7 Rute Haji Bersejarah: Sebagian Rusak dan tak Diaktifkan
Senin , 31 Dec 2018, 09:31 WIB

Dar Yasin/AP
Ratusan ribu jamaah haji dari berbagai negara melaksanakan tawaf wada di Masjid Haram, Makkah, Kamis (23/8) waktu setempat. Selanjutnya mereka berangsur-angsur akan kembali ke tanah air masing

Kedua, ute Basra-Makkah, yang merupakan jalur haji terpenting kedua. Rute ini melewati Wadi Al-Batin di timur laut Semenanjung Arab, melintasi beberapa gurun. Rute ini kemudian berjalan paralel ke jalan Kufa-Makkah hingga kedua jalur bertemu di stasiun Umm Kharman di Awtas, 18 km dari Zat Irq. 

Rute ini membentang sekitar 1.200 km panjangnya dan memiliki 27 pemberhentian utama. Empat di antaranya kini ada di Irak dan Kuwait, sedangkan sisanya berada di dalam wilayah Arab Saudi.

Ketiga, alur haji Mesir. Rute ini umumnya digunakan jamaah dari Mesir, Maroko, Andalusia, dan wilayah Afrika. Pada perjalanan pertama, mereka menuju ke Semenanjung Sinai untuk mencapai Aqaba, perhentian pertama di rute itu. Selanjutnya, mereka melakukan perjalanan ke Midian. Setelah mencapai Midian, jamaah Mesir beralih ke salah satu dari dua jalur, satu jalan darat dan pesisir lainnya.

Sepanjang era Mamluk dan Ottoman, rombongan jamaah dari Mesir akan berkumpul di Barakat Al-Haji, dekat Kairo. Kemudian, mereka melakukan perjalanan melalui jalur Suez, melewati Buwaib dan Ajrud hingga mereka menyeberangi Semenanjung Sinai ke Teluk Aqaba. Mereka kemudian akan turun ke Negeb Aqaba untuk mencapai Aqabat Ayla.

Rombongan jamaah lantas meninggalkan Aqabat Ayla dan melakukan perjalanan ke Badr. Dari Badr, rombongan akan melakukan perjalanan ke Rabigh, kemudian Khulays dan Asfan sebelum akhirnya mencapai Makkah. Untuk mencapai tanah suci, mereka menghabiskan waktu selama satu bulan perjalanan dari Kairo.

Ratusan prasasti Arab dapat ditemukan di sepanjang rute ini. Benda-benda tersebut diukir jamaah di atas batu di sekitar jalanan. Prasasti itu tentunya bukan sembarang benda, melainkan digunakan untuk meninggalkan jejak perjalanan haji mereka.

Keempat, adalah rute Shami, yang menghubungkan Syam ke Makkah dan Madinah. Rute ini juga dikenal sebagai Al-Tabukiya, karena rute ini melewati Tabuk. Rute Shami dimulai di Damaskus dan melewati Busra Al-Sham di Daraa.

Kelima, adalah rute haji Yaman yang telah menghubungkan Yaman dan Hijaz sejak zaman kuno. Rombongan berangkat menuju Makkah dari Aden, Taiz, Sanaa, Zabid dan Saada di Yaman utara. 

Jamaah Yaman menempuh tiga jalan, yakni jalan pantai, jalan pedalaman dan jalan teratas. Masing-masing rute perjalanan menawarkan kesulitan tertentu.

Salah satu rute favorit jamaah asal Yaman ialah melewati Yaman utara dan melintasi wilayah pegunungan Asir, hingga mencapai Taif dan kemudian Makkah. Jalan itu ditempuh dengan melewati medan yang sulit. Akan tetapi, jamaah dan pelancong lain lebih suka melewati jalur ini karena banyak desa di daerah yang dilewati menawarkan air dan makanan.

Keenam, ialah rute jamaah asal Oman. Rute ini dimulai dari Oman dan melewati Yabrin, kemudian berlanjut melalui Bahrain, Yamamah, dan Dharih. 

Menurut sumber-sumber geografis, jamaah dari Basra dan Bahrain bertemu di Dharih dan dari sana kemudian berpisah. Jamaah asal Basra menuju ke utara, sementara jamaah asal Bahrain menuju ke timur.

Terakhir, jalur yang ketujuh adalah rute haji Bahrain-Yamamah-Makkah. Rute ini adalah cabang penting dari rute Basra, yang melewati wilayah tengah Semenanjung Arab. Jamaah yang bepergian dengan rute ini biasanya berupaya melindungi dari dari para penjahat. 

Geografer Muslim awal merujuk pada tempat pertemuan di rute perjalanan Yamamah dan rute haji Basra, karena Yamamah memiliki dua jalur ke Makkah. Satu melewati Al-Qaryatayn, sementara yang lainnya melintasi Marat. Setelah jalur Bahrain menemui rute Basra di Dharih, perjalanan itu melewati beberapa perhentian, termasuk Jadilah, Faljah, Al-Dfeinah, Qiba, Maran, Wajrah, Awta, Zat Irq, dan Al-Bustan, hingga mencapai Makkah. (Kiki Sakinah)

 

 

 

Redaktur : Nashih Nashrullah
Reporter : Kiki Sakinah/ Um Nur Fadhilah

BERITA LAINNYA