'Mau Umrah Itu Sudah Niat, Meski Biaya Naik Tetap Dibayar'
Kamis , 13 Sep 2018, 16:47 WIB

Republika TV
Anggota Dewa Kehormatan Amphuri, Budi Firmansyah

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Anggota Dewan Kehormatan Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) Budi Firmansyah menyebut melemahnya rupiah terhadap dolar belum membawa pengaruh bagi jamaah umrah Indonesia. "Sebetulnya untuk dolar yang naik ini belum ada pengaruhnya. Dolar kan naiknya juga tidak terlalu tinggi dari Rp 13 ribuan ke Rp 14 ribuan. Hanya Rp 1.000 sampai 2.000 rupiah," ujar Budi saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (13/9).

Pelemahan nilai rupiah ini disebut bukan pertama kali terjadi. Travel pun sudah memiliki strategi sendiri untuk menanggulangi. Terlebih dulu kenaikannya lebih tinggi dari Rp 9.000 menuju Rp 12 ribu.

Budi menilai karena para travel umrah membayar menggunakan mata uang asing termasuk dolar, sehingga tidak banyak yang berubah. Pengaruh baru akan terasa bagi perusahaan yang menjual-belikan rupiah. "Masyarakat yang mau umrah kan pasti sudah niat. Mereka mau ibadah. Jadi sebetulnya meski ada kenaikan, tetap dibayar," lanjutnya.

Jika pun ada perubahan jumlah jamaah ibadah umrah, Budi menyebut bukan karena dampak rupiah dan dolar yang terjadi saat ini. Perubahan terjadi karena kebijakan pemerintah Arab Saudi yang menetapkan adanya visa progresif.

Tambahan biaya sebesar 2.000 riyal atau senilai Rp 8 juta bagi jamaah yang sebelumnya sudah umrah dan ingin berangkat kembalilah yang membebani calon jamaah umrah. Nilai Rp 8 juta untuk sebuah visa dinilai sudah hampir setengah harga perjalanan umrah itu sendiri.

Peraturan yang mulai berlaku 2017 lalu membuat masyarakat yang ingin kembali beribadah umrah berpikir ulang. Budi pun mengusulkan baiknya visa ini dipukul rata saja semuanya seperti di Eropa. "Visa progresif ini nominalnya besar untuk satu orang. Kalau mau harga segitu tapi dipukul rata, bisa masuk ke semua wilayah di Arab Saudi. Dengan begitu pemasukan mereka kan juga banyak," ujar Budi. 

Redaktur : Andi Nur Aminah
Reporter : Zahrotul Oktaviani