dari berbagai pulau di kepulauan Indonesia. Semua hadirin dipotret di halaman Konsulat Belanda yang dibanjiri atau dipenuhi dengan cahaya alami (bukan memakai lampu atau penerangan buatan lainya).

Tampak jelas di latar belakang foto-foto ini berbagai tanaman, jendela, serta karpet penutup lantai yang sama yang selalu bisa dikenali. Snouck Hurgronje sering membuat potret kelompok orang ini secara bervariasi dalam ukuran antara tiga hingga 13 orang.

 

Selain itu, oleh Snouck Hurgronje sering kali para peziarah berpose duduk atau dalam posisi jongkok. Bahkan, kadang-kadang para peziarah difoto bersama sembari berdiri dengan latar belakang para pemandu dari Jeddah.

Kelompok tersebut difoto sesuai dengan hierarki lokal. Selain potret kelompok besar peziarah Hindia Belanda, Snouck Hurgronje juga membuat potret kelompok yang lebih kecil dan potret elite India lokal serta peziarah dari negara lain seperti Maroko, Afghanista,n dan Tanzania. Sesi foto dengan peziarah Belanda-India juga digunakan untuk mendapatkan berbagai sumber informasi.

Dalam percakapan dengan peziarah, Snouck Hurgronje berkonsentrasi untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin tentang kehidupan beragama di tempat asal. Bagaimana ajaran agama dari daerah yang bersangkutan terstruktur, buku teks mana yang digunakan, dan apa pandangan terhadap haji dalam kaitannya dengan hukum Islam?

Kontak dengan peziarah India-Belanda tidak hanya merupakan satu arah lalu lintas. Semua jenis keluhan terkait kebijakan ketat pemerintah Hindia Belanda disuarakan. Sesorang asal Garut yang bernama Sumarran Hadji Omar memberikan contoh mengenai apa yang dimaksud tindakan antifanatisme seperti pelarangan beberapa buku yang telah dilakukan penduduk setempat.

photo
Jamaah haji asal Pasuruan di Jeddah tahun 1884 M. (foto: Troppen Museum).


Snouck Hurgronje mungkin "dipuji" oleh pemerintah Belanda memberikan informasi yang lebih detail tentang pan-Islamis yang oleh pemerintah Kolonial berpotensi sebagai gerakan mencurigakan. Atas informasinya itu maka Omar Garoet oleh Snouck Hurgonje karena dianggap tidak sebagai seorang yang fanatik. Anggapan ini berbeda atau tidak sejalan dengan sikap penasihat pemerintah Belanda, Carel Holle (1829-1896), yang menganggap Oemar Garoet sebagai seorang pria berbahaya.

Dalam potret peziarah tampak adanya dua bidang minat Snouck Hurgronje, yakni pada kajian etnologi dan politik kolonial. Saat menggambarkan jamaah haji India, karakter individu tampak tidak menjadi sentral, tetapi pemotretannya dipilihkan sesuai dengan tipe tempat (golongan) mereka berada. Individu tersebut dianggap perwakilan anonim yang pasti--dalam hal ini kelompok geografis. Meski ini juga bisa didasarkan pada sistem pemikiran yang sangat rasial.

Pada abad ke-19, etnologi memang kian berkembang menjadi disiplin ilmiah yang independen. Selain mengumpulkan benda-benda eksotis, hewan dan tumbuhan, setelah penemuan fotografi, para ilmuwan membawa pulang semua jenis foto antropologis masyarakat adat dari seluruh dunia.

Semua ini muncul karena para ilmuwan Barat kala itu banyak dipengaruhi oleh Charles Darwin yang menulis On the Origin of Species (1859). Kajian etnologi yang ditulisnya mengembangkan tangga peradaban evolusioner dari berbagai budaya. Budaya akan berkembang dari yang sederhana (primitif) menjadi makin kompleks (beradab). Antropolog berusaha untuk memetakan budaya asli asli ini dalam 'bentuk primal' mereka sebelum mereka dikorupsi oleh dorongan ekspansionis Barat yang terus meningkat.

Redaktur : Muhammad Subarkah