Petugas Haji Perlu Disertifikasi
Selasa , 15 Jan 2019, 20:58 WIB

Republika/Fitriyan Zamzami
Petugas kesehatan menangani jamaah yang menderita sakit (ilustrasi)

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat Haji dan Umrah Indonesia, Ade Marfuddin mengatakan, petugas haji di bidang kesehatan dan bimbingan ibadah haji adalah profesi yang butuh keahlian. Karenanya mereka harus punya sertifikasi profesi dari Badan Standardisasi Nasional (BSN) supaya kinerja mereka bisa diukur.

Baca Juga:

"Tiap tahun kita tidak perlu lagi melakukan seleksi petugas haji, pendaftaran, tidak perlu mengeluarkan biaya untuk pelatihan dan lain-lain karena mereka yang sudah punya sertifikasi profesi diangkat jadi petugas yang jangka waktunya (bisa bertugas, Red) selama tiga tahun," kata Ade kepada Republika.co.id, Senin (14/1).

Ade yang juga Ketua Umum Rabithah Haji Indonesia menyampaikan, kalau petugas haji disertifikasi justru akan memperkecil pengeluaran biaya. Sebab tidak ada lagi rekrutmen petugas haji setiap tahun dan tidak ada biaya pelatihan petugas haji, cetak buku, narasumber serta yang lainnya.

Mereka dapat bertugas selama tiga tahun. Kecuali petugas haji yang lama dan memiliki sertifikasi mengalami sakit, meninggal dunia dan mengundurkan diri, maka diganti dengan yang baru. Tapi, petugas yang kurang bagus dalam menjalankan tugasnya juga bisa langsung dipecat dan dicabut sertifikasinya. Kemudian diganti dengan yang baru.

Menurutnya, petugas haji yang memiliki sertifikasi tidak hanya bertugas saat menjelang musim haji sampai prosesi ibadah haji selesai saja. Mereka bisa membantu memberikan pelatihan manasik haji sejak dini kepada calon-calon jamaah haji yang jumlahnya 3 juta orang.

"Saya ingin petugas haji bisa membuat calon jamaah haji pintar, cerdas dan paham manasik haji, bukan paham manasik haji dadakan saat calon jamaah mau berangkat doang," ujarnya.

Menurutnya, kalau uang jamaah haji dialokasikan untuk menyelenggarakan program manasik sejak dini, jamaah senang dan untung. Sebab jamaah bisa benar-benar paham manasik haji. Pemerintah juga akan terbantu dengan banyaknya calon jamaah haji yang paham manasik.

Ade juga mengatakan, petugas kesehatan haji yang memiliki sertifikasi juga bisa memantau calon jamaah haji dari jauh-jauh hari. Jangan sampai calon jamaah haji baru diketahui melakukan cuci darah atau gagal ginjal sebelum berangkat berhaji.

 

 

Redaktur : Andi Nur Aminah
Reporter : Fuji E Permana

BERITA LAINNYA