Risiko Umrah Berkali-kali
Kamis , 13 September 2018, 15:46 WIB

Republika/Fitriyan Zamzami
Soimatun (56 tahun) dipayungi petugas haji di Bandara Amir Muhammad bin Abdulaziz, Madinah, Rabu (12/9). Saat itu, Ia dan suaminya Muhammad Ilyas (kanan) bertolak ke Tanah Air.

IHRAM.CO.ID, Muhammad Ilyas (62 tahun) masih tak percaya dengan keberuntungannya. Saat ditemui di Bandara Amir Muhammad bin Abdulaziz, Rabu (12/9) siang, bicaranya masih bergetar menahan tangis. 

“Saya bener-bener ndak menyangka bisa ketemu lagi dengan istri, saya kira sudah harus pisah di sini,” ujarnya di Bandara Madinah, Rabu (12/9).

Di sebelahnya, Soimatun Khusnul Khotimah (56 tahun), tampak senyum-senyum sendiri. Ia pegang erat tangan suaminya sembari berupaya menenangkan dan memandanginya penuh sayang.

Mereka tak tampak seperti pasangan yang sudah 27 tahun lamanya menikah. Lebih mirip saat Ilyas pertama kalinya berkenalan dengan perempuan yang menurutnya kembang desa pada masanya tersebut.

Datang bersama dari Rejo Sari, Lamongan, hanya pada jam-jam terakhir kepulangan mereka dipastikan bisa pulang bersama. Sebab, sekira sepekan lalu, baru dua hari tiba di Madinah dari Makkah, Soimatun langsung ambruk dan harus dilarikan ke rumah sakit Arab Saudi di Madinah.

Enam hari lamanya, Soimatun harus menjalani perawatan. “Orang-orang di Masjid Nabawi doanya macem-macem. Saya hanya menangis terus minta supaya istri diberi kesembuhan,” kata Ilyas yang merupakan pensiunan sekretaris desa tersebut.

Di Tanah Air, kata Ilyas, mereka dikaruniai tiga putra-putri dan delapan cucu. “Saya kepikiran terus, bagaimana kalau saya pulang ndak sama Mbah Putrine. Pasti sedih yang di rumah,” ujarnya.

Kabar baik kemudian datang pada Selasa (11/9), sehari sebelum jadwal kepulangan mereka ke Tanah Air. Saat itu, Soimatun menuturkan, ia mulai dilepas infus.

Keesokan paginya pada sekitar pukul 07.00, hanya sekitar empat jam dari jadwal pendorongan ke bandara, ia dinyatakan boleh berangkat pulang dan kemudian dikembalikan ke hotel. “Ya tegangisan saya sama Bapakne. Kata orang-orang, dia nangis terus,” kata Soimatun sambil tersenyum melirik suaminya.

Soimatun menuturkan, ia didera sakit akibat kelelahan. Sepanjang penempatan di Makkah, ia dan suaminya delapan kali melakukan umrah dan dua kali bertawaf. Untuk seusia mereka, ritual tersebut menguras tenaga.

Terlebih, kebanyakan ritual itu mereka lakukan sebelum menjalani wukuf di Arafah dan rangkaian mabit serta melontar jamarat di Mina dan Muzdalifah pada puncak haji yang sangat melelahkan. Sementara di Madinah, jamaah haji kebanyakan masih mengejar arbain, alias shalat wajib empat puluh waktu di Nasjid Nabawi.

Nggak ada yang nyuruh, memang maunya kita begini kata Ilyas. Ia mengakui, mereka memang tak mengukur kemampuan diri.

Dalam melaksanakan umrah, jamaah mesti keluar Tanah Haram untuk berihram. Mereka kemudian masuk lagi dan menuju Ka'bah untuk bertawaf tujuh kali mengelilingi Ka'bah dan melakukan sa'i berjalan tujuh kali bolak-balik bukit Safa dan Marwah yang total jarak tempuhnya mencapai empat kilometer.

Bukan mereka sendiri yang berkali-kali melakukan umrah di Tanah Suci pada musim haji. Tatang Rizal (65 tahun) juga mengatakan, sedikitnya enam kali melaksanakan umrah di Makkah.

Ia melakukan umrah pertama setibanya di Makkah. Istrirahat sehari, ia melakukan lima umrah lainnya sebelum beristirahat dua hari sebelum puncak haji. “Ditambah tawaf dua kali,” kata pria asal Bale Raja, Tangerang, tersebut. Ia mengatakan, beruntung tak mengalami sakit akibat kelelahan di Tanah Suci.

Konsultan Ibadah Daker Madinah PPIH Arab Saudi Muhammad Kartono mengatakan, seturut Mahzab Syafiiyah yang dianut kebanyakan Muslim Indonesia, umrah memang boleh dilakukan berkali-kali. “Sehari dua kali juga boleh,” kata dia saat ditemui di Daker Madinah.

Hal ini berbeda dengan Mahzab Malikiyah, misalnya, yang melarang umrah berkali-kali berdasarkan riwayat bahwa Rasulullah hanya empat kali berumrah sepanjang hidupnya. Mahzab-mahzab lainnya juga menerapkan pembatasan. “Ada yang hanya boleh sepuluh hari sekali,” kata dia.

Selain itu, ada juga pandangan berbeda soal lebih baik mana, tawaf sunah atau umrah. Kebanyakan ulama berpandangan, bagi yang sudah tinggal di dalam Kota Makkah, tawaf sunah lebih baik. Bagi yang tinggal di luar Makkah, lebih baik melakukan umrah.

Kendati demikian, ia mengingatkan, jamaah memang harus pandai mengira-ngira kondisi badan mereka. Jamaah harus tetap harus melihat kondisi fisik, memungkinkan tidak untuk umrah berkali-kali.

“Jangan dipaksakan. Walaupun ada yang memperbolehkan tetap harus dalam kondisi sehat,” kata dia.

 

Ketua Pelayanan Kesehatan Komite Haji Arab Saudi Ehsan A Bouges mengatakan, pelaksanaan umrah berkali-kali yang dilakukan jamaah Indonesia memang jadi perhatian mereka. Ia mengatakan, hal tersebut berpotensi menyebabkan penyakit dan bisa berakibat fatal.

“Cina, Thailand, dan Malaysia, sudah melarang sama sekali umrah sebelum Masyair (puncak haji),” kata dia. Thailand dan Malaysia diketahui bermahzab Syafiiyah seperti kebanyakan Muslim di Tanah Air. 

Redaktur : Ratna Puspita
Reporter : Fitriyan Zamzami