Janji Prof Raihan di Depan Kabah yang Membawa Berkah
Senin , 03 Des 2018, 10:29 WIB

Foto: Istimewa
Prof Raihan dan istri di depan Kabah

REPUBLIKA.CO.ID, Setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta pesawat Emirates A380 melesat menerabas gumpalan awan untuk sampai pada posisi aman, berada di ketinggian jelajah 35 ribu kaki atau setara 10.600 meter. Pada ketinggian itulah ratusan penumpang baru merasakan kenyamanan berada di dalam maskapai milik tokoh utama Sheikh Ahmed bin Saeed Al Maktoum, karena roda yang melangkahi aspal landasan pacu sudah terlipat.

Pada posisi ini guncangan di pesawat berkurang dan pesawat terasa diam, namun jarak yang ditempuhnya bertambah dan mengurangi durasi waktu perjalanan menuju Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Kondisi pesawat yang tenang ini, tidak membuat puas perasaan hati Raihan. Mengapa? Karena pesawat yang membawanya ke maqam Ibraham, tidak menyertakan ayahanda yang dicintainya menuju Baitullah.

“Ayah saya meninggal tepat sembilan hari sebelum saya berangkat Umrah. Beliau sebenarnya ingin ikut, namun Allah berkehendak lain memanggil beliau lebih awal,” kenang Raihan (62 tahun) saat berbincang dengan Ihram.co.id, beberapa hari lalu.

Semakin jauh pesawat meninggalkan teritorial Indonesia dan mendekat ke wilayah teritorial Raja Salman, semakin bertambah pula perasaan tidak puas yang dirasakan Raihan. Bahkan profesor di bidang ilmu hukum lingkungan ini, merasa tidak terima dengan ketentuan Allah SWT, karena cita-cita Umrah pertamanya untuk bisa berangkat bersama dengan ayahanda tercintanya, tidak tercapai. 

Namun, perasaan tidak ikhlas itu, lekas ia kendalikan demi bisa iklas menerima Takdir dari Allah SWT bahwa manusia hanya bisa berencana, akan tetapi Allah SWT yang menentukannya.

Dari kerelaan hati menerima dan pasrah dengan apa yang telah menjadi ketentuan Allah SWT itulah pria kelahiran tahun 1956 ini, mendapat banyak pengalaman spiritual yang membuat hatinya kian tenang dan tentram, sampai sepulangnya kembali ke Tanah Air pada 2011. 

Kala itu, Raihan langsung menunaikan bisikan hatinya ketika berada di depan kabah. Bisikan hati Raihan ketika di depan kabah itu, ialah ia ingin memberangkatkan seluruh karyawannya yang bekerja di Universitas Islam Djakarta pergi ke Tanah Suci Mekkah Al Mukarramah untuk beribadah Umrah.

“Pada 2011 itukan saya berangkat umrah, dan spontan saja terbersit keinginan dalam hati saya untuk memberangkatkan seluruh karyawan saya beribadah ke Tanah Suci Makkah Al Mukarramah. Karena, saat itu saya merasakan ketenangan batin yang sangat dalam. Dan saya merasakan begitu dekat dengan Sang Pencipta Kehidupan pada saat melakukan ibadah di sana," ujarnya. 

"Kemudian secara langsung saya berdoa, agar keinginan saya, seluruh karyawan yang belum bisa berangkat ke sini, suatu saat bisa diundang oleh Allah, bisa menjalan kan ibadah umrah atau haji,” katanya. 

Dia beralasan, ingin agar ketenangan yang dirasakan ketika ibadah di Tanah Suci juga dirasakan seluruh karyawannya. Alhamdulilah, setelah niat itu terpatri di dalam hatinya, kondisi keuangan Universitas yang ia gawangi terus membaik. Sehingga mampu memuluskan niatnya memberangkatkan seluruh karyawannya ibadah Umrah. 

“Alhamdulillah dengan niat yang baik dari pengelola dan pendirinya untuk meningkatkan kualitas ibadah para karyawan, kita sudah yang kedelapan kalinya setiap tahun secara rutin memberangkatkan karyawan umrah,” katanya.

Raihan mengatakan, program umrah ini merupakan program tambahan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh karyawan yang bekerja di Universitas Islam Djakarta Sebenarnya, kata dia, niatnya ingin sekali memberangkat teman-temannya di kampus yang ia kelola itu, ibadah haji. “Tapikan waktu tunggu ibadah haji lama. Jadi saya pilih memberangkatkan umrah,” ujarnya.

Ayah dari Faza (30) , Azka (28), dan Nada (21) ini menegaskan, diberangkatkannya karyawan dan tenaga pengajar ke Tanah Suci bukan untuk memantik semangat kerja para karyawan agar kampus yang didirikan ayahnya Rasjidi Oesman tahun 1951 itu, survive di dunia pendidikan. Akan tetapi tujuan diberangkatkannya mereka itu, semua semata-mata karena ingin mendapatkan ridha Allah sekaligus sebagai pemenuhan terhadap janjinya ketika ia berada di depan Kabah.

“Intinya (diberangkatkannya semua karyawan) untuk meningkatkan kualitas ibadah mereka. Karena otomatis Insya Allah, doa-doa yang dipanjatkan mereka di sana akan dikabulkan. Masalah meningkat atau tidak kualitas kerja itu kembali kepada pribadinya masing-masing. Setelah pulang dari umrah ada yang bisa memperbaiki diri atau tidak, itu semua rahasia Allah,” katanya.

Prof Raihan memastikan, tidak ada kriteria khusus siapa yang harus lebih dulu diberangkatkan ke Tanah Suci. Akan tetapi, dia memiliki dua kriteria. Pertama, orang itu sudah lama mengabdi di kampusnya baik sebagai tenaga pengajar, administrasi atau sebagai petugas kebersihan di kampus. Dan kedua, apakah dia memiliki kedekatan dengan hal-hal keagamaan di masjid kampus atau kegiatan sosial lainnya di masyarakat sekitar kampus.

“Jadikan kita punya pengurus masjid yang sering jadi khotib. Kalau misalkan dia belum menikmati ibadah di Tanah Suci, rasanya ada yang kurang afdol. Jadi, dua kriteria itu yang kami utamakan termasuk yang belum pernah sama sekali merasakan nikmatnya ibadah di Tanah Suci,” kata Raihan.

Sedangkan masalah peningkatkan kinerja para karyawan pascaibadah Umrah, menurut Raihan, itu bukan hal yang utama. “Akan tetapi yang diutamakan adalah peningkatan kualitas ibadah mereka masing-masing,” katanya.

Redaktur : Agus Yulianto
Reporter : Ali Yusuf